Okepost.id – Setuju banget sama inti artikelnya: ngajarin safety itu tujuannya bikin anak siap, bukan bikin anak takut. Anak yang ketakutan malah bisa freeze, bingung, atau nggak berani cerita.
Kalau mau dipraktikkan dengan cara yang lebih “adem” tapi tetap ngena, ini pendekatan yang biasanya efektif:Pakai bahasa yang simpel, bukan horor
- Daripada “Nanti kamu diculik orang!”, lebih aman bilang:
“Kalau ada orang yang bikin kamu nggak nyaman, kamu boleh pergi ya.”
Fokusnya ke perasaan aman anak, bukan ancaman. - Latihan kalimat siap pakai (roleplay ringan)
Anak SD butuh contoh kalimat nyata, misalnya:
“Enggak, makasih.”
“Aku harus tanya Mama/Papa dulu.”
“Aku nggak mau.”
Latih kayak main peran 2 menit aja, santai, nggak perlu tegang. - Ajarkan “orang dewasa nggak minta tolong ke anak kecil”
Ini konsep yang gampang dipahami anak: Kalau ada orang asing minta bantuan (nyari kucing, angkat barang, dll), anak harus cari orang dewasa lain. - Tanamkan bahwa sopan ≠ harus nurut
Ini penting banget, karena banyak anak bingung antara “hormat” dan “patuh”. Ajarkan:
“Kamu boleh sopan, tapi kalau nggak nyaman kamu boleh nolak.” - Buat sistem sederhana: “password keluarga”
Ini keren karena nggak bikin paranoid, tapi bikin anak punya alat cek keamanan. Contoh: Kalau ada orang bilang “disuruh Mama jemput”, anak bisa tanya:
“Passwordnya apa?”
Kalau salah → jangan ikut. - Biasakan ngobrol rutin, bukan sekali pas panik
Ngomongin safety itu lebih efektif kalau jadi obrolan ringan kayak:
pas habis main
pas mau berangkat sekolah
pas nonton film
Jadi anak nggak mengasosiasikan topik ini dengan “bahaya besar”.
Intinya: bangun refleks aman, bukan rasa takut. Anak jadi waspada, tapi tetap percaya diri dan tenang. ***









