Okepost.id, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menghadapi tekanan pada perdagangan Selasa (27/10/2026). Pelemahan rupiah, publikasi kinerja emiten kuartal III/2026, serta keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) menjadi perhatian investor.
Pada akhir sesi I, IHSG turun 0,32% atau 17,44 poin ke level 5.355,65. Sebanyak 266 saham menguat, 395 saham melemah, dan 302 saham stagnan.
Sebelumnya, IHSG juga melemah 1,22% ke level 5.373,09 pada penutupan perdagangan Senin (26/10/2026).
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai tekanan nilai tukar rupiah turut membatasi pergerakan indeks. Rupiah yang bergerak di kisaran Rp18.100 per dolar AS meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasar keuangan domestik.
Selain itu, investor mencermati laporan keuangan emiten kuartal III/2026 dan kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau *High Shareholding Concentration* (HSC). BEI menjadwalkan pengecualian saham kategori tersebut dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026.
Dari pasar global, keputusan suku bunga The Fed pada 29 Oktober juga menjadi katalis penting. Konsensus memperkirakan bank sentral AS mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,75%–4,00%.
Secara teknikal, IHSG masih dalam tren bearish. Indeks bergerak di bawah MA20 pada level 5.774 dan MA200 di 6.933. Indikator MACD juga menunjukkan sinyal negatif.
Reza memperkirakan IHSG bergerak konsolidatif dengan area support di 5.326–5.246 dan resistansi di 5.455–5.545. Indeks berpeluang mengalami *technical rebound* jika mampu bertahan di area support tersebut. (Pro)








