Okepost.id, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengusulkan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari *Emerging Market* menjadi *Standalone Market*. Kondisi ini memicu aksi jual besar-besaran dan membuat sejumlah saham unggulan terkoreksi tajam.
Pada perdagangan Jumat (16/10/2026), IHSG anjlok 11,57% ke level 5.185,11. Penurunan tersebut menjadi salah satu koreksi harian terdalam dalam sejarah pasar modal Indonesia sejak krisis moneter 1998.
Saham Big Caps Jadi Sorotan
Koreksi tajam membuat sejumlah saham berkapitalisasi besar mengalami penurunan harga signifikan. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Astra International Tbk (ASII) menjadi perhatian pelaku pasar setelah harganya turun tajam.
Mengutip laporan CNBC Indonesia yang diterbitkan pada Senin (19/10/2026), saham ENRG dan GOTO juga masuk dalam daftar saham yang menarik untuk dicermati investor.
Penurunan harga saham tersebut membuka peluang bagi investor untuk mengevaluasi valuasi emiten. Namun, harga yang sudah terkoreksi belum tentu menandakan saham tersebut murah secara fundamental.
Sentimen MSCI Masih Membayangi Pasar
MSCI membuka konsultasi mengenai kemungkinan perubahan status pasar saham Indonesia. Kekhawatiran terkait transparansi kepemilikan saham, aksesibilitas investasi, dan tata kelola pasar menjadi perhatian utama.
Jika perubahan klasifikasi tersebut diterapkan, arus investasi asing berpotensi terpengaruh karena sejumlah dana global menggunakan indeks MSCI sebagai acuan investasi. Keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027.
Investor Perlu Selektif
Di tengah volatilitas pasar, investor perlu memperhatikan kinerja keuangan emiten, valuasi, likuiditas saham, serta prospek bisnis sebelum mengambil keputusan investasi.
Pelaku pasar juga perlu mencermati perkembangan kebijakan MSCI dan langkah perbaikan yang dilakukan otoritas pasar modal Indonesia.
Koreksi tajam memang dapat membuka peluang akumulasi saham, tetapi risiko penurunan lanjutan tetap perlu diperhitungkan. Karena itu, investor sebaiknya tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan penurunan harga dalam jangka pendek. (Pro)









