Okepost.id – Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dan cenderung melemah pada perdagangan hari ini, Senin (14/9/2026), di rentang Rp17.610—Rp17.650 per dolar AS. Sementara itu, dalam sepekan ke depan rupiah diproyeksikan bergerak pada level Rp17.500—Rp17.850 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan pergerakan rupiah dipengaruhi oleh sejumlah sentimen, baik dari eksternal maupun domestik. Dari eksternal, dia menyoroti kembali memuncaknya ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat yang disebut menjadi salah satu pertempuran terparah dalam beberapa bulan terakhir. Ketegangan tersebut mengindikasikan minimnya tanda-tanda penurunan eskalasi konflik yang kini telah memasuki bulan ketujuh. Kondisi ini juga mengganggu distribusi minyak mentah di pasar.
Kondisi ini mendorong para pedagang untuk memperhitungkan premi risiko yang jauh lebih tinggi dalam harga minyak mentah,” kata Ibrahim dalam keterangan resminya, Jumat (11/9/2026).
Data Trading Economics per 10 September 2026 menunjukkan harga minyak mentah Brent berada di level US$107,63 per barel. Harga tersebut kembali meningkat setelah pada Juli 2026 sempat diperdagangkan di level US$71,80 per barel. Dari sisi domestik, Ibrahim menyoroti harga minyak mentah dunia yang telah melampaui US$100 per barel. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi ketahanan fiskal Indonesia dan stabilitas ekonomi nasional, mengingat Indonesia merupakan importir neto minyak.
Menurutnya, kenaikan harga minyak mentah yang berada di atas asumsi APBN 2026 secara otomatis meningkatkan alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi BBM sehingga memperbesar risiko defisit. “Pemerintah dihadapkan pada dilema kebijakan fiskal dan moneter, ini yang membuat batu sandungan tersendiri.
Anggaran fiskal jebol karena beban subsidi yang tidak rasional dan pemerintah mempertahankan subsidi BBM. Kalau menaikkan Harga BBM, akan memicu inflasi tinggi, menurunkan daya beli masyarakat, dan berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan,” katanya.
Di tengah sentimen tersebut, rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 0,36% ke level Rp17.611 pada perdagangan sebelumnya. Pelemahan juga terjadi pada sejumlah mata uang Asia, seperti ringgit Malaysia yang turun 0,09%, rupee India 0,28%, dan peso Filipina 0,26%. Sebaliknya, won Korea menguat 0,38%, dolar Singapura naik 0,02%, yuan China menguat 0,03%, baht Thailand naik 0,09%, dan yen Jepang menguat 0,10%.
Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Senin (14/9/2026) bergerak fluktuatif dan cenderung melemah di rentang Rp17.610—Rp17.650. Adapun, untuk sepekan ke depan rupiah diperkirakan bergerak pada level Rp17.500—Rp17.850. (*)









