Rupiah Diproyeksi Tembus Rp18.350 per Dolar AS, Sentimen Global dan Krisis Kepercayaan Pasar Jadi Pemicu

Tekanan risk-off global, konflik Timur Tengah, dan penurunan cadangan devisa diperkirakan masih membebani pergerakan rupiah pada perdagangan Selasa, 9 Juni 2026.

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 9 Juni 2026 - 09:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar ilustrasi

Gambar ilustrasi

Okepost.id, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Selasa (9/6/2026).

Mata uang Garuda berpotensi berada di kisaran Rp18.200 hingga Rp18.350 per dolar AS seiring meningkatnya tekanan eksternal dan sentimen negatif domestik.

Berdasarkan data TradingView, rupiah ditutup melemah 0,75 persen ke level Rp18.170 per dolar AS pada akhir perdagangan Senin (8/6/2026). Pelemahan tersebut terjadi di tengah penguatan dolar AS dan depresiasi mayoritas mata uang Asia.

Sejumlah mata uang regional tercatat mengalami tekanan terhadap dolar AS. Yuan China turun 0,27 persen, dolar Taiwan melemah 0,01 persen, ringgit Malaysia terkoreksi 1,12 persen, baht Thailand turun 0,24 persen, dolar Hong Kong melemah 0,03 persen, dan yen Jepang terkoreksi 0,04 persen.

Di sisi lain, beberapa mata uang Asia masih mampu mencatatkan penguatan. Won Korea Selatan menguat 1,77 persen, rupee India naik 0,76 persen, dan peso Filipina terapresiasi 0,09 persen. Sementara dolar Singapura bergerak relatif stabil.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor global dan domestik. Menurutnya, meningkatnya sentimen risk-off global, penguatan dolar AS, serta memanasnya konflik di Timur Tengah membuat investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.

Baca Juga :  Harga Beras Naik Rekor Meski Stok Melimpah, Ini Penyebabnya

Selain faktor eksternal, rupiah juga masih menghadapi tekanan dari dalam negeri. Lukman menyebut krisis kepercayaan pasar dan menurunnya cadangan devisa Indonesia menjadi sentimen yang terus membebani pergerakan mata uang nasional.

“Rupiah melemah cukup besar di tengah sentimen risk-off global dan penguatan dolar AS. Dari domestik, sentimen yang berkembang masih berkaitan dengan krisis kepercayaan pasar serta menurunnya cadangan devisa,” ujar Lukman.

Ia memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut sepanjang perdagangan hari ini. Investor juga akan mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang semakin menjauh dari harapan terciptanya perdamaian dalam waktu dekat.

Selain itu, koreksi yang terjadi pada saham-saham teknologi global turut memicu aksi jual di pasar keuangan internasional. Kondisi tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Meski demikian, Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) menilai pelemahan rupiah dan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum mengurangi daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi jangka panjang.

Baca Juga :  Rupiah Melemah ke Rp17.891 per Dolar AS, Ini Faktor yang Menekan Pasar

Ketua Umum HKI, Ma’ruf, mengatakan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global justru membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi baru. Banyak perusahaan multinasional saat ini tengah meninjau ulang rantai pasok global mereka dan mencari lokasi investasi yang lebih kompetitif.

Menurutnya, fokus utama saat ini bukan sekadar merespons gejolak pasar, melainkan memastikan investasi dapat masuk dan terealisasi lebih cepat.

Penyederhanaan regulasi, percepatan perizinan, sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah, kepastian tata ruang, hingga penyediaan energi dan infrastruktur menjadi faktor penting dalam memenangkan persaingan investasi global.

“Investor pada dasarnya mencari tiga hal, yaitu kepastian, kecepatan, dan kemudahan. Jika ketiganya dapat diberikan secara konsisten, Indonesia akan tetap kompetitif meskipun dunia sedang menghadapi tekanan ekonomi dan geopolitik,” kata Ma’ruf.

HKI juga mengapresiasi langkah pemerintah, Bank Indonesia, dan otoritas keuangan yang terus menjaga stabilitas sistem keuangan nasional serta meningkatkan daya tarik aset domestik guna mempertahankan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.(Pro)

Berita Terkait

Harga Emas Perhiasan Hari Ini 9 Juni 2026 Naik? Simak Daftar Lengkap per Gram dari 18K hingga 24K
Harga Emas Perhiasan Hari Ini 8 Juni 2026 Stabil, Cek Daftar Lengkap dari 24 Karat hingga 13 Karat
Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp18.250 per Dolar AS, Konflik AS-Iran dan Ancaman PHK Jadi Sorotan
Harga Emas Antam Hari Ini 7 Juni 2026 Stabil, Pecahan 0,5 Gram Dibanderol Rp1,41 Juta
Gaji Ke-13 ASN dan Pensiunan Belum Cair? Ini Penyebabnya dan Langkah yang Harus Dilakukan
Harga Emas Pegadaian Galeri 24, Antam & UBS Hari Ini, Cek Buybacknya
Dolar AS Sentuh Rp18.000, Ini Faktor yang Menekan Rupiah
Gaji ke-13 ASN Cair, Ekonom Prediksi Konsumsi Masyarakat Tetap Terjaga pada Semester II 2026
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 09:19 WIB

Rupiah Diproyeksi Tembus Rp18.350 per Dolar AS, Sentimen Global dan Krisis Kepercayaan Pasar Jadi Pemicu

Selasa, 9 Juni 2026 - 09:04 WIB

Harga Emas Perhiasan Hari Ini 9 Juni 2026 Naik? Simak Daftar Lengkap per Gram dari 18K hingga 24K

Senin, 8 Juni 2026 - 09:28 WIB

Harga Emas Perhiasan Hari Ini 8 Juni 2026 Stabil, Cek Daftar Lengkap dari 24 Karat hingga 13 Karat

Senin, 8 Juni 2026 - 09:08 WIB

Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp18.250 per Dolar AS, Konflik AS-Iran dan Ancaman PHK Jadi Sorotan

Minggu, 7 Juni 2026 - 11:04 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini 7 Juni 2026 Stabil, Pecahan 0,5 Gram Dibanderol Rp1,41 Juta

Berita Terbaru

Artikel

Cara Membuat Singkong Krispi, Renyah di Luar Lembut di Dalam

Selasa, 9 Jun 2026 - 12:15 WIB

Otomotif

Motor Listrik MBG Bisa Dikredit, Segini Cicilannya per Bulan

Selasa, 9 Jun 2026 - 08:57 WIB