INDEF: Krisis Finansial 1998 Sulit Terulang, Perlambatan Ekonomi Perlu Diwaspadai

Ketahanan sektor keuangan Indonesia dinilai masih kuat, namun tekanan terhadap sektor riil perlu diwaspadai

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 15 Juni 2026 - 08:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar ilustrasi

Gambar ilustrasi

Okepost.id, Jakarta – Potensi terulangnya krisis finansial seperti yang terjadi pada 1998 dinilai relatif kecil. Namun, risiko perlambatan ekonomi nasional disebut masih cukup besar akibat tekanan dari suku bunga tinggi, pelemahan daya beli masyarakat, dan melambatnya investasi.

Kondisi tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M Rizal Taufikurahman.

Menurutnya, volatilitas pasar keuangan juga berpotensi menekan penyaluran kredit dan meningkatkan risiko kredit bermasalah secara bertahap.

Baca Juga :  BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,75 Persen, Ekonom Nilai Langkah Ini Redam Risiko Rupiah

Dijelaskan bahwa kondisi saat ini berbeda dengan krisis 1998 yang dipicu oleh lemahnya fundamental perbankan, tingginya utang valuta asing, serta pengawasan sektor keuangan yang belum memadai. Akibatnya, pelemahan rupiah saat itu berkembang menjadi krisis sistemik.

Saat ini, permodalan perbankan, sistem pengawasan, dan instrumen jaring pengaman keuangan dinilai jauh lebih kuat. Karena itu, risiko yang dihadapi lebih mengarah pada perlambatan sektor riil akibat tekanan global dan domestik dibandingkan krisis perbankan.

Baca Juga :  Gaji ke-13 ASN, TNI, Polri, PPPK Cair Juni 2026, Termasuk PPPK Paruh Waktu

Meski ketahanan sistem keuangan masih tergolong baik, kemampuan sektor perbankan dalam menjaga intermediasi dan mendukung pertumbuhan ekonomi dinilai tetap menjadi faktor penting. Perlambatan kredit produktif dan melemahnya aktivitas sektor riil disebut dapat mengurangi momentum pertumbuhan ekonomi nasional.(Pro)

Berita Terkait

Program MBG Picu Lonjakan Kebutuhan Susu, Produksi Nasional Terancam Tertinggal
Harga Emas Pegadaian Galeri 24, UBS & Antam Hari Ini 20 Juni Anjlok
Rupiah Amblas Lagi ke Rp17.845 per Dolar AS Jelang Akhir Pekan
Harga Emas Pegadaian Galeri 24, UBS & Antam Hari Ini Jumat 19 Juni 2026 Ambruk Semua
BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,75 Persen, Ekonom Nilai Langkah Ini Redam Risiko Rupiah
Hari Ini Kamis 18 Juni 2026, Dolar AS Menguat ke Rp 17.855
Harga Emas Pegadaian Galeri 24, UBS & Antam Hari Ini Naik Semua
Rabu ini harga emas Antam naik Rp4.000 menjadi Rp2,733 juta/gram
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juni 2026 - 14:01 WIB

Program MBG Picu Lonjakan Kebutuhan Susu, Produksi Nasional Terancam Tertinggal

Sabtu, 20 Juni 2026 - 12:25 WIB

Harga Emas Pegadaian Galeri 24, UBS & Antam Hari Ini 20 Juni Anjlok

Jumat, 19 Juni 2026 - 15:42 WIB

Rupiah Amblas Lagi ke Rp17.845 per Dolar AS Jelang Akhir Pekan

Jumat, 19 Juni 2026 - 15:29 WIB

Harga Emas Pegadaian Galeri 24, UBS & Antam Hari Ini Jumat 19 Juni 2026 Ambruk Semua

Jumat, 19 Juni 2026 - 12:07 WIB

BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,75 Persen, Ekonom Nilai Langkah Ini Redam Risiko Rupiah

Berita Terbaru

Otomotif

Harga Terbaru Hyundai Tucson Hybrid Tahun 2026, Harganya Segini

Minggu, 21 Jun 2026 - 12:47 WIB