Okepost.id – Di antara aneka tanaman yang dimanfaatkan sebagai sumber pangan harian, pare (Momordica charantia) punya posisi yang khas. Tanaman merambat dari suku labu-labuan (Cucurbitaceae) ini tumbuh subur di daerah tropis dan subtropis, dan sudah menjadi bahan pangan sekaligus ramuan herbal di berbagai kawasan selama ratusan tahun, dari Asia Selatan dan Asia Timur, Afrika, hingga Karibia.
Yang bisa dipastikan secara ilmiah bahwa pare mengandung konsentrasi senyawa pahit dalam jumlah yang jauh lebih tinggi dibanding kebanyakan bahan pangan lain, sehingga rasa pahitnya konsisten dianggap sebagai salah satu yang paling ekstrem di antara tumbuhan yang lazim dikonsumsi manusia.
Sebagian ahli menduga pusat domestikasinya berada di Asia timur, kemungkinan di wilayah timur India atau selatan China, sementara sumber lain menyebut tanaman liar ini pertama kali tumbuh di Afrika sebelum menyebar dan dibudidayakan di Asia sejak masa prasejarah. Di India, pare telah menjadi bagian dari praktik Ayurveda, sistem pengobatan tradisional yang sudah dipraktikkan lebih dari tiga ribu tahun, dan digunakan untuk membantu menyeimbangkan kadar gula darah, meredakan gangguan pencernaan, hingga mengobati luka pada kulit.
Rahasia di Balik Rasa Pahit Pare
Rasa pahit yang menonjol pada pare berasal dari sekelompok senyawa triterpenoid tipe kukurbitan, terutama momordisin I dan II serta momordikosida K dan L, yang terakumulasi pada daging maupun kulit buah dan berubah konsentrasinya seiring pertumbuhan buah. Tingkat kepahitan pare umumnya berada pada titik tertinggi ketika buah masih muda dan berwarna hijau segar. Begitu buah matang, warna kulitnya berubah menjadi jingga kekuningan, daging buahnya melunak, dan biji di dalamnya terbungkus lapisan aril merah terang yang terasa manis, kontras dengan rasa daging buahnya.
Selain triterpenoid, pare juga mengandung charantin, polipeptida-p, vicine, dan sejumlah senyawa fenolik lain yang selama beberapa dekade diteliti untuk potensi efeknya terhadap kadar gula darah. Perlu dicatat, dugaan bahwa rasa pahit pare berkorelasi langsung dengan efek penurun gula darahnya belum diuji secara ketat dan masih menjadi area penelitian terbuka. Mekanisme yang diajukan dalam berbagai studi pracaklinis meliputi peningkatan penyerapan glukosa oleh sel otot, penghambatan enzim yang terlibat dalam produksi glukosa di hati, serta dukungan terhadap fungsi sel beta pankreas .
Meski demikian, tinjauan sistematis terhadap uji klinis pada manusia masih melaporkan hasil yang beragam, dengan tingkat kepastian bukti yang tergolong rendah hingga saat ini. Artinya, potensi pare sebagai pendamping pengelolaan diabetes tipe 2 sudah cukup banyak diteliti, tetapi belum bisa disebut terbukti kuat secara klinis. Di luar isu gula darah, pare juga mengandung vitamin C, vitamin A, serat pangan, dan berbagai antioksidan yang berkontribusi pada nilai gizinya secara umum.
Terlepas dari status penelitiannya yang masih berkembang, pengolahan yang tepat tetap penting agar manfaat gizi tersebut bisa dinikmati tanpa rasa pahit yang berlebihan. Sebelum dimasak, bagian empulur putih dan biji keras di dalam buah pare biasanya dibuang terlebih dahulu untuk mengurangi konsentrasi pahit. Meremas irisan pare dengan garam atau merebusnya sebentar (blanching) dapat membantu meluruhkan sebagian getah pahit tanpa banyak mengurangi nilai gizinya, cara yang umum dipakai dalam berbagai tradisi kuliner di Indonesia, mulai dari tumisan hingga sayur bersantan. Ada beberapa kelompok yang perlu lebih waspada dalam mengonsumsinya.
Ibu hamil disarankan menghindari konsumsi pare dalam jumlah berlebihan, terutama dalam bentuk ekstrak pekat, karena sejumlah senyawa di dalamnya diduga dapat merangsang kontraksi rahim. Orang yang mengonsumsi obat penurun gula darah juga perlu berhati-hati, karena kombinasi keduanya berpotensi menyebabkan hipoglikemia atau penurunan gula darah yang terlalu drastis. Bagi masyarakat umum tanpa kondisi khusus tersebut, pare tetap tergolong aman dikonsumsi sebagai bagian dari menu harian dalam jumlah wajar. (*)









