Okepost.id, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada awal perdagangan Jumat (10/7/2026).
Penguatan indeks ditopang kenaikan sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama BBCA, BBRI, dan BRPT.
Berdasarkan data RTI Infokom pada pukul 09.00 WIB, IHSG naik 0,38% ke level 5.963,83. Sebanyak 338 saham menguat, 139 saham melemah, dan 193 saham bergerak stagnan. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia turut meningkat menjadi Rp10.394 triliun.
Dari jajaran saham unggulan, BBCA menguat 0,81% ke Rp6.250 per saham. Sementara itu, BBRI naik 0,36% ke Rp2.790 dan BRPT melesat 1,25% ke level Rp1.620 per saham.
Tim Riset Phintraco Sekuritas menjelaskan penguatan pasar domestik sejalan dengan kenaikan indeks utama Wall Street pada perdagangan Kamis (9/7/2026).
Bursa saham Amerika Serikat terdorong oleh penguatan saham-saham sektor semikonduktor serta koreksi harga minyak mentah.
Menurut Phintraco, saham perusahaan chip masih melanjutkan pemulihan menjelang musim laporan keuangan kuartal II/2026.
Investor juga tetap memberikan perhatian besar terhadap belanja teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI), meski perkembangan politik dan geopolitik masih menjadi faktor yang dapat memengaruhi sentimen pasar.
Di sisi lain, risiko global masih membayangi. Ketegangan geopolitik berpotensi memicu kenaikan inflasi melalui lonjakan harga minyak, meningkatkan kehati-hatian konsumen, serta menekan prospek pasar tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi.
Dari dalam negeri, sentimen pasar dipengaruhi data penjualan sepeda motor yang masih tumbuh 1,1% secara tahunan. Namun, penjualan ritel justru turun 3,9% pada Mei 2026 setelah sebelumnya melemah 3,7% pada April.
Penurunan tersebut menjadi kontraksi tahunan terdalam sejak Mei 2023 dan menandakan daya beli masyarakat masih melemah.
Pelemahan penjualan terjadi pada sejumlah kelompok barang, seperti makanan dan minuman, tembakau, pakaian, peralatan rumah tangga, hingga produk informasi dan komunikasi.
Secara bulanan, penjualan ritel juga turun 1,5% pada Mei setelah merosot 11,6% pada April, mencerminkan konsumsi domestik yang masih menghadapi tekanan.(Pro)









