Okepost.id, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada perdagangan Selasa (29/9/2026), sehari setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan batas harga terendah saham menjadi Rp1 di pasar reguler dan pasar tunai.
Mengacu data RTI Business pukul 09.05 WIB, IHSG turun 66,65 poin atau 1,08 persen ke level 6.081. Indeks dibuka pada posisi 6.118, sempat menyentuh level tertinggi 6.126 dan terendah 6.080.
Tekanan jual terlihat dari 437 saham yang melemah. Sebanyak 134 saham menguat dan 142 saham bergerak stagnan.
Nilai transaksi mencapai Rp1,32 triliun dengan volume 4,14 miliar saham. Frekuensi perdagangan tercatat 142.688 transaksi, sedangkan kapitalisasi pasar mencapai Rp10.717,854 triliun.
Analis Masih Melihat Risiko Koreksi
Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG masih menghadapi tekanan dalam jangka pendek.
Menurut Herditya, IHSG berpotensi melanjutkan koreksi untuk menguji area 6.088–6.111. Ia memproyeksikan level support IHSG berada di 6.041 dan 5.984, sedangkan resistance berada di 6.297 dan 6.419.
Herditya juga mencermati sejumlah saham, yakni AADI, BRPT, PSAB, dan PTRO.
Sementara itu, Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova menilai IHSG masih berisiko melemah setelah menembus support 6.159 pada perdagangan sebelumnya.
Ivan memperkirakan IHSG dapat menguji area 6.015–6.029. Ia menetapkan support pada 6.015, 5.850, dan 5.607, dengan resistance di 6.258, 6.423, 6.552, dan 6.712.
Sejumlah saham yang menjadi perhatian Ivan antara lain BMRI, INCO, INDF, dan PGEO.
BEI Bantah Batas Harga Rp1 Jadi Penyebab Utama
Di tengah pelemahan IHSG, BEI membantah anggapan bahwa perubahan batas harga terendah saham dari Rp50 menjadi Rp1 menjadi penyebab utama turunnya indeks.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan saham-saham yang sebelumnya berada di level Rp50 memiliki bobot relatif kecil terhadap IHSG.
BEI mencatat terdapat 26 saham berharga Rp50 dengan total bobot terhadap IHSG sekitar 1,91 persen per 25 September 2026.
Pada perdagangan Senin (28/9), saham-saham tersebut turun sekitar 8–14 persen. Kondisi itu diperkirakan memberikan kontribusi sekitar 0,27 persen atau 16,707 poin terhadap penurunan IHSG.
Jeffrey menjelaskan saham-saham tersebut sedang mencari keseimbangan harga baru setelah batas harga minimum Rp50 dihapus. Proses tersebut berlangsung melalui mekanisme perdagangan dan auto rejection hingga harga menemukan titik keseimbangan.
Dengan demikian, BEI menilai pelemahan IHSG tidak bisa dikaitkan hanya dengan penerapan batas harga terendah baru tersebut. (Pro)








