Okepost.id, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk GOTO, AADI, dan ADRO, ikut tertekan hingga penutupan.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG turun 0,43% ke level 6.121,70. Pada perdagangan tersebut, sebanyak 315 saham menguat, 391 saham melemah, dan 257 saham bergerak stagnan.
Tekanan paling besar datang dari saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) yang anjlok 13,95% menjadi Rp37. Penurunan juga terjadi pada PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) sebesar 4,95% ke Rp11.050 dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) sebesar 4,63% ke Rp2.470.
Saham lainnya yang terkoreksi antara lain DEWA turun 2,86% ke Rp340, CUAN melemah 2,75% ke Rp885, serta INCO turun 2,73% ke Rp4.280.
Di sisi lain, sejumlah saham berhasil menguat. PT United Tractors Tbk. (UNTR) memimpin kenaikan dengan penguatan 3,28% ke Rp25.175.
Selanjutnya, saham ISAT naik 2,68% ke Rp2.300, EXCL menguat 2,60% ke Rp2.370, SCMA naik 2,40% ke Rp171, ANTM bertambah 1,94% ke Rp3.160, dan ESSA menguat 1,75% ke Rp580.
Batas Harga Minimum Rp1 Jadi Sorotan
Pergerakan saham pada perdagangan kali ini juga berlangsung setelah BEI mulai menerapkan batas harga minimum saham dari sebelumnya Rp50 menjadi Rp1 sejak Senin (28/9/2026).
Kebijakan tersebut membuka ruang bagi saham yang sebelumnya tertahan di level Rp50 untuk bergerak lebih rendah dan menemukan level harga baru.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menilai perubahan batas harga minimum menjadi salah satu sentimen yang perlu diperhatikan investor.
Menurutnya, penerapan batas bawah Rp1 pada tahap awal dapat meningkatkan volatilitas, khususnya pada saham berharga rendah. Investor juga perlu menyesuaikan diri dengan perubahan rentang harga dan mekanisme auto rejection.
Sebelumnya, IHSG pada Senin (28/9/2026) turun 1,51% ke level 6.147,86. Tekanan pasar terjadi bersamaan dengan pelemahan rupiah yang mencapai sekitar Rp17.965 per dolar AS.
Sentimen eksternal juga masih membayangi pasar. Ekspektasi kebijakan The Fed yang hawkish, penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil US Treasury, serta ketidakpastian geopolitik turut menjadi perhatian investor.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam menentukan posisi di tengah tingginya volatilitas pasar saham.(Pro)








