Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp18.020 per Dolar AS, Gejolak Global dan Defisit Dagang Jadi Pemicu

Penguatan dolar AS, konflik Timur Tengah, lonjakan harga minyak, dan defisit neraca perdagangan diperkirakan masih menekan pergerakan rupiah pada awal pekan.

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 27 Juli 2026 - 08:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Okepost.id, Jakarta – Nilai tukar rupiah diperkirakan kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Senin (27/7/2026). Kombinasi sentimen global dan domestik diprediksi masih membayangi pergerakan mata uang Garuda.

Berdasarkan data Bloomberg, Jumat (24/7/2026), rupiah ditutup melemah 0,15 persen ke level Rp17.963 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.936 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia berada di Rp17.973 per dolar AS.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan terhadap rupiah berasal dari menguatnya indeks dolar AS setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerapkan tarif impor baru sebesar 10 hingga 12,5 persen kepada 60 negara mitra dagang, termasuk Indonesia.

Baca Juga :  Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp17.750 per Dolar AS, Pasar Tunggu Keputusan Suku Bunga BI

Selain itu, memanasnya konflik di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga minyak dunia. Serangan kelompok Houthi terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi serta penolakan Iran terhadap usulan gencatan senjata meningkatkan kekhawatiran pasar global.

Menurut Ibrahim, kenaikan harga minyak diperparah oleh penghentian sementara terminal ekspor minyak Kazakhstan dan data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan. Kondisi tersebut membuka peluang Federal Reserve mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.

Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$1,61 miliar, mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut. Defisit dipicu lonjakan impor yang mencapai US$24,81 miliar atau naik 22,16 persen secara tahunan pada Mei 2026, terutama untuk bahan baku dan barang penolong.

Baca Juga :  Couple Budgeting di Valentine, blu by BCA Digital Dorong Pasangan Atur Keuangan Lebih Rapi

Tekanan tersebut dinilai dapat memengaruhi kinerja ekonomi nasional pada kuartal III-2026, terutama jika harga minyak tetap berada di atas asumsi APBN Perubahan sebesar US$83 per barel.

Untuk perdagangan hari ini, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp17.960 hingga Rp18.020 per dolar AS. Sementara sepanjang pekan ini, pergerakan rupiah diperkirakan berada dalam rentang Rp17.880 hingga Rp18.250 per dolar AS. (Pro)

Berita Terkait

Rupiah Melemah ke Rp17.878 per Dolar AS Pagi Ini, Kamis 13 Agustus 2026
Rupiah Dibuka Melemah 0,17%, Nilai Tukar Dolar AS Naik ke Rp17.780
Rupiah Menguat 0,36%, Jadi Salah Satu Mata Uang Terkuat di Asia Pagi Ini
Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp17.935 per Dolar AS
Senin 03 Agustus 2026, Rupiah Dibuka Perkasa, Dolar AS Turun ke Rp17.950
Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp18.160 per Dolar AS, Dipicu Geopolitik dan Sinyal The Fed
Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Rabu 29 Juli 2026
Rupiah Melemah ke Rp 18.087 per Dolar AS Pagi Ini
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 13:56 WIB

Rupiah Melemah ke Rp17.878 per Dolar AS Pagi Ini, Kamis 13 Agustus 2026

Selasa, 11 Agustus 2026 - 14:50 WIB

Rupiah Dibuka Melemah 0,17%, Nilai Tukar Dolar AS Naik ke Rp17.780

Senin, 10 Agustus 2026 - 12:59 WIB

Rupiah Menguat 0,36%, Jadi Salah Satu Mata Uang Terkuat di Asia Pagi Ini

Jumat, 7 Agustus 2026 - 10:50 WIB

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp17.935 per Dolar AS

Senin, 3 Agustus 2026 - 12:59 WIB

Senin 03 Agustus 2026, Rupiah Dibuka Perkasa, Dolar AS Turun ke Rp17.950

Berita Terbaru