Okepost.id – Persoalan gaji Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu kembali menjadi sorotan publik. Di sejumlah daerah, penghasilan yang diterima dinilai masih jauh dari kata layak.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak PPPK Paruh Waktu hanya menerima gaji dalam kisaran ratusan ribu rupiah. Bahkan, tidak sedikit pemerintah daerah (pemda) yang memberikan upah di bawah Rp500 ribu per bulan.
Isu ini turut disinggung oleh Suhardi Duka dalam acara Konferda DPD Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sulawesi Barat yang digelar di Mamuju, Sabtu (25/4/2026).
Gaji Rendah Dinilai Masuk Kategori Miskin Ekstrem
Dalam sambutannya, Suhardi Duka menyoroti kondisi tenaga kerja produktif yang belum terserap secara optimal. Ia menilai, banyak pekerja justru terjebak dalam pekerjaan dengan penghasilan sangat rendah, termasuk PPPK Paruh Waktu.
Menurutnya, PPPK Paruh Waktu dengan gaji di bawah Rp400 ribu per bulan sudah masuk kategori miskin ekstrem.
“Ada tenaga honorer atau PPPK paruh waktu dengan penghasilan sangat minim, bahkan di bawah Rp400 ribu per bulan. Itu sudah masuk kategori miskin ekstrem,” tegasnya.
Bonus Demografi Harus Dimanfaatkan
Dalam kesempatan yang sama, Suhardi Duka mengingatkan pentingnya memanfaatkan momentum bonus demografi yang diperkirakan berlangsung hingga 2035.
Ia mendorong kader GMNI untuk membangun karakter kuat serta jiwa kewirausahaan agar mampu bersaing di tengah ketatnya persaingan global.
“Sekarang bukan lagi soal menjadi PNS. Yang terpenting adalah bagaimana mampu menangkap peluang,” ujarnya.
Tekankan Nilai Nasionalisme dan Marhaenisme
Selain menyoroti isu ekonomi, Suhardi Duka juga menekankan pentingnya penanaman nilai ideologi dalam organisasi, khususnya nasionalisme dan marhaenisme.
Ia menilai, tanpa landasan ideologi yang kuat, arah perjuangan organisasi akan kehilangan tujuan.
“Nasionalisme dan marhaenisme harus benar-benar tertanam dalam diri setiap kader,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa kader harus berani bersikap ketika menemukan kebijakan yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut, baik melalui dialog maupun aksi.
Jangan Terjebak Pola Pikir Lama
Gubernur Sulawesi Barat itu turut mengingatkan generasi muda agar tidak lagi terpaku pada pola pikir lama yang menjadikan status aparatur sipil negara sebagai satu-satunya tolok ukur kesuksesan.
Menurutnya, peluang di sektor lain, terutama kewirausahaan, justru semakin terbuka luas di era global saat ini.
Apresiasi Solidaritas Kader GMNI
Di akhir sambutannya, Suhardi Duka memberikan apresiasi kepada kader GMNI Sulawesi Barat yang dinilai mampu menjaga persatuan di tengah dinamika internal organisasi.
Ia menilai hal tersebut mencerminkan semangat nasionalisme yang mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. (Pro)









