Okepost.id, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak volatil pada perdagangan pekan depan. Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG berada dalam rentang 6.450 hingga 6.700.
Investor akan mencermati keputusan kebijakan moneter sejumlah bank sentral utama dunia. Agenda tersebut dinilai dapat menentukan arah pasar keuangan global dalam beberapa hari ke depan.
Tim riset Phintraco Sekuritas menyebut perhatian investor akan tertuju pada Federal Reserve (The Fed) pada 16 September, Bank of England (BoE) pada 17 September, dan Bank of Japan (BoJ) pada 18 September 2026.
Harga Minyak dan Yield US Treasury Jadi Sorotan
Selain kebijakan bank sentral, pasar juga menghadapi tekanan dari kenaikan harga minyak mentah. Pergerakan komoditas tersebut dapat memengaruhi kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi global.
Phintraco Sekuritas sebelumnya menilai kenaikan harga minyak dan imbal hasil US Treasury menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan pelaku pasar.
Dari dalam negeri, investor akan memantau pergerakan nilai tukar rupiah serta imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Kedua indikator tersebut dapat memengaruhi sentimen pasar saham Indonesia.
IHSG Masih Berpeluang Menguat, tetapi Risiko Koreksi Ada
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas melihat IHSG masih mampu bertahan. Namun, investor tetap perlu mewaspadai potensi koreksi dan aksi ambil untung setelah pergerakan pasar sepanjang pekan ini.
IHSG menutup perdagangan Jumat, 11 September 2026, di level 6.541,38. Indeks melemah 0,73 persen setelah sempat menyentuh level 6.462.
Secara mingguan, IHSG tercatat turun 1,43 persen.
Dengan mempertimbangkan sentimen global, faktor domestik, serta indikator teknikal, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG pekan depan bergerak pada kisaran 6.450–6.700.
Investor pun disarankan mencermati perkembangan kebijakan bank sentral global dan indikator ekonomi sebelum menentukan strategi perdagangan. (Pro)









