Okepost.id – Semangat berkarya tak mengenal usia. Seorang nenek berusia 83 tahun, Merrywati Peruba, sukses mencuri perhatian dalam ajang Pasanggiri Angklung Satu Hati (PASH) yang digelar oleh PT Astra Honda Motor.
Bersama grup angklung Gita Pundarika NSI, Merrywati tampil memukau di tengah persaingan ketat yang melibatkan sekitar 1.700 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Ia berkolaborasi dengan 39 pemain angklung lain yang sebagian besar juga berusia di atas 50 tahun.
Tim asal DKI Jakarta tersebut membawakan lagu Donau Wellen dengan aransemen harmonis yang berhasil memikat dewan juri. Penampilan mereka pun mengantarkan grup ini meraih juara pertama kategori umum.
Merrywati mengaku, bermain angklung tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga membantu menjaga daya ingat serta memberikan kebahagiaan.
“Angklung mengajarkan kerja sama untuk menghasilkan melodi yang indah. Ajang ini menjadi ruang kami untuk berekspresi dan menyalurkan hobi bermusik,” ujarnya.
Kompetisi PASH juga menghadirkan kategori lain, mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Para pemenang berhasil menyisihkan ribuan peserta dari 21 kabupaten dan kota.
Selain itu, panitia turut memberikan penghargaan kepada dua tim favorit pilihan warganet. Para peserta menampilkan kreativitas tinggi dengan membawakan beragam genre, mulai dari lagu daerah, lagu anak-anak, hingga soundtrack film.
General Manager Corporate Communication AHM, Ahmad Muhibbuddin, menilai angklung mampu beradaptasi dengan berbagai jenis musik.
“Teknik permainan, kreativitas aransemen, dan estetika penampilan menjadi faktor utama dalam penilaian,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa angklung bukan sekadar alat musik tradisional, tetapi simbol kolaborasi dan harmoni yang relevan lintas generasi. Terlebih, UNESCO telah mengakui angklung sebagai warisan budaya dunia.
Melalui ajang ini, AHM ingin mendorong generasi muda untuk terus melestarikan angklung sebagai identitas budaya bangsa yang ramah lingkungan karena terbuat dari bambu.
Tak hanya kompetisi, PASH juga menghadirkan program edukasi melalui Astra Honda Berbagi Ilmu. Peserta mendapatkan pelatihan tentang teknik bermain angklung, olah vokal, hingga pemanfaatan media sosial untuk mempromosikan seni tradisional.
Salah satu peserta, Elsa, guru dari SDN Sunter Agung 13 Pagi Jakarta, mengaku mendapat banyak manfaat dari kegiatan tersebut.
“Kami tidak hanya belajar teknik, tetapi juga memperluas jaringan dan mendapatkan inspirasi untuk mengenalkan budaya kepada siswa,” katanya.
Ajang ini menjadi bukti bahwa angklung tetap hidup dan berkembang, sekaligus memperkuat posisinya sebagai simbol harmoni, kolaborasi, dan kebanggaan budaya Indonesia.**









