Okepost.id, Jakarta – Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) mengalami tekanan berat sepanjang 2026. Emiten Grup Sinar Mas ini terkoreksi 82,30% secara *year to date* (YtD), seiring meningkatnya tekanan jual dan melemahnya kepercayaan investor.
Berdasarkan data yang disampaikan, kapitalisasi pasar DSSA kini berada di kisaran Rp137,73 triliun. Angka tersebut turun 33,53% dibandingkan Rp206,12 triliun pada September 2026.
Jika dibandingkan dengan akhir 2025, penurunan kapitalisasi pasar DSSA semakin tajam. Saat itu, nilainya mencapai Rp778,25 triliun dengan harga saham Rp4.040 per lembar. Kapitalisasi pasar DSSA kini telah menyusut sekitar 82,39%.
Tekanan juga terlihat pada perdagangan pekan ini. DSSA terkoreksi 36,73% dan masuk jajaran saham dengan penurunan terdalam. Saham ini turut menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 39,54 poin.
Sentimen MSCI, konsentrasi kepemilikan saham, serta sanksi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait perdagangan DSSA menjadi sejumlah faktor yang membayangi pergerakan saham tersebut.
Saham Emiten Sinar Mas Lainnya Masih Menguat
Di tengah penurunan tajam DSSA, sejumlah emiten Grup Sinar Mas justru mampu mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun ini.
PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk. (SMAR) membukukan kenaikan saham 38,89% YtD ke level Rp6.625 per lembar. Sementara itu, PT Sinar Mas Multiartha Tbk. (SMMA) menguat 38,79% ke Rp20.125 per lembar.
Kapitalisasi pasar SMMA juga meningkat dari Rp92,33 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp128,14 triliun pada Oktober 2026. Pertumbuhan tersebut mencapai 38,78% secara YtD.
Sebaliknya, PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk. (TKIM) melemah 16,84% ke Rp6.050 per lembar. PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) juga terkoreksi 18,24% ke Rp6.950 per lembar.
Meski mengalami penurunan, kinerja TKIM dan INKP masih lebih baik dibandingkan IHSG yang terkoreksi 40,04% secara YtD.
Perbedaan kinerja ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap DSSA belum tercermin secara merata pada seluruh emiten Grup Sinar Mas. Investor tetap perlu mencermati kondisi fundamental, sentimen pasar, serta risiko masing-masing saham sebelum mengambil keputusan investasi.(Pro)








