Saham Murah PBV di Bawah 1 Kembali Jadi Incaran Investor

Saham

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 10 Mei 2026 - 09:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar ilustrasi AI

Gambar ilustrasi AI

Okepost.id, Jakarta – Sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia kembali menarik perhatian investor karena memiliki valuasi murah. Banyak emiten besar dengan omzet triliunan rupiah saat ini diperdagangkan dengan rasio Price to Book Value (PBV) di bawah 1 kali.

Kondisi tersebut membuat sebagian pelaku pasar mulai memburu saham undervalued atau saham yang dinilai masih berada di bawah nilai wajarnya.

PBV menjadi salah satu indikator penting dalam dunia investasi saham. Rasio ini membandingkan harga saham dengan nilai buku perusahaan. Ketika PBV berada di bawah 1, pasar menilai harga saham lebih rendah dibandingkan aset bersih perusahaan.

Banyak investor value investing memanfaatkan momentum tersebut untuk mengoleksi saham yang memiliki fundamental kuat namun belum mendapatkan apresiasi pasar secara maksimal.

Emiten Omzet Triliunan Masih Diperdagangkan Murah

Beberapa emiten dengan pendapatan besar tercatat masih memiliki valuasi rendah meski membukukan kinerja bisnis yang cukup solid sepanjang 2025.

Salah satu emiten yang ramai diperbincangkan ialah PT Indo Acidatama Tbk (SRSN). Perusahaan ini mencatat PBV sekitar 0,49 kali dengan omzet mencapai lebih dari Rp1 triliun. Perseroan juga berhasil meningkatkan laba secara signifikan sepanjang tahun lalu.

Baca Juga :  IHSG Masih Tertekan, Pasar Nantikan Keputusan BI Rate Pekan Ini

Selain itu, PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) juga masuk dalam daftar saham murah yang mulai dilirik investor. Emiten sektor pelayaran tersebut mencatat pendapatan belasan triliun rupiah, tetapi pasar masih menghargai sahamnya dengan PBV sekitar 0,6 kali.

Sementara itu, PT Paninvest Tbk (PNIN) bahkan memiliki PBV sangat rendah dibandingkan rata-rata pasar. Kondisi tersebut membuat saham perusahaan investasi itu mulai masuk radar investor jangka panjang.

Investor Mulai Terapkan Strategi Value Investing

Koreksi pasar saham dalam beberapa waktu terakhir mendorong investor ritel kembali menerapkan strategi value investing. Strategi tersebut fokus mencari saham berkualitas dengan harga murah.

Sebagian investor menilai kondisi pasar saat ini membuka peluang akumulasi, terutama pada saham-saham yang memiliki aset besar, laba stabil, dan valuasi rendah.

Meski demikian, analis mengingatkan investor agar tidak hanya terpaku pada angka PBV rendah. Pasar biasanya memiliki alasan tertentu ketika memberikan valuasi murah terhadap suatu emiten.

Baca Juga :  Aplikasi Trading Saham Terbaik 2026 Banyak Dicari, Ini Hal Penting yang Wajib Diperhatikan Investor

Karena itu, investor tetap perlu memeriksa kondisi fundamental perusahaan secara menyeluruh sebelum membeli saham.

Investor Perlu Perhatikan Faktor Fundamental

Selain PBV, investor perlu memperhatikan beberapa indikator penting lain sebelum mengambil keputusan investasi.

Beberapa faktor yang wajib diperhatikan antara lain:

pertumbuhan laba perusahaan,

arus kas operasional,

tingkat utang,

prospek industri,

serta konsistensi pendapatan.

Investor juga perlu memperhatikan likuiditas perdagangan saham agar lebih mudah melakukan transaksi jual beli di pasar.

Pengamat pasar modal menilai saham undervalued memang menawarkan potensi keuntungan menarik. Namun investor tetap harus menerapkan manajemen risiko dan strategi investasi yang matang agar dapat meminimalkan potensi kerugian.

Di tengah kondisi pasar yang masih fluktuatif pada 2026, saham dengan PBV di bawah 1 diperkirakan masih menjadi salah satu sektor yang paling banyak diburu investor domestik.(Pro)

Berita Terkait

IHSG Anjlok 3,05 Persen ke 5.643, Saham BBCA hingga ASII Tekan Pergerakan Indeks
IHSG Dibuka Melemah ke Level 5.782, Saham BBCA hingga TLKM Tekan Pergerakan Indeks
Top Broker BEI Pekan Ini Dipimpin UBS Sekuritas, Transaksi Saham Capai Puluhan Triliun Rupiah
IHSG Melonjak 7,38 Persen dalam Sepekan, BBCA hingga BREN Tercatat Jadi Penopang Utama Penguatan Indeks
IPO SpaceX, OpenAI, dan Anthropic Ancam Likuiditas Kripto, Investor Berpotensi Alihkan Dana ke Saham AS
IHSG Melonjak 1,25 Persen di Awal Perdagangan 12 Juni 2026, BBCA hingga DSSA Pimpin Penguatan
IHSG Hari Ini Berpotensi Terkoreksi Usai Melonjak 7,57 Persen, Ini 4 Saham Pilihan Analis
IHSG Berpotensi Lanjut Melemah ke Level 5.395, Ini Rekomendasi Saham Pilihan MNC Sekuritas
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 1 Juli 2026 - 08:19 WIB

IHSG Anjlok 3,05 Persen ke 5.643, Saham BBCA hingga ASII Tekan Pergerakan Indeks

Selasa, 30 Juni 2026 - 10:39 WIB

IHSG Dibuka Melemah ke Level 5.782, Saham BBCA hingga TLKM Tekan Pergerakan Indeks

Minggu, 14 Juni 2026 - 09:38 WIB

Top Broker BEI Pekan Ini Dipimpin UBS Sekuritas, Transaksi Saham Capai Puluhan Triliun Rupiah

Sabtu, 13 Juni 2026 - 16:37 WIB

IHSG Melonjak 7,38 Persen dalam Sepekan, BBCA hingga BREN Tercatat Jadi Penopang Utama Penguatan Indeks

Jumat, 12 Juni 2026 - 10:58 WIB

IPO SpaceX, OpenAI, dan Anthropic Ancam Likuiditas Kripto, Investor Berpotensi Alihkan Dana ke Saham AS

Berita Terbaru