Okepost.id, Jakarta – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (9/7/2026).
Mata uang Garuda diproyeksikan berada di kisaran Rp17.950 hingga Rp18.050 per dolar AS di tengah kuatnya sentimen global dan domestik.
Berdasarkan analisis Doo Financial Futures, rupiah pada penutupan perdagangan Rabu (8/7/2026) melemah tipis 0,19% ke level Rp18.014 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan tekanan terhadap rupiah meningkat setelah Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) Indonesia pada Juni mengalami penurunan.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap perlambatan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain itu, sentimen negatif juga datang dari pasar modal setelah S&P Dow Jones Indices memasukkan Indonesia ke dalam watchlist untuk potensi penurunan status pasar saham dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
Meski belum menjadi keputusan final, langkah tersebut dinilai meningkatkan kehati-hatian investor asing terhadap aset Indonesia, termasuk rupiah.
Di sisi eksternal, pelaku pasar masih menunggu rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Amerika Serikat. Dokumen tersebut diperkirakan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan mendatang.
Jika bank sentral AS kembali menunjukkan sikap hawkish, dolar AS berpotensi menguat sehingga menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sementara itu, dari dalam negeri investor juga menantikan rilis data penjualan ritel Indonesia yang akan menjadi indikator penting untuk mengukur daya beli masyarakat dan prospek pertumbuhan ekonomi pada semester II 2026.
Dengan berbagai sentimen tersebut, rupiah diperkirakan masih bergerak terbatas dalam rentang Rp17.950–Rp18.050 per dolar AS hingga muncul kepastian mengenai kondisi ekonomi domestik maupun arah kebijakan moneter Amerika Serikat.(Pro)









