Okepost.id, Jakarta – Nilai tukar rupiah bergerak fluktuatif pada perdagangan Selasa (7/7/2026). Rupiah sempat dibuka melemah 0,03% ke level Rp18.000 per dolar AS.
Tak lama kemudian, mata uang Garuda berbalik menguat ke Rp17.988 per dolar AS pada pukul 09.05 WIB dan kembali menguat menjadi Rp17.980 per dolar AS sekitar pukul 09.23 WIB.
Pergerakan rupiah masih menunjukkan volatilitas tinggi. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah bahkan sempat menyentuh Rp18.006 per dolar AS dalam perdagangan intraday.
Penguatan rupiah didukung oleh kenaikan mayoritas mata uang Asia. Won Korea Selatan memimpin penguatan sebesar 0,35%, diikuti ringgit Malaysia dan yen Jepang yang sama-sama naik 0,16%.
Sentimen positif berasal dari pernyataan Gubernur Federal Reserve, Christopher Waller. Ia menegaskan bahwa bank sentral Amerika Serikat tetap menggunakan forward guidance secara fleksibel sebagai bagian dari kebijakan moneter.
Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed di bawah kepemimpinan baru.
Meski sentimen global membaik, rupiah masih menghadapi tekanan dari dalam negeri. Arus keluar dana asing dari pasar saham, dampak sentimen MSCI, defisit transaksi berjalan, serta defisit fiskal masih membatasi ruang penguatan mata uang Indonesia.
Ekonom Citi, Helmi Arman, memperkirakan defisit transaksi berjalan akan menyempit menjadi sekitar 1% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal III 2026.
Pada kuartal IV 2026, defisit diproyeksikan turun di bawah 1% berkat penurunan harga minyak, meningkatnya produksi pertambangan, dan melambatnya impor.
Di sisi lain, ketidakpastian kebijakan masih menahan pertumbuhan investasi swasta dan investasi asing langsung (FDI). Kondisi tersebut membuat Indonesia semakin bergantung pada arus investasi portofolio sehingga rupiah lebih sensitif terhadap perubahan sentimen pasar global.
Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, Lionel Priyadi, memproyeksikan rupiah akan kembali menguji level psikologis Rp18.000 per dolar AS dengan kisaran pergerakan Rp18.000 hingga Rp18.100 per dolar AS.
Selain itu, pelaku pasar menanti rilis data cadangan devisa Indonesia. Hingga akhir Mei 2026, cadangan devisa tercatat sebesar 144,9 miliar dolar AS setelah mengalami penurunan selama lima bulan berturut-turut. Posisi tersebut masih setara dengan 5,5 bulan kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. (Pro)









