Okepost.id, Jakarta – Sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia kembali menarik perhatian investor karena memiliki valuasi murah. Banyak emiten besar dengan omzet triliunan rupiah saat ini diperdagangkan dengan rasio Price to Book Value (PBV) di bawah 1 kali.
Kondisi tersebut membuat sebagian pelaku pasar mulai memburu saham undervalued atau saham yang dinilai masih berada di bawah nilai wajarnya.
PBV menjadi salah satu indikator penting dalam dunia investasi saham. Rasio ini membandingkan harga saham dengan nilai buku perusahaan. Ketika PBV berada di bawah 1, pasar menilai harga saham lebih rendah dibandingkan aset bersih perusahaan.
Banyak investor value investing memanfaatkan momentum tersebut untuk mengoleksi saham yang memiliki fundamental kuat namun belum mendapatkan apresiasi pasar secara maksimal.
Emiten Omzet Triliunan Masih Diperdagangkan Murah
Beberapa emiten dengan pendapatan besar tercatat masih memiliki valuasi rendah meski membukukan kinerja bisnis yang cukup solid sepanjang 2025.
Salah satu emiten yang ramai diperbincangkan ialah PT Indo Acidatama Tbk (SRSN). Perusahaan ini mencatat PBV sekitar 0,49 kali dengan omzet mencapai lebih dari Rp1 triliun. Perseroan juga berhasil meningkatkan laba secara signifikan sepanjang tahun lalu.
Selain itu, PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) juga masuk dalam daftar saham murah yang mulai dilirik investor. Emiten sektor pelayaran tersebut mencatat pendapatan belasan triliun rupiah, tetapi pasar masih menghargai sahamnya dengan PBV sekitar 0,6 kali.
Sementara itu, PT Paninvest Tbk (PNIN) bahkan memiliki PBV sangat rendah dibandingkan rata-rata pasar. Kondisi tersebut membuat saham perusahaan investasi itu mulai masuk radar investor jangka panjang.
Investor Mulai Terapkan Strategi Value Investing
Koreksi pasar saham dalam beberapa waktu terakhir mendorong investor ritel kembali menerapkan strategi value investing. Strategi tersebut fokus mencari saham berkualitas dengan harga murah.
Sebagian investor menilai kondisi pasar saat ini membuka peluang akumulasi, terutama pada saham-saham yang memiliki aset besar, laba stabil, dan valuasi rendah.
Meski demikian, analis mengingatkan investor agar tidak hanya terpaku pada angka PBV rendah. Pasar biasanya memiliki alasan tertentu ketika memberikan valuasi murah terhadap suatu emiten.
Karena itu, investor tetap perlu memeriksa kondisi fundamental perusahaan secara menyeluruh sebelum membeli saham.
Investor Perlu Perhatikan Faktor Fundamental
Selain PBV, investor perlu memperhatikan beberapa indikator penting lain sebelum mengambil keputusan investasi.
Beberapa faktor yang wajib diperhatikan antara lain:
pertumbuhan laba perusahaan,
arus kas operasional,
tingkat utang,
prospek industri,
serta konsistensi pendapatan.
Investor juga perlu memperhatikan likuiditas perdagangan saham agar lebih mudah melakukan transaksi jual beli di pasar.
Pengamat pasar modal menilai saham undervalued memang menawarkan potensi keuntungan menarik. Namun investor tetap harus menerapkan manajemen risiko dan strategi investasi yang matang agar dapat meminimalkan potensi kerugian.
Di tengah kondisi pasar yang masih fluktuatif pada 2026, saham dengan PBV di bawah 1 diperkirakan masih menjadi salah satu sektor yang paling banyak diburu investor domestik.(Pro)









