Okepost.id, Jakarta – Saham perbankan mendominasi daftar emiten dengan bobot terbesar dalam indeks FTSE Indonesia dan FTSE/ASEAN 40. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) memimpin indeks Indonesia dengan bobot 23,63%, sedangkan DBS Group Holdings menjadi konstituen terbesar indeks ASEAN dengan bobot 20,38%.
Data FTSE Russell per 30 September 2026 menunjukkan besarnya pengaruh saham perbankan terhadap komposisi kedua indeks tersebut. Kondisi ini juga menegaskan peran emiten berkapitalisasi besar dalam menentukan pergerakan indeks acuan investor global.
10 Saham dengan Bobot Terbesar di FTSE Indonesia
BBCA menempati posisi pertama dalam FTSE Indonesia Index. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menyusul di posisi kedua dan ketiga.
Berikut daftar 10 saham dengan bobot terbesar di FTSE Indonesia berdasarkan data per 30 September 2026:
| Peringkat | Emiten | Kode saham | Bobot |
|---|---|---|---|
| 1 | Bank Central Asia | BBCA | 23,63% |
| 2 | Bank Rakyat Indonesia | BBRI | 16,49% |
| 3 | Bank Mandiri | BMRI | 13,59% |
| 4 | Telkom Indonesia | TLKM | 7,91% |
| 5 | Astra International | ASII | 6,10% |
| 6 | Bank Negara Indonesia | BBNI | 3,24% |
| 7 | Merdeka Copper Gold | MDKA | 2,77% |
| 8 | United Tractors | UNTR | 2,58% |
| 9 | Amman Mineral Internasional | AMMN | 2,58% |
| 10 | Barito Pacific | BRPT | 2,32% |
Sumber: FTSE Russell, data per 30 September 2026.
Tiga bank terbesar, yakni BBCA, BBRI, dan BMRI, memiliki gabungan bobot 53,71%. Sementara itu, sepuluh saham teratas mencakup 81,21% dari total bobot FTSE Indonesia Index.
Besarnya konsentrasi tersebut membuat pergerakan saham berkapitalisasi besar, khususnya perbankan, berpotensi memengaruhi kinerja indeks secara signifikan.
Bank Singapura Pimpin Indeks FTSE ASEAN
Dominasi perbankan juga terlihat dalam FTSE/ASEAN 40 Index. DBS Group Holdings memimpin dengan bobot 20,38%, disusul Oversea-Chinese Banking Corporation (OCBC) sebesar 13,40% dan United Overseas Bank (UOB) sebesar 6,71%.
Berikut daftar 10 konstituen terbesar indeks FTSE/ASEAN 40 :
| Peringkat | Emiten | Negara | Bobot |
|---|---|---|---|
| 1 | DBS Group Holdings | Singapura | 20,38% |
| 2 | OCBC | Singapura | 13,40% |
| 3 | UOB | Singapura | 6,71% |
| 4 | Singapore Telecommunications | Singapura | 4,07% |
| 5 | Delta Electronics | Thailand | 3,63% |
| 6 | Malayan Banking | Malaysia | 3,10% |
| 7 | Public Bank | Malaysia | 2,82% |
| 8 | Bank Central Asia | Indonesia | 2,76% |
| 9 | CIMB Group Holdings | Malaysia | 2,68% |
| 10 | International Container Terminal Services | Filipina | 2,57% |
Sumber: FTSE Russell, data per 30 September 2026.
Sepuluh saham tersebut mencakup 62,12% bobot indeks. Singapura menjadi pasar dengan kontribusi terbesar sebesar 55,92%, disusul Thailand 18,01%, Malaysia 13,78%, Indonesia 8,59%, dan Filipina 3,71%.
BBCA menjadi satu-satunya emiten Indonesia dalam daftar sepuluh konstituen terbesar FTSE/ASEAN 40. Tiga bank Singapura di posisi teratas bahkan memiliki gabungan bobot 40,49%.
Status Indonesia Tetap Secondary Emerging Market
Di tengah dominasi saham-saham besar tersebut, FTSE Russell mempertahankan Indonesia dalam kategori Secondary Emerging Market. Bursa Efek Indonesia (BEI) mengonfirmasi keputusan itu pada 26 Oktober 2026 setelah membahas perkembangan reformasi pasar modal bersama FTSE Russell.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyampaikan bahwa pembahasan mencakup transparansi, likuiditas, dan pengawasan pasar. Indonesia juga tidak masuk dalam daftar pemantauan atau watchlist FTSE Russell.
Meski demikian, status tersebut tidak otomatis menjamin aliran dana asing ke pasar saham domestik. Investor tetap mempertimbangkan kondisi ekonomi, valuasi saham, risiko pasar, dan kualitas tata kelola sebelum mengambil keputusan investasi.
Komposisi FTSE juga perlu dipahami sebagai acuan indeks tersendiri, bukan cerminan langsung bobot saham dalam IHSG. Karena itu, investor perlu memperhatikan metodologi indeks dan tanggal pembaruan data sebelum menggunakan informasi tersebut sebagai dasar analisis. (Pro)








