Okepost.id, Jakarta – Kanal bancassurance masih menjadi motor utama pertumbuhan premi industri asuransi jiwa di Indonesia sepanjang 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kontribusi bancassurance mencapai 40,4 persen dari total premi industri asuransi jiwa hingga Maret 2026.
Bancassurance merupakan kerja sama antara perbankan dan perusahaan asuransi dalam memasarkan produk proteksi kepada nasabah bank. Sementara itu, kanal distribusi keagenan tercatat menyumbang 17,6 persen terhadap total premi industri.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono mengatakan dominasi bancassurance menunjukkan kanal tersebut masih menjadi penopang utama pertumbuhan premi industri asuransi jiwa dalam beberapa tahun terakhir.
“Hal ini didukung jaringan distribusi perbankan yang luas dan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap produk perlindungan yang terintegrasi dengan layanan keuangan,” ujarnya dalam lembar jawaban RDK OJK April 2026.
OJK menilai prospek bancassurance dan kanal keagenan masih akan terus berkembang seiring meningkatnya literasi keuangan, transformasi digital, serta inovasi produk yang semakin sesuai kebutuhan nasabah.
Meski demikian, regulator mengingatkan industri tetap harus memperhatikan tata kelola, perlindungan konsumen, dan kualitas pemasaran agar pertumbuhan premi berlangsung sehat dan berkelanjutan.
AAJI Dorong Produk Lebih Sederhana
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat kontribusi premi dari kanal bancassurance mencapai Rp76,91 triliun sepanjang 2025.
Direktur Eksekutif AAJI, Emira E. Oepangat menilai kemitraan perusahaan asuransi jiwa dan perbankan masih menjadi model distribusi yang efektif dalam menjangkau masyarakat luas.
Menurutnya, perusahaan asuransi perlu menghadirkan produk yang lebih sederhana, transparan, dan sesuai kebutuhan nasabah bank, terutama produk proteksi jangka panjang dengan skema premi reguler.
Selain itu, AAJI juga mendorong perusahaan dan bank menentukan target market yang lebih spesifik sesuai karakteristik nasabah masing-masing bank.
“Strategi segmentasi yang tepat akan membuat penetrasi lebih efektif dan tidak bersifat generik,” kata Emira.
AAJI juga menilai penguatan kompetensi tenaga pemasaran, integrasi sistem digital, serta pemanfaatan data analytics menjadi faktor penting untuk meningkatkan efisiensi underwriting dan kualitas layanan nasabah.
Prospek Bancassurance Dinilai Tetap Positif
Pengamat asuransi Dedi Kristianto menilai prospek bancassurance pada 2026 masih sangat positif dan diperkirakan tetap menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan premi asuransi jiwa.
Menurutnya, dukungan basis nasabah bank yang besar serta digitalisasi layanan perbankan menjadi faktor utama penguatan kanal distribusi tersebut.
Namun, industri juga diminta mewaspadai sejumlah tantangan seperti perlambatan daya beli masyarakat, risiko mis-selling, serta ketatnya persaingan bisnis.
“Perusahaan asuransi harus menjaga kualitas bisnis, layanan nasabah, dan persistensi polis agar pertumbuhan tetap sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dedi menyarankan perusahaan memperkuat kerja sama strategis dengan bank, mengembangkan produk yang relevan, serta memanfaatkan teknologi digital untuk menciptakan penawaran yang lebih personal kepada nasabah.
BCA Life Catat Pertumbuhan Premi 32,9%
Sementara itu, BCA Life menyebut bancassurance masih menjadi salah satu kanal distribusi utama perusahaan dengan kontribusi hampir 30 persen terhadap total pendapatan premi.
Presiden Direktur & CEO BCA Life, Eva Agrayani mengungkapkan pendapatan premi perusahaan sepanjang 2025 meningkat 32,9 persen secara tahunan menjadi Rp2 triliun.
Menurutnya, pertumbuhan tersebut ditopang kekuatan jaringan dan sinergi ekosistem Grup BCA yang memiliki basis nasabah luas dan tingkat kepercayaan tinggi.
“Kontribusi bancassurance sejalan dengan model bisnis BCA Life yang bertumpu pada kekuatan jaringan dan sinergi grup,” ujarnya. (Pro)









