Okepost id – Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak studi mulai menyoroti hubungan antara penggunaan media sosial dan kesejahteraan, khususnya di kalangan anak muda.
Topik ini bahkan menjadi fokus dalam World Happiness Report terbaru yang dirilis setiap International Day of Happiness. Laporan tersebut menemukan bahwa meskipun secara global generasi muda cenderung lebih bahagia dibanding dua dekade lalu, tren berbeda justru terlihat di sejumlah negara maju.
Di negara seperti Amerika Serikat, serta beberapa negara berbahasa Inggris dan Eropa Barat, kesejahteraan remaja justru menunjukkan penurunan. Salah satu faktor yang mulai mendapat perhatian adalah intensitas penggunaan media sosial (medsos).
Studi ini mencatat bahwa remaja yang menghabiskan lebih dari lima jam sehari di media sosial cenderung melaporkan tingkat kesejahteraan yang lebih rendah.
Data dalam laporan ini mencakup sekitar 96 persen populasi dunia di lebih dari 140 negara, dikumpulkan melalui survei yang dilakukan oleh Gallup.
Menurut Direktur Gallup Ilana Ron Levey, penurunan kesejahteraan terlihat jelas di sejumlah negara seperti Kanada, Australia, Selandia Baru, hingga beberapa negara Eropa seperti Prancis, Irlandia, Norwegia, Swiss, dan Inggris.
Menariknya, tren ini tidak terjadi secara merata. Beberapa negara di Eropa Tengah justru mengalami peningkatan kesejahteraan, meskipun tingkat penggunaan internet dan media sosial juga tinggi.
Data dalam laporan ini mencakup sekitar 96 persen populasi dunia di lebih dari 140 negara, dikumpulkan melalui survei yang dilakukan oleh Gallup.
Menurut Direktur Gallup Ilana Ron Levey, penurunan kesejahteraan terlihat jelas di sejumlah negara seperti Kanada, Australia, Selandia Baru, hingga beberapa negara Eropa seperti Prancis, Irlandia, Norwegia, Swiss, dan Inggris.
Menariknya, tren ini tidak terjadi secara merata. Beberapa negara di Eropa Tengah justru mengalami peningkatan kesejahteraan, meskipun tingkat penggunaan internet dan media sosial juga tinggi.
Ilustrasi media sosial.(Google Gemini AI) Jebakan media sosial
Banyak orang sebenarnya sudah menyadari dampak negatif media sosial, mulai dari rasa sedih hingga kecemasan. Namun, menurut Cass Sunstein dari Harvard Law School, kesadaran ini tidak serta-merta membuat mereka berhenti. Ia justru tertarik mencari tahu alasan di balik kebiasaan tersebut.
Penggunaan berlebihan media sosial
Penggunaan media sosial yang berlebihan tampaknya menjadi garis pemisah antara remaja yang bahagia dan yang tidak.
Sebuah analisis mensurvei data dari remaja berusia 15 tahun dari seluruh dunia dan “menemukan bahwa remaja putri yang menggunakan media sosial secara berlebihan kurang puas dengan kehidupan mereka,” kata penulis bersama Jean Twenge, profesor psikologi di San Diego State University.(*)









