CNG Tabung 3 Kg Disiapkan Jadi Pengganti LPG, Lebih Murah hingga 40 Persen

Ekonomi

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 3 Mei 2026 - 11:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia di Istana. Dok Bakom

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia di Istana. Dok Bakom

Okepost.id, Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai menyiapkan compressed natural gas (CNG) dalam kemasan tabung 3 kilogram (kg) sebagai alternatif LPG subsidi. Kebijakan ini bertujuan menekan impor energi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa konsep penggunaan CNG sebenarnya sudah berjalan di sejumlah sektor. Beberapa di antaranya meliputi hotel, restoran, hingga dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ia menegaskan bahwa pemerintah kini fokus mengembangkan versi tabung kecil untuk kebutuhan rumah tangga.

“Untuk ukuran 3 kilogram sedang disiapkan. Biayanya bisa lebih hemat sekitar 30 sampai 40 persen,” ujarnya, Minggu (3/5/2026).

CNG Lebih Murah dan Berasal dari Dalam Negeri

CNG merupakan gas alam yang dikompresi hingga tekanan tinggi, umumnya sekitar 200–250 bar. Kandungan utamanya adalah metana (C1) dan etana (C2), yang tersedia melimpah di Indonesia.

Baca Juga :  Bansos Mei 2026 Mulai Cair, Ini Daftar PKH, BPNT, PIP dan BLT Desa Beserta Cara Ceknya

Gas ini disimpan dalam tabung khusus berstandar keamanan tinggi. Dengan teknologi tersebut, CNG dinilai aman untuk distribusi dan penggunaan sehari-hari.

Selain faktor keamanan, keunggulan utama CNG terletak pada sumbernya yang berasal dari dalam negeri. Hal ini membuat biaya produksi lebih efisien dibanding LPG yang masih bergantung pada impor.

Ketergantungan Impor LPG Masih Tinggi

Berdasarkan data ESDM, konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun. Namun produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 1,6 hingga 1,7 juta ton.

Artinya, sebagian besar kebutuhan LPG masih dipenuhi melalui impor. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas energi dan anggaran negara.

Pemerintah Kaji Alternatif Energi Lain

Selain CNG, pemerintah juga mengembangkan alternatif lain seperti Dimethyl Ether (DME) berbasis batu bara kalori rendah. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada LPG secara bertahap.

Baca Juga :  Harga Beras Naik Rekor Meski Stok Melimpah, Ini Penyebabnya

Menurut Bahlil, keterbatasan bahan baku LPG di dalam negeri, khususnya komponen C3 dan C4, membuat pemerintah harus mencari solusi lain yang lebih realistis.

Ia menambahkan bahwa kajian terhadap berbagai opsi energi terus dilakukan secara intensif.

Tantangan Infrastruktur dan Teknologi

Meski memiliki potensi besar, pengembangan CNG masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satu tantangan utama adalah kebutuhan teknologi kompresi bertekanan tinggi, yang bisa mencapai 250 hingga 400 bar.

Selain itu, pembangunan infrastruktur distribusi juga menjadi faktor penting agar CNG dapat digunakan secara luas oleh masyarakat.

Namun demikian, pemerintah tetap optimistis bahwa CNG dapat menjadi solusi jangka panjang untuk menciptakan energi yang lebih murah, efisien, dan mandiri.(Pro)

Berita Terkait

Kadin Minta Independensi Bank Indonesia Dijaga, Investor Tunggu Kepastian Gubernur BI Baru
Laba Hutama Karya Lampaui Target Semester I 2026, Jalan Tol Trans Sumatera Jadi Penopang Utama
Harga Beras Naik 6 Bulan Berturut-turut, Inflasi Pangan Mengancam Daya Beli dan Kemiskinan
Taspen Desak PP Turunan UU ASN 2023 Segera Terbit, Jaminan Pensiun PPPK Jadi Sorotan
Rupiah Diprediksi Bergerak di Kisaran Rp17.950–Rp18.050, Sentimen S&P dan The Fed Jadi Sorotan
BPK Soroti Tata Kelola Danantara, Transparansi Laporan Keuangan BUMN Jadi Perhatian
Bulog Minta Maaf Usai Hama Gudang Serbu Permukiman Warga Karawang, Fumigasi dan Fogging Disiapkan
DPR dan Pemerintah Sepakati Target Ekonomi 2027 Tumbuh 5,8–6,5%, Danantara Diminta Beri Kontribusi Nyata
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 16:20 WIB

Kadin Minta Independensi Bank Indonesia Dijaga, Investor Tunggu Kepastian Gubernur BI Baru

Rabu, 22 Juli 2026 - 13:03 WIB

Laba Hutama Karya Lampaui Target Semester I 2026, Jalan Tol Trans Sumatera Jadi Penopang Utama

Selasa, 21 Juli 2026 - 09:42 WIB

Harga Beras Naik 6 Bulan Berturut-turut, Inflasi Pangan Mengancam Daya Beli dan Kemiskinan

Jumat, 10 Juli 2026 - 12:20 WIB

Taspen Desak PP Turunan UU ASN 2023 Segera Terbit, Jaminan Pensiun PPPK Jadi Sorotan

Kamis, 9 Juli 2026 - 08:32 WIB

Rupiah Diprediksi Bergerak di Kisaran Rp17.950–Rp18.050, Sentimen S&P dan The Fed Jadi Sorotan

Berita Terbaru

INVESTASI

Daftar Harga Emas Pegadaian Galeri 24 di HUT RI ke 81

Senin, 17 Agu 2026 - 12:13 WIB