Salah Satu Buah Paling Pahit di Dunia yang Punya Sejarah Panjang sebagai Obat Tradisional

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 14 Agustus 2026 - 13:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Okepost.id – Di antara aneka tanaman yang dimanfaatkan sebagai sumber pangan harian, pare (Momordica charantia) punya posisi yang khas. Tanaman merambat dari suku labu-labuan (Cucurbitaceae) ini tumbuh subur di daerah tropis dan subtropis, dan sudah menjadi bahan pangan sekaligus ramuan herbal di berbagai kawasan selama ratusan tahun, dari Asia Selatan dan Asia Timur, Afrika, hingga Karibia.

Yang bisa dipastikan secara ilmiah bahwa pare mengandung konsentrasi senyawa pahit dalam jumlah yang jauh lebih tinggi dibanding kebanyakan bahan pangan lain, sehingga rasa pahitnya konsisten dianggap sebagai salah satu yang paling ekstrem di antara tumbuhan yang lazim dikonsumsi manusia.

Sebagian ahli menduga pusat domestikasinya berada di Asia timur, kemungkinan di wilayah timur India atau selatan China, sementara sumber lain menyebut tanaman liar ini pertama kali tumbuh di Afrika sebelum menyebar dan dibudidayakan di Asia sejak masa prasejarah. Di India, pare telah menjadi bagian dari praktik Ayurveda, sistem pengobatan tradisional yang sudah dipraktikkan lebih dari tiga ribu tahun, dan digunakan untuk membantu menyeimbangkan kadar gula darah, meredakan gangguan pencernaan, hingga mengobati luka pada kulit.

Rahasia di Balik Rasa Pahit Pare

Rasa pahit yang menonjol pada pare berasal dari sekelompok senyawa triterpenoid tipe kukurbitan, terutama momordisin I dan II serta momordikosida K dan L, yang terakumulasi pada daging maupun kulit buah dan berubah konsentrasinya seiring pertumbuhan buah. Tingkat kepahitan pare umumnya berada pada titik tertinggi ketika buah masih muda dan berwarna hijau segar. Begitu buah matang, warna kulitnya berubah menjadi jingga kekuningan, daging buahnya melunak, dan biji di dalamnya terbungkus lapisan aril merah terang yang terasa manis, kontras dengan rasa daging buahnya.

Baca Juga :  Cara Membuat Singkong Krispi, Renyah di Luar Lembut di Dalam

Selain triterpenoid, pare juga mengandung charantin, polipeptida-p, vicine, dan sejumlah senyawa fenolik lain yang selama beberapa dekade diteliti untuk potensi efeknya terhadap kadar gula darah. Perlu dicatat, dugaan bahwa rasa pahit pare berkorelasi langsung dengan efek penurun gula darahnya belum diuji secara ketat dan masih menjadi area penelitian terbuka. Mekanisme yang diajukan dalam berbagai studi pracaklinis meliputi peningkatan penyerapan glukosa oleh sel otot, penghambatan enzim yang terlibat dalam produksi glukosa di hati, serta dukungan terhadap fungsi sel beta pankreas .

Meski demikian, tinjauan sistematis terhadap uji klinis pada manusia masih melaporkan hasil yang beragam, dengan tingkat kepastian bukti yang tergolong rendah hingga saat ini. Artinya, potensi pare sebagai pendamping pengelolaan diabetes tipe 2 sudah cukup banyak diteliti, tetapi belum bisa disebut terbukti kuat secara klinis. Di luar isu gula darah, pare juga mengandung vitamin C, vitamin A, serat pangan, dan berbagai antioksidan yang berkontribusi pada nilai gizinya secara umum.

Baca Juga :  Ayo Kunjungi Destinasi Wisata Kuliner Jambi yang Wajib Kamu Cicipi

Terlepas dari status penelitiannya yang masih berkembang, pengolahan yang tepat tetap penting agar manfaat gizi tersebut bisa dinikmati tanpa rasa pahit yang berlebihan. Sebelum dimasak, bagian empulur putih dan biji keras di dalam buah pare biasanya dibuang terlebih dahulu untuk mengurangi konsentrasi pahit. Meremas irisan pare dengan garam atau merebusnya sebentar (blanching) dapat membantu meluruhkan sebagian getah pahit tanpa banyak mengurangi nilai gizinya, cara yang umum dipakai dalam berbagai tradisi kuliner di Indonesia, mulai dari tumisan hingga sayur bersantan. Ada beberapa kelompok yang perlu lebih waspada dalam mengonsumsinya.

Ibu hamil disarankan menghindari konsumsi pare dalam jumlah berlebihan, terutama dalam bentuk ekstrak pekat, karena sejumlah senyawa di dalamnya diduga dapat merangsang kontraksi rahim. Orang yang mengonsumsi obat penurun gula darah juga perlu berhati-hati, karena kombinasi keduanya berpotensi menyebabkan hipoglikemia atau penurunan gula darah yang terlalu drastis. Bagi masyarakat umum tanpa kondisi khusus tersebut, pare tetap tergolong aman dikonsumsi sebagai bagian dari menu harian dalam jumlah wajar. (*)

Berita Terkait

Resep Ati Ampela Rica-Rica, Pedas Gurih dan Bumbunya Meresap
Resep Puding Susu Roti Tawar, Dessert Lembut yang Praktis Dibuat di Rumah
5 Tanda Anak yang Bakal Sukses di Masa Depan Menurut Ahli
Beberapa Buah yang Aman untuk Penderita Asam Lambung
Resep Tumis Bayam Campur Telur yang Simpel dan lezat
3 Minuman Merah yang Bantu Menjaga Tekanan Darah Tetap Stabil
11 Manfaat Daun Sirih, Baik untuk Kewanitaan hingga Energi
Kenali Manfaat Genjer untuk Kesehatan dan Kandungan Gizinya
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 13:58 WIB

Resep Ati Ampela Rica-Rica, Pedas Gurih dan Bumbunya Meresap

Jumat, 14 Agustus 2026 - 13:20 WIB

Salah Satu Buah Paling Pahit di Dunia yang Punya Sejarah Panjang sebagai Obat Tradisional

Kamis, 13 Agustus 2026 - 14:38 WIB

Resep Puding Susu Roti Tawar, Dessert Lembut yang Praktis Dibuat di Rumah

Rabu, 12 Agustus 2026 - 11:19 WIB

5 Tanda Anak yang Bakal Sukses di Masa Depan Menurut Ahli

Selasa, 11 Agustus 2026 - 15:15 WIB

Beberapa Buah yang Aman untuk Penderita Asam Lambung

Berita Terbaru

Artikel

Resep Ati Ampela Rica-Rica, Pedas Gurih dan Bumbunya Meresap

Jumat, 14 Agu 2026 - 13:58 WIB