Yen Pimpin Asia Tendang Dolar, Rupiah – Ringgit Perkasa, Won Jatuh

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 10 Juli 2026 - 16:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Okepost.id – Jelang akhir pekan, mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (10/7/2026). Penguatan terjadi di tengah pelemahan indeks dolar AS di pasar global.
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, sembilan dari sepuluh mata uang Asia berhasil menguat dari dolar AS, sementara satu mata uang Asia masih gagal memanfaatkan momentum ini.

Rupiah ikut bergerak di zona hijau. Mata uang Garuda menguat 0,11% ke posisi Rp18.050/US$. Meski menguat, rupiah masih berada di atas level psikologis Rp18.000/US$.

Penguatan paling tajam pagi ini dicatatkan yen Jepang yang naik 0,55% ke posisi JPY 161,46/US$. Ringgit Malaysia menyusul dengan penguatan 0,32% ke posisi MYR 4,061/US$.

Baht Thailand juga menguat 0,24% ke THB 33,26/US$, sementara dolar Taiwan naik 0,22% ke TWD 32,077/US$.
Yuan China ikut terapresiasi 0,19% ke posisi CNY 6,779/US$. Dolar Singapura dan peso Filipina sama-sama menguat 0,16%, masing-masing ke SGD 1,289/US$ dan PHP 61,520/US$.

Dong Vietnam menguat tipis 0,02% ke posisi VND 26.284/US$. Di sisi lain, won Korea Selatan menjadi satu-satunya mata uang Asia yang melemah, yakni turun 0,04% ke posisi KRW 1.505,78/US$. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau melemah 0,18% ke posisi 100,725 pada pagi ini. Pelemahan dolar AS ini menjadi dorongan positif bagi sebagian besar mata uang Asia pada pagi ini.

Baca Juga :  Daftar Harga Pangan usai Libur Lebaran: Bawang hingga Telur Ayam Naik

Dolar AS melemah dalam dua hari beruntun setelah pasar mencermati kembali perkembangan ketegangan AS-Iran, harga minyak, serta arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).

Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran melancarkan serangan terhadap infrastruktur militer AS di negara-negara Teluk. Serangan itu dilakukan setelah AS menyerang wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran. Kondisi ini kembali menekan kesepakatan gencatan senjata yang baru berusia sekitar tiga pekan.

Namun, harga minyak justru berbalik melemah dari level tertingginya. Minyak mentah AS turun 2,65% ke US$71,57 per barel, sementara Brent melemah 2,95% ke US$75,72 per barel. Penurunan harga minyak terjadi karena pasar mulai khawatir bahwa inflasi yang lebih tinggi dapat menekan pertumbuhan global.

Direktur FX and precious metals risk management Silver Gold Bull, Erik Bregar, menilai pasar masih berada dalam situasi yang tidak mudah dibaca.
“Bisa dikatakan ada banyak kebingungan,” ujar Bregar dikutip dari Reuters.

Menurutnya, pergerakan harga yang cenderung mendatar menunjukkan pasar masih mencoba membaca kondisi sebenarnya. Namun, arah perdagangan tetap akan sangat dipengaruhi oleh nada dari berita berikutnya.

Baca Juga :  Kredensialing Jadi Kunci Hadirkan Layanan JKN Berkualitas

Di sisi suku bunga, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed mulai sedikit mereda. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada rapat 28-29 Juli turun menjadi 26,2%, dari 31% pada sesi sebelumnya. Untuk FOMC September, peluang kenaikan suku bunga berada di 61,7%, turun dari 66,6% pada Rabu, tetapi masih lebih tinggi dibandingkan 54,1% sepekan sebelumnya.

Risalah rapat The Fed pada 16-17 Juni, yang menjadi rapat pertama di bawah Ketua The Fed Kevin Warsh, menunjukkan kekhawatiran terhadap inflasi masih meningkat di kalangan pembuat kebijakan. Bahkan, beberapa peserta rapat melihat adanya alasan untuk segera menaikkan suku bunga.

Namun, Presiden The Fed New York John Williams mengatakan pada Kamis bahwa meski konflik di Timur Tengah kembali memanas, ia tidak memperkirakan kenaikan harga energi akan berlangsung secara berkelanjutan sepanjang sisa tahun ini.

Dari sisi ekonomi AS, klaim pengangguran mingguan turun 2.000 menjadi 215.000. Angka ini lebih rendah dari perkiraan ekonom sebesar 218.000, sehingga menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih relatif stabil. (*)

Berita Terkait

BGN Wajibkan Ompreng MBG Cantumkan Batas Waktu Konsumsi Mulai Pekan Depan
PPPK Paruh Waktu Bisa Diangkat Jadi Penuh Waktu Usai Kontrak Setahun, Ini Syarat Resminya
Komisi II DPR Dukung Bantuan Rp20,5 Triliun untuk Pemda, Gaji PPPK dan PNS Segera Terbayar
Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp17.935 per Dolar AS
Pemerintah Mau Jadikan BPJS Kesehatan Syarat Wajib Urus Paspor
Kemendagri Godok Skema DAU untuk Bantu Daerah Bayar Gaji PPPK, Menunggu Restu Kemenkeu
WFH ASN Resmi Diperpanjang Mulai Agustus, Pemerintah Sebut Birokrasi Makin Modern dan Efisien
PPPK dan PPPK Paruh Waktu Menanti Pidato Presiden Prabowo 14 Agustus, Berharap Ada Kabar Baik soal Status dan Gaji
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 16:20 WIB

BGN Wajibkan Ompreng MBG Cantumkan Batas Waktu Konsumsi Mulai Pekan Depan

Jumat, 7 Agustus 2026 - 19:45 WIB

PPPK Paruh Waktu Bisa Diangkat Jadi Penuh Waktu Usai Kontrak Setahun, Ini Syarat Resminya

Jumat, 7 Agustus 2026 - 11:21 WIB

Komisi II DPR Dukung Bantuan Rp20,5 Triliun untuk Pemda, Gaji PPPK dan PNS Segera Terbayar

Jumat, 7 Agustus 2026 - 10:50 WIB

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp17.935 per Dolar AS

Rabu, 5 Agustus 2026 - 14:21 WIB

Pemerintah Mau Jadikan BPJS Kesehatan Syarat Wajib Urus Paspor

Berita Terbaru

Artikel

11 Manfaat Daun Sirih, Baik untuk Kewanitaan hingga Energi

Minggu, 9 Agu 2026 - 18:01 WIB

Daerah

Jaga Sportivitas, Wako Alfin Ikuti Laga Sepak Bola

Minggu, 9 Agu 2026 - 17:49 WIB

Internasional

Malaysia Airlines Wajibkan 1.260 Pilot Tes Narkoba Usai Kasus Soetta

Minggu, 9 Agu 2026 - 16:57 WIB