Okepost.id – Dalam survei mingguan yang melibatkan 15 analis, hanya 27% yang memprediksi harga emas akan naik pekan depan, sementara 20% memperkirakan penurunan. Sisanya, yakni 53%, melihat risiko harga emas cenderung seimbang dalam jangka pendek atau memilih untuk tidak mengambil posisi.
Berbanding terbalik dengan analis profesional, investor ritel justru menunjukkan optimisme yang lebih kuat. Dari 61 responden dalam jajak pendapat daring Kitco, sebanyak 59% memperkirakan harga emas akan naik, sementara 21% melihat potensi penurunan, dan 20% lainnya memperkirakan pergerakan konsolidasi.
Marc Chandler dari Bannockburn Global Forex menilai harga emas sempat pulih setelah tekanan sebelumnya, namun kembali melemah setelah pidato Presiden AS yang memicu ketidakpastian pasar.
Ia juga menyoroti adanya aksi jual emas oleh sejumlah negara, termasuk Turki, yang diduga untuk menopang stabilitas mata uang domestik.
Namun, Button juga mengingatkan adanya risiko tambahan dari sisi likuiditas global. Negara-negara pengimpor energi yang terdampak lonjakan harga minyak berpotensi menjual cadangan emas mereka untuk menjaga stabilitas ekonomi, yang bisa menekan harga dalam jangka pendek.
Analis dari CPM Group merekomendasikan investor untuk menahan diri sementara waktu, setidaknya hingga pertengahan April, dengan proyeksi harga emas bergerak di kisaran USD 4.100 hingga USD 4.850 per ons.
Pada saat penulisan, harga emas spot tercatat di USD 4.676,74 per ons, menguat 6,56% dalam sepekan, namun masih terkoreksi 1,71% secara harian.
Ke depan, pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat, mulai dari PMI jasa, pesanan barang tahan lama, risalah rapat The Fed, hingga data inflasi dan tenaga kerja. Kombinasi faktor fundamental dan geopolitik ini diperkirakan akan terus menjadi penentu arah harga emas dalam waktu dekat. (*)









