Harga Emas Dunia Diprediksi Tertekan, Dollar AS Jadi Faktor Utama

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 3 Agustus 2026 - 12:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Okepost.id – Harga emas dunia (XAU/USD) diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan hari ini setelah gagal mempertahankan kenaikan di area resistance penting. Dupoin Futures menilai peluang pelemahan masih lebih dominan karena belum terdapat sinyal teknikal yang mengindikasikan pembalikan arah.

Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan, pada time frame harian (daily), harga emas gagal ditutup di atas level resistance 4.104. Level tersebut kini menjadi batas penting yang harus ditembus apabila pasar ingin kembali membangun momentum penguatan.

Kegagalan breakout di area tersebut menunjukkan tekanan beli belum cukup kuat untuk mengubah dominasi seller yang masih mengendalikan arah pergerakan pasar,” ujar Geraldo dalam analisisnya, Senin (3/8/2026). Menurut dia, sinyal pelemahan semakin diperkuat oleh terbentuknya pola Bearish Engulfing, yakni pola candlestick yang kerap diinterpretasikan sebagai indikasi pembalikan arah ke bawah setelah kenaikan gagal dipertahankan.

Kemunculan pola tersebut di dekat area resistance dinilai mencerminkan meningkatnya aksi jual dan realisasi keuntungan oleh pelaku pasar. Kondisi itu membuka peluang koreksi harga emas dalam jangka pendek hingga menengah. Dalam proyeksi teknikalnya, Dupoin Futures memperkirakan target penurunan terdekat berada di area support 4.010.

Level tersebut dipandang sebagai zona penting yang akan menentukan apakah pelemahan hanya bersifat terbatas atau berkembang menjadi koreksi yang lebih dalam. “Selama harga emas masih bergerak di bawah resistance 4.104, skenario pelemahan menuju 4.010 masih menjadi proyeksi utama,” kata Geraldo.

Baca Juga :  Makanan Rendah Kalori, Pilihan Sehat untuk Menjaga Berat Badan

Indikator stochastic masih melemah

Selain pola candlestick, Dupoin Futures juga mencermati indikator Stochastic yang masih bergerak turun. Menurut Geraldo, kondisi tersebut menunjukkan momentum bearish belum mereda dan tekanan jual masih lebih dominan dibandingkan dorongan beli. “Selama indikator belum menunjukkan pembalikan arah yang jelas, peluang emas untuk melanjutkan penurunan masih lebih besar dibandingkan potensi kenaikan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Meski demikian, ia menilai area support 4.010 berpotensi menjadi titik munculnya technical rebound apabila terjadi respons beli yang kuat dari pasar. Namun, rebound tersebut tetap memerlukan konfirmasi berupa perubahan struktur harga serta peningkatan volume transaksi.

Tanpa adanya breakout di atas resistance utama, kenaikan harga dinilai berpotensi hanya menjadi koreksi sementara dalam tren bearish yang masih berlangsung. Dollar AS dan data ekonomi jadi perhatian Dari sisi fundamental, Dupoin Futures menilai pergerakan harga emas masih dipengaruhi oleh kekuatan dollar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury Yield).

Menurut Geraldo, selama dollar AS tetap menguat dan US Treasury Yield bertahan pada level tinggi, daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil akan cenderung berkurang. Investor, kata dia, umumnya lebih memilih instrumen yang menawarkan tingkat pengembalian lebih tinggi ketika ekspektasi suku bunga masih berada pada level yang ketat.

Baca Juga :  Wisata Air Terjun Telun Berasap Kayu Aro, Tiket Masuk Sesuai Perda, Tapi Parkirnya Gratis!

Selain itu, perhatian pasar juga tertuju pada sejumlah data ekonomi AS yang akan dirilis dalam waktu dekat, seperti data inflasi, pasar tenaga kerja, dan pernyataan pejabat Federal Reserve (The Fed). “Data-data tersebut akan menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan suku bunga berikutnya,” ujar Geraldo.

Ia menjelaskan, apabila ekonomi AS kembali menunjukkan kinerja yang solid, peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi dalam periode yang lebih lama akan semakin besar. Kondisi tersebut berpotensi memperkuat dollar AS sekaligus menambah tekanan terhadap harga emas.

Sebaliknya, apabila data ekonomi mulai menunjukkan perlambatan atau tekanan inflasi semakin mereda, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dapat kembali meningkat. Skenario tersebut berpotensi melemahkan dollar AS dan menurunkan US Treasury Yield, sehingga dapat menjadi katalis positif bagi harga emas melalui peningkatan permintaan terhadap aset safe haven. Selain faktor ekonomi, Dupoin Futures juga mengingatkan perkembangan geopolitik tetap menjadi variabel yang perlu diperhatikan. Menurut Geraldo, meningkatnya ketidakpastian global sewaktu-waktu dapat mendorong investor kembali mencari perlindungan pada aset aman seperti emas, sehingga berpotensi membatasi tekanan jual yang berasal dari penguatan dollar AS maupun kenaikan imbal hasil obligasi AS. (*)

Berita Terkait

BEI Catat 7 Perusahaan Antre IPO, Sektor Kesehatan Mendominasi
Saham Teknologi Kuasai Daftar Jawara S&P 500, Moderna hingga Bloom Energy Melaju
Short Selling Resmi Dibuka Lagi Hari Ini, 5 Saham Masuk Daftar Perdana
Daftar Saham Margin dan Short Selling Oktober 2026: Ada ASII, BBCA hingga BUMI
IHSG Ditutup Melemah, Saham GOTO Anjlok 13,95% ke Rp37
Ondo Perps Buka Trading Saham dan ETF Tokenisasi 24 Jam, Aset Bisa Jadi Jaminan Perpetual
IHSG Anjlok 1,08 Persen Usai Batas Harga Saham Rp1 Berlaku, BEI Beri Penjelasan
IPOT X Hadir dengan 9 Fitur AI, Analisis Saham Jadi Lebih Praktis
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 4 Oktober 2026 - 17:23 WIB

BEI Catat 7 Perusahaan Antre IPO, Sektor Kesehatan Mendominasi

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 13:16 WIB

Saham Teknologi Kuasai Daftar Jawara S&P 500, Moderna hingga Bloom Energy Melaju

Kamis, 1 Oktober 2026 - 09:14 WIB

Short Selling Resmi Dibuka Lagi Hari Ini, 5 Saham Masuk Daftar Perdana

Rabu, 30 September 2026 - 10:41 WIB

Daftar Saham Margin dan Short Selling Oktober 2026: Ada ASII, BBCA hingga BUMI

Rabu, 30 September 2026 - 10:35 WIB

IHSG Ditutup Melemah, Saham GOTO Anjlok 13,95% ke Rp37

Berita Terbaru

Poto ilustrasi

INVESTASI

BEI Catat 7 Perusahaan Antre IPO, Sektor Kesehatan Mendominasi

Minggu, 4 Okt 2026 - 17:23 WIB