Okepost.id – Industri penerbangan global kembali menghadapi tekanan besar setelah harga bahan bakar jet melonjak tajam akibat konflik di Timur Tengah.
Sejumlah maskapai mulai menaikkan tarif tiket dan mengurangi rute penerbangan untuk menekan lonjakan biaya operasional.
Kenaikan harga avtur dipicu eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir. Situasi ini memicu gangguan pada jalur penerbangan serta distribusi energi global.
CEO Delta Air Lines, Ed Bastian, menyebut lonjakan harga bahan bakar telah menambah beban perusahaan hingga sekitar US$400 juta hanya dalam satu bulan. Ia menegaskan maskapai harus segera menyesuaikan tarif untuk menjaga kinerja keuangan.
Tekanan serupa juga dirasakan American Airlines. Maskapai tersebut memperkirakan biaya tambahan mencapai US$400 juta pada kuartal pertama tahun ini akibat kenaikan harga bahan bakar.
Di kawasan Eropa, SAS AB mengambil langkah cepat dengan memangkas sejumlah rute penerbangan. Perusahaan menyebut lonjakan harga terjadi secara tiba-tiba dan berdampak langsung pada operasional.
Kondisi ini diperparah oleh penutupan sebagian wilayah udara Timur Tengah akibat ancaman serangan rudal dan drone.
Banyak maskapai terpaksa membatalkan, mengalihkan, atau menjadwal ulang penerbangan mereka.
Dampaknya terlihat jelas di Bandara Frankfurt yang mencatat sekitar 86.000 penumpang terdampak pembatalan penerbangan dalam dua pekan pertama konflik. Saat ini, hanya sebagian kecil rute ke Timur Tengah yang masih beroperasi.
Harga bahan bakar jet tercatat melonjak hingga dua kali lipat di Eropa dan hampir 80 persen di Asia sejak akhir Februari.
Kondisi ini semakin menekan industri, mengingat bahan bakar merupakan komponen biaya terbesar kedua setelah tenaga kerja, dengan porsi sekitar 20 hingga 25 persen dari total operasional maskapai.
Selain kenaikan harga, gangguan pasokan turut memperburuk situasi.
China dan Thailand menghentikan ekspor bahan bakar jet, sementara Vietnam memperingatkan potensi pengurangan penerbangan mulai April.
Sejumlah maskapai mulai menyesuaikan strategi untuk bertahan. Air France-KLM telah mengumumkan kenaikan harga tiket untuk rute jarak jauh guna menutup lonjakan biaya.
Meski beberapa maskapai masih mencatat pertumbuhan pendapatan, tekanan biaya tetap membayangi kinerja mereka.
Kondisi ini menunjukkan konflik geopolitik kembali memberikan dampak luas terhadap industri penerbangan global yang sebelumnya terpukul pandemi.**









