Okepost.id, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Selasa (9/6/2026).
Mata uang Garuda berpotensi berada di kisaran Rp18.200 hingga Rp18.350 per dolar AS seiring meningkatnya tekanan eksternal dan sentimen negatif domestik.
Berdasarkan data TradingView, rupiah ditutup melemah 0,75 persen ke level Rp18.170 per dolar AS pada akhir perdagangan Senin (8/6/2026). Pelemahan tersebut terjadi di tengah penguatan dolar AS dan depresiasi mayoritas mata uang Asia.
Sejumlah mata uang regional tercatat mengalami tekanan terhadap dolar AS. Yuan China turun 0,27 persen, dolar Taiwan melemah 0,01 persen, ringgit Malaysia terkoreksi 1,12 persen, baht Thailand turun 0,24 persen, dolar Hong Kong melemah 0,03 persen, dan yen Jepang terkoreksi 0,04 persen.
Di sisi lain, beberapa mata uang Asia masih mampu mencatatkan penguatan. Won Korea Selatan menguat 1,77 persen, rupee India naik 0,76 persen, dan peso Filipina terapresiasi 0,09 persen. Sementara dolar Singapura bergerak relatif stabil.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor global dan domestik. Menurutnya, meningkatnya sentimen risk-off global, penguatan dolar AS, serta memanasnya konflik di Timur Tengah membuat investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
Selain faktor eksternal, rupiah juga masih menghadapi tekanan dari dalam negeri. Lukman menyebut krisis kepercayaan pasar dan menurunnya cadangan devisa Indonesia menjadi sentimen yang terus membebani pergerakan mata uang nasional.
“Rupiah melemah cukup besar di tengah sentimen risk-off global dan penguatan dolar AS. Dari domestik, sentimen yang berkembang masih berkaitan dengan krisis kepercayaan pasar serta menurunnya cadangan devisa,” ujar Lukman.
Ia memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut sepanjang perdagangan hari ini. Investor juga akan mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang semakin menjauh dari harapan terciptanya perdamaian dalam waktu dekat.
Selain itu, koreksi yang terjadi pada saham-saham teknologi global turut memicu aksi jual di pasar keuangan internasional. Kondisi tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Meski demikian, Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) menilai pelemahan rupiah dan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum mengurangi daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi jangka panjang.
Ketua Umum HKI, Ma’ruf, mengatakan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global justru membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi baru. Banyak perusahaan multinasional saat ini tengah meninjau ulang rantai pasok global mereka dan mencari lokasi investasi yang lebih kompetitif.
Menurutnya, fokus utama saat ini bukan sekadar merespons gejolak pasar, melainkan memastikan investasi dapat masuk dan terealisasi lebih cepat.
Penyederhanaan regulasi, percepatan perizinan, sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah, kepastian tata ruang, hingga penyediaan energi dan infrastruktur menjadi faktor penting dalam memenangkan persaingan investasi global.
“Investor pada dasarnya mencari tiga hal, yaitu kepastian, kecepatan, dan kemudahan. Jika ketiganya dapat diberikan secara konsisten, Indonesia akan tetap kompetitif meskipun dunia sedang menghadapi tekanan ekonomi dan geopolitik,” kata Ma’ruf.
HKI juga mengapresiasi langkah pemerintah, Bank Indonesia, dan otoritas keuangan yang terus menjaga stabilitas sistem keuangan nasional serta meningkatkan daya tarik aset domestik guna mempertahankan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.(Pro)









