Okepost.id – Perbedaan metode penentuan membuat adanya potensi perbedaan awal Ramadan 1447 H di antara umat Islam Indonesia. Terkait hal ini, Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis meminta umat untuk menyikapinya dengan dewasa.
Metode lain yang digunakan adalah hisab sekaligus metode imkan rukyat, yang kemungkinan bisa dilihat dari terbenamnya matahari. Namun, dengan metode ini ada kemungkinan hilal tak dapat diamati sehingga menghasilkan penetapan awal Ramadan 1447 H yang berbeda.
Kiai Cholil menerangkan, kemungkinan posisi derajat hilal masih berada di bawah 3 derajat. Sementara ketentuan Mabims—yakni ulama-ulama yang tergabung dalam forum ulama Asia Tenggara: Malaysia, Indonesia, Singapura, dan Brunei Darussalam—menyepakati bahwa hilal bisa dilihat jika sudah berada di atas 3 derajat.
Jadi bisa dipastikan awal Ramadan kita ini akan berbeda. Ada yang tanggal 18 dan ada yang tanggal 19 Februari. Saya berharap semuanya memaklumi hal ini. Yang penting kita bisa menjalankannya dengan baik dan khusyuk,” ungkapnya.
Ada yang menganggap seluruh dunia adalah satu kalender, satu mathla’, satu tempat terlihatnya bulan. Sehingga di satu negara yang melihat, bisa di sini juga sama-sama dianggap melihat dan memulai puasa,” terangnya.
Kiai Cholil mempersilakan umat Islam untuk mempelajari hal itu sebagai bahan motivasi dan belajar ilmu. Namun, dia menegaskan pelajaran dan perbedaan yang ada jangan sampai dijadikan perpecahan.(*)









