Okepost.id, Jakarta – Bitcoin masih mampu bertahan di atas level US$63.000 meski sempat terkoreksi setelah menyentuh US$64.400. Pasar kripto menunjukkan ketahanan di tengah aksi jual besar yang dilakukan Strategy dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
Mengutip CoinDesk, Selasa (8/7/2026), Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$63.170 setelah sempat menembus US$64.400 pada perdagangan sebelumnya. Dalam sepekan terakhir, aset kripto terbesar di dunia itu masih mencatat kenaikan sekitar 6 persen.
Tekanan jual muncul setelah Strategy mengumumkan penjualan 3.588 BTC dengan nilai sekitar US$216 juta. Transaksi tersebut menjadi aksi jual terbesar perusahaan sejak mengakhiri strategi untuk mempertahankan seluruh kepemilikan Bitcoin.
Di pasar altcoin, Ethereum bertahan di kisaran US$1.770 dan menguat sekitar 11,6 persen dalam sepekan. Sementara itu, XRP diperdagangkan di sekitar US$1,13, sedangkan Solana stabil di level US$80 setelah mempertahankan sebagian besar kenaikan mingguannya.
Pemulihan Bitcoin terjadi setelah sempat menyentuh level terendah dalam 21 bulan di sekitar US$58.000 pada akhir Juni. Sejak saat itu, harga berhasil kembali ke kisaran US$63.000, meski secara tahunan masih terkoreksi sekitar 20 persen pada paruh pertama 2026.
Analis ARP Digital, Yusuf Fakhro, menilai tekanan jual di pasar derivatif mulai mendekati fase akhir. Ia menyebut minat investor institusi masih melemah, terlihat dari posisi terbuka kontrak berjangka CME yang berada di level terendah dalam 32 bulan.
Namun, premi instrumen lindung nilai terhadap penurunan harga justru melonjak ke level tertinggi keempat sepanjang sejarah. Pola serupa pernah terjadi pada Juni dan November 2022 yang menjadi titik balik siklus pasar kripto.
Dari sisi eksternal, sentimen pasar kembali dipengaruhi kenaikan harga minyak. Minyak mentah Brent naik sekitar 0,6 persen menjadi US$72,45 per barel setelah sebuah kapal pengangkut LNG dilaporkan terkena proyektil di dekat pantai Oman saat meninggalkan Selat Hormuz.
Insiden tersebut kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah. Di saat yang sama, pasar saham Asia juga tertekan akibat aksi jual saham teknologi. Indeks Kospi Korea Selatan turun sekitar 6,7 persen, sementara saham Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing melemah sekitar 8,3 persen.
Meski tekanan global meningkat, Bitcoin mampu bertahan lebih stabil dibandingkan saham teknologi. Pelaku pasar kini menunggu perkembangan arus dana ke ETF Bitcoin serta situasi geopolitik di Selat Hormuz yang diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan harga kripto dalam jangka pendek.(Pro)









