IHSG Melonjak 4 Persen, Rupiah Menguat dan Investor Lokal Borong Saham Unggulan

Penguatan rupiah, kenaikan suku bunga BI, dan optimisme perdamaian AS-Iran menjadi pendorong utama reli IHSG. Investor domestik tampil sebagai motor penggerak pasar di tengah sikap hati-hati investor asing.

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 16 Juni 2026 - 12:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Okepost.id, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan tren positif pada pertengahan Juni 2026. Penguatan nilai tukar rupiah, kebijakan Bank Indonesia, serta meningkatnya optimisme global berhasil mengangkat kepercayaan pelaku pasar setelah beberapa pekan dilanda tekanan.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG ditutup menguat 4,12 persen ke posisi 6.254,97 pada perdagangan Senin (15/6/2026). Bahkan, indeks sempat menyentuh level 6.345 pada sesi intraday sebelum akhirnya ditutup di zona hijau.

Kenaikan tersebut menjadi salah satu penguatan harian terbesar dalam beberapa pekan terakhir. Pelaku pasar merespons positif perkembangan geopolitik global, terutama rencana penandatanganan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Swiss pada 19 Juni 2026.

Investor Domestik Jadi Penggerak Utama IHSG

Penguatan IHSG kali ini lebih banyak ditopang oleh investor domestik. Mereka aktif memborong saham-saham unggulan yang memiliki kapitalisasi pasar besar dan likuiditas tinggi.

Sepanjang periode 8 hingga 12 Juni 2026, investor lokal mencatatkan pembelian bersih terbesar pada saham sektor perbankan dan industri besar. Langkah tersebut membantu menjaga momentum kenaikan indeks ketika investor asing masih cenderung berhati-hati.

Research Consulting Team The Indonesia Capital Market Institute (TICMI), Frits Tarihoran, menilai kondisi tersebut mencerminkan mulai pulihnya kepercayaan pasar. Namun, ia mengingatkan bahwa penguatan saat ini belum sepenuhnya menunjukkan perubahan tren jangka panjang.

Menurutnya, investor mulai kembali berani mengambil risiko. Akan tetapi, pasar masih berada dalam tahap pemulihan sehingga diperlukan dukungan sentimen yang lebih kuat untuk mempertahankan reli dalam jangka panjang.

Baca Juga :  IPO SpaceX, OpenAI, dan Anthropic Ancam Likuiditas Kripto, Investor Berpotensi Alihkan Dana ke Saham AS

Asing Mulai Masuk, Tetapi Belum Agresif

Di tengah penguatan pasar, investor asing mulai melakukan akumulasi pada beberapa saham pilihan. Namun, aktivitas tersebut masih bersifat selektif dan belum mencerminkan kembalinya arus modal asing secara besar-besaran.

Sepanjang tahun 2026, investor asing masih membukukan aksi jual bersih yang cukup besar. Karena itu, penguatan IHSG saat ini lebih banyak didorong oleh rotasi dana investor domestik dibandingkan masuknya dana asing.

Kondisi ini menunjukkan pelaku pasar global masih mencermati berbagai faktor risiko, mulai dari kondisi fiskal Indonesia hingga arah kebijakan ekonomi pemerintah ke depan.

Rupiah dan Kebijakan BI Beri Nafas Baru bagi Pasar

Selain sentimen global, penguatan rupiah menjadi faktor penting yang mendukung kenaikan pasar saham. Stabilitas nilai tukar dinilai mampu meredakan kekhawatiran terhadap potensi arus modal keluar dan tekanan biaya impor.

Di saat yang sama, keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen juga memberikan sinyal bahwa otoritas moneter berupaya menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Kombinasi kedua faktor tersebut membuat investor lebih optimistis terhadap prospek pasar keuangan Indonesia dalam jangka menengah.

Evaluasi Program MBG Direspons Positif Investor

Pasar juga menyambut baik langkah pemerintah yang membuka ruang evaluasi terhadap sejumlah program prioritas, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Baca Juga :  MSCI Coret ANTM dari Indeks Global, Tata Kelola BUMN Jadi Sorotan

Pelaku pasar menilai evaluasi tersebut dapat membantu menjaga kesehatan fiskal negara. Investor asing selama ini menaruh perhatian besar terhadap kemampuan pemerintah mengelola anggaran secara berkelanjutan.

Selain itu, penyesuaian harga Pertamax turut dipandang sebagai langkah yang mendukung disiplin fiskal dan mengurangi tekanan terhadap anggaran negara.

Obligasi Danantara Jadi Sinyal Positif

Keberhasilan Danantara Investment Management menerbitkan obligasi global senilai US$1,5 miliar turut memperkuat sentimen pasar.

Instrumen tersebut mendapat respons positif dari investor internasional dengan nilai pemesanan mencapai sekitar US$4,6 miliar atau lebih dari tiga kali lipat jumlah yang diterbitkan.

Tingginya minat investor menunjukkan pasar global masih melihat Indonesia sebagai tujuan investasi yang menarik, meskipun tetap memperhitungkan berbagai risiko yang ada.

Saham Tambang Berpeluang Lanjut Menguat

Sektor pertambangan mineral dan batu bara juga memperoleh angin segar dari sejumlah kebijakan pemerintah. Relaksasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) memberi peluang bagi perusahaan untuk meningkatkan produksi ketika harga komoditas berada dalam tren positif.

Selain itu, kepastian bahwa skema gross split hanya berlaku untuk sektor migas memberikan kejelasan bagi pelaku industri pertambangan.

Dengan harga mineral yang masih relatif tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, saham-saham berbasis nikel dan komoditas diperkirakan tetap menjadi perhatian investor dalam beberapa waktu mendatang.

Meski demikian, pasar masih akan mencermati sejumlah faktor penting, seperti kondisi fiskal nasional, peringkat utang Indonesia, perkembangan ekonomi global, serta konsistensi implementasi kebijakan pemerintah.(Pro)

Berita Terkait

IHSG Menguat ke 6.198 Meski MSCI Turunkan Penilaian Transparansi Pasar Indonesia
IHSG Berpotensi Bergerak Volatil, Pasar Tunggu Putusan MSCI yang Bisa Tentukan Arah Bursa
IHSG Ditutup Melemah 0,55 Persen, Saham TPIA, BREN dan DSSA Pimpin Penurunan
Perdamaian AS-Iran Picu Optimisme Pasar, IHSG dan Saham Konglomerat Berpotensi Menguat
Top Broker BEI Pekan Ini Dipimpin UBS Sekuritas, Transaksi Saham Capai Puluhan Triliun Rupiah
IHSG Melonjak 7,38 Persen dalam Sepekan, BBCA hingga BREN Tercatat Jadi Penopang Utama Penguatan Indeks
IPO SpaceX, OpenAI, dan Anthropic Ancam Likuiditas Kripto, Investor Berpotensi Alihkan Dana ke Saham AS
IHSG Melonjak 1,25 Persen di Awal Perdagangan 12 Juni 2026, BBCA hingga DSSA Pimpin Penguatan
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 11:02 WIB

IHSG Menguat ke 6.198 Meski MSCI Turunkan Penilaian Transparansi Pasar Indonesia

Kamis, 18 Juni 2026 - 11:09 WIB

IHSG Berpotensi Bergerak Volatil, Pasar Tunggu Putusan MSCI yang Bisa Tentukan Arah Bursa

Kamis, 18 Juni 2026 - 07:43 WIB

IHSG Ditutup Melemah 0,55 Persen, Saham TPIA, BREN dan DSSA Pimpin Penurunan

Selasa, 16 Juni 2026 - 12:58 WIB

IHSG Melonjak 4 Persen, Rupiah Menguat dan Investor Lokal Borong Saham Unggulan

Senin, 15 Juni 2026 - 11:15 WIB

Perdamaian AS-Iran Picu Optimisme Pasar, IHSG dan Saham Konglomerat Berpotensi Menguat

Berita Terbaru

Artikel

Tips Masak Ayam Kecap Pedas Manis, Bumbu Meresap Sempurna

Jumat, 19 Jun 2026 - 14:28 WIB