Okepost.id – Sebuah tulisan opini yang tayang di portal satir dan esai populer Mojok.co memantik perhatian pembaca setelah mengangkat pengalaman personal penulisnya terkait kepemilikan motor skutik produksi Honda.
Dalam artikel tersebut, penulis menceritakan kisah masa mudanya ketika mendapatkan sebuah Honda Vario dari orang tua. Alih-alih merasa senang, ia justru mengaku sempat kecewa karena motor impiannya saat itu adalah model lain yang lebih sesuai dengan selera remajanya.
Tulisan itu menggunakan gaya naratif khas Mojok—santai, jenaka, dan penuh hiperbola. Penulis menyebut motor tersebut sebagai “menyalahi kodrat” dan “nggak waras”. Namun, istilah tersebut tidak dimaksudkan secara harfiah ataupun sebagai kritik teknis terhadap produk, melainkan sebagai ungkapan emosional atas ketidaksesuaian antara ekspektasi dan kenyataan.
Bukan Ulasan Teknis
Berbeda dari artikel otomotif pada umumnya, tulisan ini tidak membahas spesifikasi mesin, performa, konsumsi bahan bakar, maupun fitur kendaraan. Fokusnya lebih pada sudut pandang subjektif tentang bagaimana sebuah kendaraan bisa menjadi simbol status sosial, selera, dan identitas di kalangan anak muda.
Penulis juga menyinggung keinginannya saat itu untuk memiliki motor keluaran Yamaha yang dianggap lebih “keren” dan sesuai tren pergaulan. Perbandingan tersebut lebih bersifat emosional daripada rasional.
Refleksi tentang Selera dan Realitas
Di balik gaya bercanda yang tajam, artikel tersebut sejatinya memuat refleksi tentang proses pendewasaan. Seiring waktu, penulis mengakui bahwa kendaraan yang semula dianggap “tidak sesuai harapan” justru tetap dapat diandalkan dalam aktivitas sehari-hari.
Narasi ini menggambarkan bagaimana persepsi terhadap suatu barang dapat berubah seiring pengalaman. Motor yang awalnya dianggap tidak ideal, pada akhirnya tetap berfungsi sebagai sarana mobilitas yang efektif.
Tulisan tersebut menjadi contoh bagaimana pengalaman pribadi dapat dikemas menjadi refleksi sosial yang ringan namun relevan, terutama bagi pembaca yang pernah mengalami perbedaan antara keinginan dan keputusan orang tua.***









