Penghapusan Saham dari MSCI Buka Peluang Dana Asing Masuk ke Blue Chip Perbankan

Bursa Saham

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 14 Mei 2026 - 09:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar ilustrasi

Gambar ilustrasi

Okepost.id, Jakarta – Keputusan MSCI menghapus sejumlah saham Indonesia dari indeks global pada Mei 2026 dinilai dapat memicu pergeseran arus dana asing ke saham-saham blue chip berfundamental kuat. Emiten perbankan besar seperti BBCA, BMRI, hingga BBNI diperkirakan menjadi tujuan utama rotasi likuiditas investor asing.

Tim riset Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai pengurangan jumlah saham Indonesia dalam indeks MSCI justru memperbesar bobot relatif saham dengan free float tinggi dan tata kelola perusahaan yang lebih baik.

Saham-saham unggulan seperti BBCA, BMRI, BBNI, dan TLKM disebut berpotensi memperoleh aliran dana asing baru setelah rebalancing MSCI berlaku efektif.

Menurut Kiwoom, tekanan jual akibat penyesuaian indeks tidak menyebar merata ke seluruh pasar saham. Tekanan terbesar justru terkonsentrasi pada saham yang resmi keluar dari MSCI Global Standard Index, terutama DSSA dan BREN.

Kedua emiten tersebut diperkirakan mengalami passive outflow dalam jumlah besar karena investor institusi global dan ETF berbasis MSCI harus menyesuaikan portofolio mereka. DSSA diperkirakan mencatat arus keluar dana sekitar Rp9 triliun, sedangkan BREN sekitar Rp6 triliun.

Meski begitu, Kiwoom menilai potensi foreign outflow secara keseluruhan masih lebih rendah dibandingkan perkiraan awal pasar. Saat ini, estimasi dana asing keluar berada di kisaran Rp27,8 triliun hingga Rp34,7 triliun.

Baca Juga :  IHSG Dibayangi Tekanan Besar, Analis Prediksi Koreksi Masih Berlanjut Akibat Kebijakan Ekspor Satu Pintu

Angka tersebut jauh di bawah kekhawatiran sebelumnya yang sempat memperkirakan outflow bisa menembus Rp50 triliun. Selain itu, sebagian tekanan jual dinilai sudah tercermin melalui aksi net sell investor asing sejak awal tahun 2026.

Enam Saham Keluar dari MSCI Global Standard Index

Dalam MSCI May 2026 Index Review, tidak ada saham Indonesia baru yang masuk ke MSCI Global Standard Index. Sebaliknya, MSCI menghapus enam emiten dari indeks tersebut, yaitu:

AMMN

BREN

TPIA

DSSA

CUAN

AMRT

Sementara itu, saham AMRT dipindahkan ke MSCI Small Cap Index.

MSCI juga mencoret 13 saham Indonesia dari MSCI Small Cap Index, di antaranya ANTM, AALI, BSDE, SIDO, MIKA, hingga MSIN.

IHSG dan Rupiah Masih Dibayangi Tekanan

Kiwoom mengingatkan kondisi pasar domestik masih rentan terhadap tekanan eksternal. Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup turun 0,68 persen ke level 6.858,90. Di saat yang sama, nilai tukar rupiah sempat melemah hingga menyentuh Rp17.500 per dolar Amerika Serikat.

Selain sentimen MSCI, investor juga mencermati ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury. Kondisi tersebut membuat investor global cenderung berhati-hati menempatkan dana di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Baca Juga :  IHSG Diprediksi Bergerak Fluktuatif di Tengah Rebalancing MSCI, Investor Waspadai Tekanan Jual

Kiwoom menyarankan pelaku pasar tetap wait and see hingga volatilitas mulai mereda. Secara teknikal, area support IHSG berada di kisaran 6.745 hingga 6.762, sedangkan resistance diperkirakan berada pada level 6.980 sampai 7.015.

OJK Nilai Valuasi Saham RI Semakin Menarik

Di tengah tekanan akibat rebalancing MSCI, Otoritas Jasa Keuangan atau OJK justru melihat peluang menarik di pasar saham domestik.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengatakan valuasi IHSG saat ini jauh lebih rendah dibandingkan saat indeks mencetak rekor tertinggi pada Januari 2026.

Menurut Hasan, price to earnings ratio (PER) IHSG kini berada di kisaran 16 kali dan relatif lebih murah dibandingkan rata-rata pasar saham di kawasan Asia.

OJK berharap investor dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk masuk secara selektif ke saham dengan fundamental kuat dan prospek pertumbuhan jangka panjang yang baik.

Hasan juga memastikan tekanan pasar akibat rebalancing MSCI masih dalam kondisi wajar. Hingga saat ini, OJK belum melihat adanya panic selling karena aktivitas transaksi di bursa tetap normal dan tidak ada saham terdampak yang mengalami auto rejection bawah (ARB). (Pro)

Berita Terkait

IHSG Berpotensi Lanjut Melemah ke Level 5.395, Ini Rekomendasi Saham Pilihan MNC Sekuritas
BBCA dan BBRI Terjun Bebas Hari Ini, Saham Bank Besar Kembali Dihantam Aksi Jual
IHSG Anjlok 3,64% ke 5.390 pada Pembukaan Perdagangan 8 Juni 2026, Saham BREN dan TLKM Tertekan
IHSG Tertekan, Analis: Kebijakan Pemerintah dan Rupiah Lebih Berpengaruh daripada MSCI
IHSG Diprediksi Lanjut Melemah, MNC Sekuritas Rekomendasikan 4 Saham Potensial Hari Ini
KIJA Keluar dari Indeks IDX Sharia Growth, Jababeka Pastikan Fundamental Perusahaan Tetap Kuat
IHSG Hari Ini Diprediksi Masih Melemah, Simak Rekomendasi Saham BMRI, BUMI hingga MEDC
IHSG Dibuka Merosot ke 5.878, Saham BMRI, BYAN hingga AMMN Kompak Terkoreksi
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 18:12 WIB

BBCA dan BBRI Terjun Bebas Hari Ini, Saham Bank Besar Kembali Dihantam Aksi Jual

Senin, 8 Juni 2026 - 10:07 WIB

IHSG Anjlok 3,64% ke 5.390 pada Pembukaan Perdagangan 8 Juni 2026, Saham BREN dan TLKM Tertekan

Minggu, 7 Juni 2026 - 10:53 WIB

IHSG Tertekan, Analis: Kebijakan Pemerintah dan Rupiah Lebih Berpengaruh daripada MSCI

Jumat, 5 Juni 2026 - 08:57 WIB

IHSG Diprediksi Lanjut Melemah, MNC Sekuritas Rekomendasikan 4 Saham Potensial Hari Ini

Jumat, 5 Juni 2026 - 08:45 WIB

KIJA Keluar dari Indeks IDX Sharia Growth, Jababeka Pastikan Fundamental Perusahaan Tetap Kuat

Berita Terbaru

Artikel

Cara Membuat Singkong Krispi, Renyah di Luar Lembut di Dalam

Selasa, 9 Jun 2026 - 12:15 WIB

Otomotif

Motor Listrik MBG Bisa Dikredit, Segini Cicilannya per Bulan

Selasa, 9 Jun 2026 - 08:57 WIB