BBCA Rajai FTSE Indonesia, 3 Bank Besar Kuasai Lebih dari 53% Bobot Indeks

Saham perbankan mendominasi indeks FTSE Indonesia dan ASEAN. Di tingkat domestik, BBCA, BBRI, dan BMRI menguasai lebih dari separuh bobot indeks, sedangkan bank Singapura memimpin indeks regional.

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar ilustrasi

Gambar ilustrasi

Okepost.id, Jakarta – Saham perbankan mendominasi daftar emiten dengan bobot terbesar dalam indeks FTSE Indonesia dan FTSE/ASEAN 40. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) memimpin indeks Indonesia dengan bobot 23,63%, sedangkan DBS Group Holdings menjadi konstituen terbesar indeks ASEAN dengan bobot 20,38%.

Data FTSE Russell per 30 September 2026 menunjukkan besarnya pengaruh saham perbankan terhadap komposisi kedua indeks tersebut. Kondisi ini juga menegaskan peran emiten berkapitalisasi besar dalam menentukan pergerakan indeks acuan investor global.

10 Saham dengan Bobot Terbesar di FTSE Indonesia

BBCA menempati posisi pertama dalam FTSE Indonesia Index. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menyusul di posisi kedua dan ketiga.

Berikut daftar 10 saham dengan bobot terbesar di FTSE Indonesia berdasarkan data per 30 September 2026:

Peringkat Emiten Kode saham Bobot
1 Bank Central Asia BBCA 23,63%
2 Bank Rakyat Indonesia BBRI 16,49%
3 Bank Mandiri BMRI 13,59%
4 Telkom Indonesia TLKM 7,91%
5 Astra International ASII 6,10%
6 Bank Negara Indonesia BBNI 3,24%
7 Merdeka Copper Gold MDKA 2,77%
8 United Tractors UNTR 2,58%
9 Amman Mineral Internasional AMMN 2,58%
10 Barito Pacific BRPT 2,32%
Baca Juga :  IHSG Tertekan, Analis: Kebijakan Pemerintah dan Rupiah Lebih Berpengaruh daripada MSCI

Sumber: FTSE Russell, data per 30 September 2026.

Tiga bank terbesar, yakni BBCA, BBRI, dan BMRI, memiliki gabungan bobot 53,71%. Sementara itu, sepuluh saham teratas mencakup 81,21% dari total bobot FTSE Indonesia Index.

Besarnya konsentrasi tersebut membuat pergerakan saham berkapitalisasi besar, khususnya perbankan, berpotensi memengaruhi kinerja indeks secara signifikan.

Bank Singapura Pimpin Indeks FTSE ASEAN

Dominasi perbankan juga terlihat dalam FTSE/ASEAN 40 Index. DBS Group Holdings memimpin dengan bobot 20,38%, disusul Oversea-Chinese Banking Corporation (OCBC) sebesar 13,40% dan United Overseas Bank (UOB) sebesar 6,71%.

Berikut daftar 10 konstituen terbesar indeks FTSE/ASEAN 40 :

Peringkat Emiten Negara Bobot
1 DBS Group Holdings Singapura 20,38%
2 OCBC Singapura 13,40%
3 UOB Singapura 6,71%
4 Singapore Telecommunications Singapura 4,07%
5 Delta Electronics Thailand 3,63%
6 Malayan Banking Malaysia 3,10%
7 Public Bank Malaysia 2,82%
8 Bank Central Asia Indonesia 2,76%
9 CIMB Group Holdings Malaysia 2,68%
10 International Container Terminal Services Filipina 2,57%

Sumber: FTSE Russell, data per 30 September 2026.

Sepuluh saham tersebut mencakup 62,12% bobot indeks. Singapura menjadi pasar dengan kontribusi terbesar sebesar 55,92%, disusul Thailand 18,01%, Malaysia 13,78%, Indonesia 8,59%, dan Filipina 3,71%.

Baca Juga :  Harga Emas Perhiasan Hari Ini 8 Juni 2026 Stabil, Cek Daftar Lengkap dari 24 Karat hingga 13 Karat

BBCA menjadi satu-satunya emiten Indonesia dalam daftar sepuluh konstituen terbesar FTSE/ASEAN 40. Tiga bank Singapura di posisi teratas bahkan memiliki gabungan bobot 40,49%.

Status Indonesia Tetap Secondary Emerging Market

Di tengah dominasi saham-saham besar tersebut, FTSE Russell mempertahankan Indonesia dalam kategori Secondary Emerging Market. Bursa Efek Indonesia (BEI) mengonfirmasi keputusan itu pada 26 Oktober 2026 setelah membahas perkembangan reformasi pasar modal bersama FTSE Russell.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyampaikan bahwa pembahasan mencakup transparansi, likuiditas, dan pengawasan pasar. Indonesia juga tidak masuk dalam daftar pemantauan atau watchlist FTSE Russell.

Meski demikian, status tersebut tidak otomatis menjamin aliran dana asing ke pasar saham domestik. Investor tetap mempertimbangkan kondisi ekonomi, valuasi saham, risiko pasar, dan kualitas tata kelola sebelum mengambil keputusan investasi.

Komposisi FTSE juga perlu dipahami sebagai acuan indeks tersendiri, bukan cerminan langsung bobot saham dalam IHSG. Karena itu, investor perlu memperhatikan metodologi indeks dan tanggal pembaruan data sebelum menggunakan informasi tersebut sebagai dasar analisis. (Pro)

 

Berita Terkait

IHSG Masih Tertekan, Rupiah Rp18.100 dan Keputusan The Fed Jadi Sorotan
IHSG Menguat, Asing Malah Jual 10 Saham Ini, BBCA Paling Banyak Dilepas
IHSG Melonjak 4,9% Sepekan, OJK Perketat Pengawasan dan Bidik Manipulasi Saham
BEI Catat 9 Calon Emiten IPO, Sektor Kesehatan Mendominasi Antrean Bursa
IHSG Ambruk Imbas MSCI, Saham BBCA, BBRI hingga ASII Menarik Dicermati
BEI Optimistis Indonesia Bertahan di Emerging Market MSCI, Ini Alasannya
Harga Emas Antam Hari Ini 17 Oktober 2026 Naik, Termurah Rp1,33 Juta
Saham DSSA Ambruk 82%, Begini Nasib Emiten Lain Grup Sinar Mas
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:08 WIB

BBCA Rajai FTSE Indonesia, 3 Bank Besar Kuasai Lebih dari 53% Bobot Indeks

Selasa, 27 Oktober 2026 - 13:12 WIB

IHSG Masih Tertekan, Rupiah Rp18.100 dan Keputusan The Fed Jadi Sorotan

Senin, 26 Oktober 2026 - 08:27 WIB

IHSG Menguat, Asing Malah Jual 10 Saham Ini, BBCA Paling Banyak Dilepas

Minggu, 25 Oktober 2026 - 18:33 WIB

IHSG Melonjak 4,9% Sepekan, OJK Perketat Pengawasan dan Bidik Manipulasi Saham

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 10:53 WIB

BEI Catat 9 Calon Emiten IPO, Sektor Kesehatan Mendominasi Antrean Bursa

Berita Terbaru