Harga Beras Naik 6 Bulan Berturut-turut, Inflasi Pangan Mengancam Daya Beli dan Kemiskinan

Meski stok beras BULOG disebut tertinggi sepanjang sejarah, harga beras terus meningkat dari penggilingan hingga eceran. Kenaikan ini memperbesar tekanan inflasi dan berpotensi menambah jumlah penduduk miskin.

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 21 Juli 2026 - 09:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Harga Beras Naik 6 Bulan Berturut-turut, Inflasi Pangan Mengancam Daya Beli dan Kemiskinan.

Harga Beras Naik 6 Bulan Berturut-turut, Inflasi Pangan Mengancam Daya Beli dan Kemiskinan.

Okepost.id, Jakarta – Tren kenaikan harga beras belum menunjukkan tanda mereda. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, harga beras terus meningkat di tingkat penggilingan, grosir, hingga eceran.

Kondisi ini terjadi meski pemerintah mengklaim stok beras yang dikelola Perum BULOG merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Juni 2026 harga beras kembali mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya. Di tingkat penggilingan harga naik 0,97 persen, di grosir meningkat 0,82 persen, sedangkan di tingkat eceran bertambah 0,45 persen.

Secara tahunan, kenaikan harga juga cukup signifikan. Harga beras di tingkat penggilingan melonjak 6,96 persen, di grosir naik 5,12 persen, dan di tingkat eceran meningkat 3,98 persen.

Kondisi tersebut dinilai janggal karena terjadi saat Indonesia menikmati panen raya pada Februari hingga Mei 2026. Melimpahnya produksi seharusnya mampu menjaga kestabilan harga. Namun, beras justru kembali menjadi salah satu penyumbang utama inflasi nasional.

Hingga Juni 2026, inflasi tahun berjalan telah mencapai 3,34 persen atau mendekati batas atas target pemerintah sebesar 2,5–3,5 persen. Kelompok volatile food atau pangan bergejolak menjadi kontributor terbesar dengan porsi sekitar 40,7 persen, termasuk komoditas beras.

Baca Juga :  Harga Emas Perhiasan Hari Ini 9 Mei 2026 Stabil, Cek Rincian Lengkap Semua Kadar

Ancaman Meningkat Jelang Akhir Tahun

Tekanan inflasi diperkirakan belum akan berakhir. Memasuki periode paceklik pada Oktober 2026 hingga Januari 2027, harga beras dan komoditas pangan lainnya diprediksi kembali mengalami kenaikan, terlebih jika fenomena El Nino berdampak pada produksi pangan.

BPS memperkirakan produksi beras nasional selama Januari–Agustus 2026 mencapai sekitar 25,28 juta ton, sedikit lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, produksi yang meningkat belum otomatis mampu menahan laju kenaikan harga di pasar.

Kenaikan Harga Beras Berisiko Menambah Kemiskinan

Meningkatnya harga beras tidak hanya memicu inflasi, tetapi juga menggerus daya beli masyarakat berpenghasilan rendah.

BPS mencatat sekitar 74,96 persen garis kemiskinan pada September 2025 berasal dari kebutuhan makanan. Dari seluruh komoditas pangan, beras menjadi pengeluaran terbesar rumah tangga miskin dengan kontribusi mencapai 22,86 persen terhadap total belanja makanan.

Baca Juga :  Harga Emas Berpotensi Melonjak ke Rp2,9 Juta per Gram, Dipicu Konflik Global dan Arah Baru The Fed

Artinya, setiap kenaikan harga beras akan langsung mengurangi kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan pokok. Kelompok yang sebelumnya berada sedikit di atas garis kemiskinan berpotensi kembali masuk kategori miskin apabila harga pangan terus meningkat.

Walaupun jumlah penduduk miskin berhasil turun dari 24,36 juta orang pada September 2024 menjadi 23,36 juta orang pada September 2025 atau sekitar 8,25 persen dari total penduduk, tren kenaikan harga beras dapat mengancam capaian tersebut.

Stabilitas Harga Jadi Kunci

Pemerintah dinilai perlu memperkuat pengendalian inflasi pangan melalui stabilisasi harga, distribusi beras yang efektif, serta optimalisasi cadangan beras pemerintah.

Keberhasilan menjaga stok beras nasional harus diikuti dengan kemampuan menekan harga di pasar. Dengan demikian, masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah, dapat memperoleh beras dengan harga yang terjangkau dan daya beli tetap terjaga.(Pro)

Berita Terkait

Laba Hutama Karya Lampaui Target Semester I 2026, Jalan Tol Trans Sumatera Jadi Penopang Utama
Taspen Desak PP Turunan UU ASN 2023 Segera Terbit, Jaminan Pensiun PPPK Jadi Sorotan
Rupiah Diprediksi Bergerak di Kisaran Rp17.950–Rp18.050, Sentimen S&P dan The Fed Jadi Sorotan
BPK Soroti Tata Kelola Danantara, Transparansi Laporan Keuangan BUMN Jadi Perhatian
Bulog Minta Maaf Usai Hama Gudang Serbu Permukiman Warga Karawang, Fumigasi dan Fogging Disiapkan
DPR dan Pemerintah Sepakati Target Ekonomi 2027 Tumbuh 5,8–6,5%, Danantara Diminta Beri Kontribusi Nyata
Swiss Buka Kesempatan Kerja untuk WNI Lewat Program Young Professionals
Mahasiswa Turun ke Jalan, Ancaman Pekerjaan Formal dan Menyusutnya Kelas Menengah Jadi Sorotan
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 22 Juli 2026 - 13:03 WIB

Laba Hutama Karya Lampaui Target Semester I 2026, Jalan Tol Trans Sumatera Jadi Penopang Utama

Selasa, 21 Juli 2026 - 09:42 WIB

Harga Beras Naik 6 Bulan Berturut-turut, Inflasi Pangan Mengancam Daya Beli dan Kemiskinan

Jumat, 10 Juli 2026 - 12:20 WIB

Taspen Desak PP Turunan UU ASN 2023 Segera Terbit, Jaminan Pensiun PPPK Jadi Sorotan

Kamis, 9 Juli 2026 - 08:32 WIB

Rupiah Diprediksi Bergerak di Kisaran Rp17.950–Rp18.050, Sentimen S&P dan The Fed Jadi Sorotan

Minggu, 5 Juli 2026 - 12:00 WIB

BPK Soroti Tata Kelola Danantara, Transparansi Laporan Keuangan BUMN Jadi Perhatian

Berita Terbaru