Okepost.id, Jakarta – Indeks Bisnis-27 berhasil mempertahankan penguatan pada penutupan perdagangan Jumat, 30 Oktober 2026. Sejumlah saham sektor energi dan perbankan mencatat kenaikan signifikan, dengan PGAS memimpin penguatan di antara saham konstituen indeks.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Bisnis-27 ditutup naik 0,13% ke level 362,43. Dari total 27 saham konstituen, sebanyak 11 saham menguat, 14 saham melemah, dan dua saham bergerak stagnan.
Saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) menjadi penggerak utama setelah melonjak 8,64% ke posisi Rp1.320 per saham.
Penguatan berikutnya datang dari PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) yang naik 5,88% menjadi Rp3.240. Sementara itu, PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) menguat 3,73% ke level Rp1.390.
Sejumlah saham lain juga mencatatkan kinerja positif. PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI) naik 2,47% ke Rp3.320, PT Astra International Tbk. (ASII) menguat 2,35% ke Rp4.800, serta PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) naik 2,10% menjadi Rp730.
Saham BRMS dan DEWA Tertekan
Di tengah penguatan indeks, sejumlah saham justru mengalami tekanan jual.
PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) mencatatkan penurunan terdalam sebesar 6,74% ke Rp332. Disusul PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) yang terkoreksi 5,31% ke Rp214.
Sementara itu, PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) turun 4,38% ke Rp1.310. Saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) juga melemah 4,19% ke Rp915.
Tekanan turut terjadi pada PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) yang turun 2,61% ke Rp298 dan PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) terkoreksi 1,98% ke Rp1.235.
Rupiah dan Arus Modal Asing Jadi Perhatian
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai pasar saham Indonesia masih menghadapi tekanan akibat pelemahan nilai tukar rupiah, arus modal asing keluar, serta ketidakpastian terkait potensi penurunan klasifikasi pasar Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Rupiah sempat menyentuh Rp18.185 per dolar AS. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran investor meskipun bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75%–4,00%.
Namun, keputusan The Fed tidak berlangsung bulat. Dua pejabat bank sentral AS mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan peluang pengetatan kebijakan moneter masih terbuka. Inflasi Amerika Serikat yang relatif tinggi juga mendorong pasar memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember 2026.
Dengan demikian, penguatan Indeks Bisnis-27 belum sepenuhnya menghilangkan tekanan pasar. Investor masih perlu memperhatikan perkembangan faktor domestik dan global yang memengaruhi pergerakan saham. (Pro)








