Okepost.id, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai masih memiliki peluang untuk rebound pada akhir kuartal III 2026.
Peluang tersebut terbuka jika tekanan jual investor asing mulai mereda dan investor kembali mengakumulasi saham-saham berfundamental kuat.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, mengatakan pergerakan IHSG akan dipengaruhi sejumlah faktor global dan domestik.
Faktor tersebut antara lain aliran dana asing, stabilitas rupiah, kebijakan Bank Indonesia (BI) dan The Fed, imbal hasil US Treasury, kondisi geopolitik, harga komoditas, serta rebalancing indeks MSCI dan FTSE.
“Saya masih melihat peluang rebound apabila tekanan jual asing mulai mereda, rupiah stabil, dan investor kembali mengakumulasi saham-saham berfundamental kuat, khususnya big caps perbankan,” kata Nafan, Senin (14/9/2026).
IHSG Sempat Rebound ke 6.686
Peluang penguatan IHSG sebenarnya sudah terlihat pada 8 September 2026. Saat itu, indeks sempat rebound hingga level 6.686.
Penguatan tersebut juga diikuti kenaikan sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk BBRI dan BBCA.
Namun, Nafan mengingatkan bahwa peluang rebound masih bersifat volatil dan selektif.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG melemah 1,43 persen ke level 6.541,37 sepanjang perdagangan 7–11 September 2026.
Pada periode yang sama, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia turun 1,32 persen menjadi sekitar Rp11.446 triliun.
September Effect Bukan Satu-satunya Penyebab
Nafan menilai pelemahan IHSG tidak bisa hanya dikaitkan dengan fenomena September Effect.
Menurutnya, faktor fundamental dan makroekonomi tetap menjadi penggerak utama pasar. Investor juga mencermati arah suku bunga The Fed dan BI, nilai tukar rupiah, yield US Treasury, harga komoditas, geopolitik, serta kondisi likuiditas.
Rebalancing indeks MSCI yang berlaku sejak awal September dan rebalancing FTSE Russell pada 21 September 2026 juga berpotensi meningkatkan volatilitas pasar.
Karena itu, September Effect lebih tepat dilihat sebagai katalis musiman yang dapat memperbesar volatilitas, bukan penyebab tunggal koreksi IHSG.
Foreign Flow Masih Jadi Perhatian
Tekanan jual asing sebesar Rp2,7 triliun pada pekan lalu juga belum otomatis menunjukkan perubahan minat investor global terhadap aset Indonesia.
Pada Agustus 2026, investor asing masih mencatatkan net buy sekitar Rp1,19 triliun setelah melewati periode panjang net sell.
Bahkan pada 1 September 2026, investor asing sempat melakukan akumulasi besar dengan net buy mencapai Rp2,03 triliun.
Menurut Nafan, tekanan jual setelah penguatan IHSG masih dapat dibaca sebagai aksi ambil untung atau tactical rebalancing.
Namun, kondisi akan berbeda jika net sell berlangsung konsisten dan mulai menekan saham-saham big caps, terutama sektor perbankan.
Level 6.400–6.500 Jadi Area Penting
Nafan melihat area IHSG 6.400–6.500 sebagai zona support penting. Level tersebut berada di sekitar area konsolidasi sekaligus menjadi zona psikologis bagi investor.
Jika IHSG mampu bertahan di atas area tersebut, peluang technical rebound masih terbuka.
Peluang semakin besar apabila aliran dana asing kembali positif dan investor mulai mengakumulasi saham-saham berkapitalisasi besar.
Sebaliknya, penembusan level 6.400 secara meyakinkan dengan volume transaksi besar dan diikuti net sell asing yang persisten dapat meningkatkan risiko koreksi lanjutan.
September Tidak Selalu Berakhir Merah
Secara historis, September memang sering dianggap sebagai bulan yang penuh tekanan bagi pasar saham.
Namun, pola tersebut tidak selalu berakhir dengan koreksi. IHSG masih mampu mencatat kenaikan 4,06 persen pada September 2021 dan kembali menguat 2,94 persen pada September 2025.
September Effect sendiri merupakan fenomena musiman yang menggambarkan kecenderungan imbal hasil saham lebih lemah dibandingkan bulan lainnya.
Fenomena tersebut termasuk anomali pasar karena hubungan sebab-akibatnya tidak dapat dijelaskan secara pasti.
Dengan kondisi tersebut, investor perlu mencermati pergerakan IHSG secara selektif. Stabilitas rupiah, foreign flow, kebijakan bank sentral, serta kinerja saham-saham big caps akan menjadi faktor penting untuk menentukan arah pasar hingga akhir kuartal III 2026. (Pro)









