Okepost.id, Jakarta – Pergerakan positif diperkirakan akan mewarnai perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin (15/6/2026). Sentimen tersebut dipicu oleh tercapainya kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang turut memengaruhi pasar komoditas global.
Analis Investasi Stockbit, Edi Chandren, menyampaikan bahwa penurunan harga minyak dunia sekitar 4 persen dan kenaikan harga emas sekitar 2 persen menjadi respons awal pasar terhadap kesepakatan tersebut.
Harga minyak yang berada di kisaran US$80 per barel dinilai dapat mengurangi tekanan fiskal pemerintah. Kondisi itu juga berpotensi memberikan dukungan terhadap penguatan rupiah serta saham-saham berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia.
Secara sektoral, saham emiten komoditas seperti EMAS, BRMS, ARCI, dan HRTA diperkirakan memperoleh sentimen positif. Di sisi lain, berkurangnya kekhawatiran investor terhadap risiko global dipandang dapat mendorong minat pada saham-saham konglomerasi.
Pada awal perdagangan, sejumlah saham yang terafiliasi dengan pengusaha Happy Hapsoro tercatat menguat. Saham BUVA naik 7,10 persen menjadi Rp830, MINA menguat 7,64 persen ke Rp310, RAJA bertambah 4,80 persen ke Rp3.930, sementara RATU naik 4,46 persen menjadi Rp4.920.
Penguatan juga terjadi pada saham-saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu. BREN melonjak 6,13 persen ke Rp4.330, BRPT naik 5,59 persen menjadi Rp1.795, CDIA menguat 5,80 persen ke Rp730, CUAN bertambah 6,25 persen ke Rp765, dan TPIA naik 7,30 persen ke Rp1.985.
Sementara itu, saham-saham Grup Salim turut bergerak di zona hijau. ICBP naik 4,33 persen menjadi Rp6.625, INDF menguat 1,56 persen ke Rp6.525, LSIP naik 4 persen ke Rp1.300, dan SIMP bertambah 3,74 persen menjadi Rp555.
Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan telah tercapainya kesepakatan gencatan senjata dengan Iran. Kesepakatan tersebut juga diikuti dengan pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz tanpa pungutan biaya.
Melalui pernyataan yang diunggah di platform Truth Social, Trump menyebut blokade Angkatan Laut AS akan dicabut dan aktivitas pelayaran internasional dapat kembali berjalan normal. Langkah tersebut dinilai berpotensi menstabilkan pasokan energi global sekaligus meredakan ketidakpastian di pasar keuangan internasional.
Kembalinya akses penuh di Selat Hormuz diperkirakan akan menjaga kelancaran distribusi minyak dunia, yang selama ini sangat bergantung pada jalur pelayaran strategis tersebut. Kondisi itu menjadi salah satu faktor yang mendukung optimisme investor terhadap prospek pasar saham Indonesia dalam jangka pendek.(Pro)









