IPO SpaceX, OpenAI, dan Anthropic Ancam Likuiditas Kripto, Investor Berpotensi Alihkan Dana ke Saham AS

Valuas Gabungan Tembus US$3 Triliun, Pasar Kripto Terancam Kehilangan Aliran Modal Jangka Pendek

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 12 Juni 2026 - 10:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar ilustrasi

Gambar ilustrasi

Okepost.id, Jakarta – Rencana penawaran umum perdana saham (IPO) dari perusahaan teknologi raksasa seperti SpaceX, OpenAI, dan Anthropic dinilai berpotensi menjadi pesaing baru pasar kripto dalam memperebutkan likuiditas investor global.

Direktur Operasional , Ryan Lymn, menilai gelombang IPO dari tiga perusahaan teknologi tersebut dapat menyedot perhatian investor karena menawarkan eksposur langsung terhadap sektor kecerdasan buatan (AI) dan teknologi luar angkasa yang saat ini menjadi tema investasi paling diminati dunia.

Menurut Ryan, total valuasi ketiga perusahaan tersebut diperkirakan melampaui US$3 triliun. SpaceX diperkirakan memiliki valuasi sekitar US$1,5 triliun hingga US$1,75 triliun dengan potensi penghimpunan dana mencapai US$75 miliar. Sementara itu, OpenAI diperkirakan bernilai sekitar US$850 miliar dan Anthropic memiliki estimasi valuasi antara US$380 miliar hingga US$965 miliar.

“Besarnya skala IPO tersebut berpotensi menarik perhatian investor global untuk mengalihkan sebagian modalnya ke pasar saham Amerika Serikat,” ujar Ryan dalam keterangannya, Kamis (11/6/2026).

Pasar Kripto Masih Tertekan

Potensi perpindahan likuiditas ini muncul ketika pasar aset kripto masih berada dalam fase pelemahan. Harga Bitcoin saat ini diperdagangkan di kisaran US$62.000 atau turun sekitar 52 persen dari rekor tertingginya yang mencapai US$126.296 pada Oktober 2025.

Dalam sepekan terakhir, Bitcoin bahkan sempat menyentuh level US$59.000 akibat tingginya volatilitas pasar. Kondisi tersebut membuat investor lebih berhati-hati dalam menempatkan dana mereka di aset berisiko tinggi.

Baca Juga :  IHSG Ambruk 3,28% Sepekan, Investor Perlu Lirik SBR015, Reksa Dana hingga Emas

Ryan menilai kombinasi antara melemahnya pasar kripto dan tingginya minat terhadap sektor AI dapat mempercepat rotasi dana ke pasar saham Amerika Serikat dalam jangka pendek.

“IPO SpaceX, OpenAI, dan Anthropic menawarkan eksposur langsung pada dua tema investasi yang saat ini paling diminati pasar global, yaitu AI dan teknologi luar angkasa. Dalam jangka pendek, kondisi ini berpotensi menarik sebagian likuiditas dari berbagai kelas aset, termasuk pasar kripto,” katanya.

Kripto Masih Berpeluang Bangkit

Meski demikian, Ryan meyakini pasar kripto tetap memiliki peluang menarik kembali minat investor dalam jangka panjang. Menurutnya, setelah euforia IPO perusahaan teknologi mereda, sebagian modal global berpotensi kembali masuk ke aset digital, terutama jika pasar kripto menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Ia menambahkan bahwa meningkatnya minat investor terhadap perusahaan teknologi global merupakan bagian dari tren diversifikasi investasi yang semakin berkembang.

Investor kini tidak hanya berfokus pada satu kelas aset, tetapi mulai membangun portofolio yang mencakup berbagai instrumen yang merepresentasikan pertumbuhan ekonomi digital dan inovasi teknologi.

Aset Tokenisasi Kian Diminati Investor Indonesia

Ryan mengungkapkan bahwa minat investor Indonesia terhadap aset tokenisasi yang memberikan akses ke pasar global terus meningkat.

Baca Juga :  BEI Catat 9 Calon Emiten IPO, Sektor Kesehatan Mendominasi Antrean Bursa

Beberapa aset real-world assets (RWA) yang banyak diminati pengguna Bittime antara lain:

Tether Gold (XAUT)

Silver Token (SLVON)

SP500 Tokenized ETF (SPYX)

Tesla Tokenized Stock (TSLAX)

Nasdaq Tokenized ETF (QQQX)

Menurutnya, investor domestik kini semakin matang dalam membangun portofolio investasi yang lebih terdiversifikasi melalui berbagai instrumen keuangan digital.

Investor Kripto Indonesia Tembus 21,7 Juta Akun

Berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan, jumlah investor dalam ekosistem aset keuangan digital dan aset kripto hingga April 2026 mencapai 21,7 juta akun atau tumbuh 1,57 persen secara bulanan.

Selain itu, nilai transaksi derivatif aset keuangan digital sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai Rp21,47 triliun.

Kapitalisasi pasar domestik pada ekosistem aset keuangan digital dan aset kripto juga meningkat menjadi Rp23,93 triliun pada April 2026 dibandingkan Rp23,36 triliun pada Maret 2026.

Ryan menilai tren tersebut menunjukkan bahwa investor Indonesia semakin aktif mencari peluang investasi global, mulai dari komoditas, saham perusahaan teknologi hingga indeks saham Amerika Serikat.

“Tren ini menunjukkan bahwa investor semakin aktif mencari eksposur ke berbagai instrumen global, termasuk komoditas, saham perusahaan teknologi, serta indeks pasar saham Amerika Serikat,” pungkasnya.(Pro)

Berita Terkait

Indeks Bisnis-27 Menguat 0,13%, PGAS Melonjak 8,64%, PTBA dan MEDC Ikut Menguat
BBCA Rajai FTSE Indonesia, 3 Bank Besar Kuasai Lebih dari 53% Bobot Indeks
IHSG Masih Tertekan, Rupiah Rp18.100 dan Keputusan The Fed Jadi Sorotan
IHSG Menguat, Asing Malah Jual 10 Saham Ini, BBCA Paling Banyak Dilepas
IHSG Melonjak 4,9% Sepekan, OJK Perketat Pengawasan dan Bidik Manipulasi Saham
BEI Catat 9 Calon Emiten IPO, Sektor Kesehatan Mendominasi Antrean Bursa
IHSG Ambruk Imbas MSCI, Saham BBCA, BBRI hingga ASII Menarik Dicermati
BEI Optimistis Indonesia Bertahan di Emerging Market MSCI, Ini Alasannya
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 17:09 WIB

Indeks Bisnis-27 Menguat 0,13%, PGAS Melonjak 8,64%, PTBA dan MEDC Ikut Menguat

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:08 WIB

BBCA Rajai FTSE Indonesia, 3 Bank Besar Kuasai Lebih dari 53% Bobot Indeks

Selasa, 27 Oktober 2026 - 13:12 WIB

IHSG Masih Tertekan, Rupiah Rp18.100 dan Keputusan The Fed Jadi Sorotan

Senin, 26 Oktober 2026 - 08:27 WIB

IHSG Menguat, Asing Malah Jual 10 Saham Ini, BBCA Paling Banyak Dilepas

Minggu, 25 Oktober 2026 - 18:33 WIB

IHSG Melonjak 4,9% Sepekan, OJK Perketat Pengawasan dan Bidik Manipulasi Saham

Berita Terbaru