IHSG Sesi I Turun 0,32%, Saham BSWD dan BLTZ Melonjak 25%

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di zona merah pada perdagangan

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 2 Oktober 2026 - 12:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Okepost.id, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di zona merah pada perdagangan Jumat (2/10/2026). Hingga pukul 11.35 WIB, IHSG turun 19,30 poin atau 0,32% ke level 5.990,20.

Data IDX Mobile menunjukkan IHSG dibuka di level 6.018,08. Sepanjang sesi I, indeks bergerak pada rentang 5.979,98 hingga 6.044,26.

Kapitalisasi pasar mencapai Rp10.557 triliun. Sebanyak 240 saham menguat, 429 saham melemah, sedangkan 294 saham bergerak stagnan.

Di jajaran top gainers, BSWD dan BLTZ sama-sama melesat 25% menjadi Rp3.600. ROCK naik 24,89% ke Rp2.960, TIFA menguat 24,48% ke Rp356, sedangkan PGLI bertambah 24,30% ke Rp266.

Baca Juga :  Ashmore Ungkap Risiko Terbesar Pasar Saham Indonesia pada 2026

Sebaliknya, ALKA menjadi saham dengan penurunan terbesar, yakni 14,98% ke Rp4.570. CCSI turun 14,89% ke Rp400, FORU melemah 14,66% ke Rp163, DADA turun 14,29% ke Rp24, dan XSSI terkoreksi 12,82% ke Rp68.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta mengatakan pelemahan IHSG dipengaruhi sentimen domestik dan eksternal.

Dari dalam negeri, investor mencermati perkembangan reshuffle kabinet yang dinilai dapat memunculkan ketidakpastian mengenai arah kebijakan pemerintah.

Baca Juga :  IHSG Menguat ke 5.744, Saham Bank Jumbo Jadi Motor Penggerak Pasar

Sementara dari eksternal, tingginya yield US Treasury, tekanan terhadap rupiah, dan ketidakpastian geopolitik masih membatasi minat investor terhadap aset berisiko di pasar negara berkembang.

Nafan menilai dampak reshuffle kabinet terhadap pasar akan bergantung pada persepsi investor terhadap figur yang ditunjuk serta keberlanjutan kebijakan ekonomi. Dalam jangka pendek, kondisi tersebut berpotensi membuat volatilitas pasar meningkat karena investor kembali mengevaluasi arah kebijakan dan koordinasi pemerintah. (Pro)

Berita Terkait

BEI Catat 7 Perusahaan Antre IPO, Sektor Kesehatan Mendominasi
Trading Saham Indonesia Kini Bisa Lewat Web Pluang, Ada Market Order
Saham Teknologi Kuasai Daftar Jawara S&P 500, Moderna hingga Bloom Energy Melaju
Short Selling Resmi Dibuka Lagi Hari Ini, 5 Saham Masuk Daftar Perdana
Daftar Saham Margin dan Short Selling Oktober 2026: Ada ASII, BBCA hingga BUMI
IHSG Ditutup Melemah, Saham GOTO Anjlok 13,95% ke Rp37
Ondo Perps Buka Trading Saham dan ETF Tokenisasi 24 Jam, Aset Bisa Jadi Jaminan Perpetual
IHSG Anjlok 1,08 Persen Usai Batas Harga Saham Rp1 Berlaku, BEI Beri Penjelasan
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 4 Oktober 2026 - 17:23 WIB

BEI Catat 7 Perusahaan Antre IPO, Sektor Kesehatan Mendominasi

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 13:27 WIB

Trading Saham Indonesia Kini Bisa Lewat Web Pluang, Ada Market Order

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 13:16 WIB

Saham Teknologi Kuasai Daftar Jawara S&P 500, Moderna hingga Bloom Energy Melaju

Jumat, 2 Oktober 2026 - 12:28 WIB

IHSG Sesi I Turun 0,32%, Saham BSWD dan BLTZ Melonjak 25%

Kamis, 1 Oktober 2026 - 09:14 WIB

Short Selling Resmi Dibuka Lagi Hari Ini, 5 Saham Masuk Daftar Perdana

Berita Terbaru

Poto ilustrasi

INVESTASI

BEI Catat 7 Perusahaan Antre IPO, Sektor Kesehatan Mendominasi

Minggu, 4 Okt 2026 - 17:23 WIB