Okepost.id, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Jumat (6/11/2026). Hingga pukul 09.15 WIB, IHSG berada di level 4.964,95 atau terkoreksi 65,31 poin setara 1,3%.
Aktivitas perdagangan mencatat volume mencapai 39,95 juta lot dengan nilai transaksi sebesar Rp1,06 triliun.
Tekanan terhadap IHSG datang dari sejumlah sektor, terutama material dasar yang merosot sekitar 2,7%. Sektor infrastruktur menyusul dengan penurunan 2,1%, sedangkan sektor properti melemah 1,8%.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut menjadi pemberat indeks. Di antaranya PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM), PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), dan PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA).
Di sisi lain, saham CARE, MAPA, AMRT, BUVA, dan BRIS tercatat sebagai saham yang menahan laju koreksi IHSG berdasarkan kontribusi poin indeks.
Pelemahan pasar saham domestik sejalan dengan kondisi bursa Asia yang juga berada di zona merah. Tekanan paling besar terjadi di Korea Selatan, ketika indeks Kospi anjlok lebih dari 8% hingga turun di bawah level 5.000.
Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang melemah lebih dari 2%. Adapun indeks S&P/ASX 200 Australia terkoreksi sekitar 0,9%.
Sentimen negatif tersebut mengikuti aksi jual besar-besaran di Wall Street pada perdagangan Kamis (5/11/2026). Tiga indeks utama Amerika Serikat kompak melemah dan mencatatkan penurunan harian terdalam sejak April 2025.
Nasdaq Composite menjadi indeks dengan tekanan terbesar setelah anjlok 5,5%. Penurunan tersebut membawa Nasdaq lebih dari 10% di bawah level tertinggi terbarunya sehingga resmi memasuki zona koreksi.
Indeks S&P 500 juga merosot 4,4%, sedangkan Dow Jones Industrial Average kehilangan lebih dari 1.800 poin atau turun 3,4%.
Tekanan di pasar global tersebut turut membayangi perdagangan saham Asia dan menjadi sentimen negatif bagi pergerakan IHSG menjelang akhir pekan.(Pro)









