IHSG Berpeluang Rebound Akhir Kuartal III 2026, Saham Bank Jumbo Jadi Andalan

Tekanan jual asing dan September Effect membayangi IHSG, tetapi peluang rebound tetap terbuka jika rupiah stabil dan saham bank jumbo kembali diakumulasi.

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 14 September 2026 - 18:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar ilustrasi

Gambar ilustrasi

Okepost.id, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai masih memiliki peluang untuk rebound pada akhir kuartal III 2026.

Peluang tersebut terbuka jika tekanan jual investor asing mulai mereda dan investor kembali mengakumulasi saham-saham berfundamental kuat.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, mengatakan pergerakan IHSG akan dipengaruhi sejumlah faktor global dan domestik.

Faktor tersebut antara lain aliran dana asing, stabilitas rupiah, kebijakan Bank Indonesia (BI) dan The Fed, imbal hasil US Treasury, kondisi geopolitik, harga komoditas, serta rebalancing indeks MSCI dan FTSE.

“Saya masih melihat peluang rebound apabila tekanan jual asing mulai mereda, rupiah stabil, dan investor kembali mengakumulasi saham-saham berfundamental kuat, khususnya big caps perbankan,” kata Nafan, Senin (14/9/2026).

IHSG Sempat Rebound ke 6.686

Peluang penguatan IHSG sebenarnya sudah terlihat pada 8 September 2026. Saat itu, indeks sempat rebound hingga level 6.686.

Penguatan tersebut juga diikuti kenaikan sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk BBRI dan BBCA.

Namun, Nafan mengingatkan bahwa peluang rebound masih bersifat volatil dan selektif.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG melemah 1,43 persen ke level 6.541,37 sepanjang perdagangan 7–11 September 2026.

Pada periode yang sama, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia turun 1,32 persen menjadi sekitar Rp11.446 triliun.

Baca Juga :  Top Losers Pekan Ini: ASPR Anjlok 37,85%, APIC dan LCKM Ikut Terseret

September Effect Bukan Satu-satunya Penyebab

Nafan menilai pelemahan IHSG tidak bisa hanya dikaitkan dengan fenomena September Effect.

Menurutnya, faktor fundamental dan makroekonomi tetap menjadi penggerak utama pasar. Investor juga mencermati arah suku bunga The Fed dan BI, nilai tukar rupiah, yield US Treasury, harga komoditas, geopolitik, serta kondisi likuiditas.

Rebalancing indeks MSCI yang berlaku sejak awal September dan rebalancing FTSE Russell pada 21 September 2026 juga berpotensi meningkatkan volatilitas pasar.

Karena itu, September Effect lebih tepat dilihat sebagai katalis musiman yang dapat memperbesar volatilitas, bukan penyebab tunggal koreksi IHSG.

Foreign Flow Masih Jadi Perhatian

Tekanan jual asing sebesar Rp2,7 triliun pada pekan lalu juga belum otomatis menunjukkan perubahan minat investor global terhadap aset Indonesia.

Pada Agustus 2026, investor asing masih mencatatkan net buy sekitar Rp1,19 triliun setelah melewati periode panjang net sell.

Bahkan pada 1 September 2026, investor asing sempat melakukan akumulasi besar dengan net buy mencapai Rp2,03 triliun.

Menurut Nafan, tekanan jual setelah penguatan IHSG masih dapat dibaca sebagai aksi ambil untung atau tactical rebalancing.

Namun, kondisi akan berbeda jika net sell berlangsung konsisten dan mulai menekan saham-saham big caps, terutama sektor perbankan.

Baca Juga :  IHSG Menguat, Tetapi Sejumlah Saham Justru Rontok Tajam

Level 6.400–6.500 Jadi Area Penting

Nafan melihat area IHSG 6.400–6.500 sebagai zona support penting. Level tersebut berada di sekitar area konsolidasi sekaligus menjadi zona psikologis bagi investor.

Jika IHSG mampu bertahan di atas area tersebut, peluang technical rebound masih terbuka.

Peluang semakin besar apabila aliran dana asing kembali positif dan investor mulai mengakumulasi saham-saham berkapitalisasi besar.

Sebaliknya, penembusan level 6.400 secara meyakinkan dengan volume transaksi besar dan diikuti net sell asing yang persisten dapat meningkatkan risiko koreksi lanjutan.

September Tidak Selalu Berakhir Merah

Secara historis, September memang sering dianggap sebagai bulan yang penuh tekanan bagi pasar saham.

Namun, pola tersebut tidak selalu berakhir dengan koreksi. IHSG masih mampu mencatat kenaikan 4,06 persen pada September 2021 dan kembali menguat 2,94 persen pada September 2025.

September Effect sendiri merupakan fenomena musiman yang menggambarkan kecenderungan imbal hasil saham lebih lemah dibandingkan bulan lainnya.

Fenomena tersebut termasuk anomali pasar karena hubungan sebab-akibatnya tidak dapat dijelaskan secara pasti.

Dengan kondisi tersebut, investor perlu mencermati pergerakan IHSG secara selektif. Stabilitas rupiah, foreign flow, kebijakan bank sentral, serta kinerja saham-saham big caps akan menjadi faktor penting untuk menentukan arah pasar hingga akhir kuartal III 2026. (Pro)

Berita Terkait

Pergerakan Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Senin 14 September 2026
IHSG Pekan Depan Diprediksi Bergerak 6.450–6.700, Pasar Cermati Kebijakan The Fed
Harga Emas Galeri 24, UBS, Antam & Antam Retro Hari Ini Beda Arah
Harga Emas Hari Ini di Pegadaian 31 Agustus 2026: Galeri 24 hingga UBS
Harga Emas Galeri 24, UBS, Antam & Antam Retro Hari Ini Beda Nasib
Harga emas tiga jenama yaitu Galeri 24, Antam dan UBS di Pegadaian pada hari ini Kamis 27 Agustus 2026 kompak turun
Rupiah Dibuka Melemah ke Rp 17.751 Per Dolar AS Hari Ini (27/8), Terburuk di Asia
Harga Emas Hari Ini 26 Agustus 2026: Antam, UBS, dan Galeri 24 Lengkap
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 18:53 WIB

IHSG Berpeluang Rebound Akhir Kuartal III 2026, Saham Bank Jumbo Jadi Andalan

Senin, 14 September 2026 - 08:47 WIB

Pergerakan Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Senin 14 September 2026

Sabtu, 12 September 2026 - 19:01 WIB

IHSG Pekan Depan Diprediksi Bergerak 6.450–6.700, Pasar Cermati Kebijakan The Fed

Rabu, 9 September 2026 - 14:07 WIB

Harga Emas Galeri 24, UBS, Antam & Antam Retro Hari Ini Beda Arah

Senin, 31 Agustus 2026 - 12:24 WIB

Harga Emas Hari Ini di Pegadaian 31 Agustus 2026: Galeri 24 hingga UBS

Berita Terbaru