Mahasiswa Turun ke Jalan, Ancaman Pekerjaan Formal dan Menyusutnya Kelas Menengah Jadi Sorotan

Aksi mahasiswa di Bundaran HI dinilai mencerminkan kekhawatiran terhadap masa depan ekonomi Indonesia, mulai dari lapangan kerja formal yang semakin sempit hingga melemahnya daya saing industri nasional.

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 14 Juni 2026 - 10:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Massa unjuk rasa tertahan di depan Gedung Thamrin Nine untuk berupaya masuk ke Bundaran HI melakukan unjuk rasa, Jumat (12/6/2026)

Massa unjuk rasa tertahan di depan Gedung Thamrin Nine untuk berupaya masuk ke Bundaran HI melakukan unjuk rasa, Jumat (12/6/2026)

Okepost.id, Jakarta – Aksi demonstrasi yang digelar mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jabodetabek di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, kembali menyuarakan keresahan terhadap kondisi ekonomi nasional dan masa depan generasi muda.

Lokasi aksi yang berada di pusat bisnis ibu kota dinilai memiliki makna simbolis atas kekhawatiran terhadap arah perekonomian Indonesia. Sejumlah tuntutan disampaikan, mulai dari penghentian pemborosan anggaran negara, penurunan harga kebutuhan pokok dan BBM, hingga evaluasi terhadap berbagai program prioritas pemerintah.

Salah satu program yang menjadi sorotan adalah Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam laporan OECD Economic Outlook edisi Juni 2026, program tersebut diakui memiliki manfaat dalam menekan angka gizi buruk dan meningkatkan kesehatan masyarakat. Namun, efisiensi anggaran dan penargetan yang lebih tepat dinilai perlu dilakukan untuk mengendalikan beban fiskal negara.

Kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi juga diperkuat oleh proyeksi defisit APBN 2026 yang diperkirakan mendekati batas maksimal 3 persen dari produk domestik bruto (PDB). Peningkatan defisit berpotensi memperbesar kebutuhan pembiayaan utang dan mengurangi ruang fiskal untuk program produktif lainnya.

Baca Juga :  Harga Emas Perhiasan Hari Ini Minggu 31 Mei 2026, Simak Daftar Harga Terbaru

Di sisi lain, kondisi pasar tenaga kerja disebut semakin menantang. Laporan Indonesia Economic Prospects yang diterbitkan Bank Dunia menunjukkan bahwa proporsi lulusan perguruan tinggi yang bekerja di sektor formal mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena tersebut menandakan semakin terbatasnya peluang kerja formal bagi tenaga kerja terdidik.

Meningkatnya jumlah pekerja informal dinilai menjadi persoalan serius karena sebagian besar tidak memiliki perlindungan sosial yang memadai maupun kepastian pendapatan jangka panjang. Kondisi ini disebut memperbesar risiko penurunan kesejahteraan ketika terjadi guncangan ekonomi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan jumlah masyarakat kelas menengah mengalami penyusutan signifikan dalam periode 2019 hingga 2025. Jutaan warga disebut telah bergeser ke kelompok ekonomi yang lebih rentan.

Para ekonom mendorong perluasan perlindungan sosial bagi pekerja informal dan kelompok kelas menengah rentan. Cakupan jaminan kehilangan pekerjaan, asuransi sosial, hingga akses pembiayaan pendidikan dan perumahan yang lebih terjangkau dinilai perlu diperkuat.

Baca Juga :  Ekspor 20 Ton Kopi Fine Robusta Kerinci Tembus Pasar Tiongkok

Selain itu, reindustrialisasi dianggap menjadi langkah penting untuk memperluas penciptaan lapangan kerja formal. Daya saing industri nasional yang dinilai masih tertinggal dibanding sejumlah negara Asia disebut menjadi salah satu faktor yang menghambat investasi dan penciptaan pekerjaan berkualitas.

Pemerintah melalui RPJMN 2025–2029 disebut telah menyiapkan berbagai strategi untuk meningkatkan kualitas pasar tenaga kerja. Penguatan sektor manufaktur, ekonomi digital, jasa bernilai tambah tinggi, ekonomi hijau, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi menjadi bagian dari agenda tersebut.

Pengembangan UMKM juga diarahkan agar mampu naik kelas dan terintegrasi ke dalam rantai pasok industri sehingga dapat menciptakan lebih banyak pekerjaan formal.

Meski demikian, berbagai kalangan menilai keberhasilan agenda tersebut akan sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan dan efektivitas implementasi kebijakan di lapangan. Hal itu menjadi harapan utama yang kini ditunggu oleh mahasiswa maupun masyarakat luas.(Pro)

Berita Terkait

Program MBG Picu Lonjakan Kebutuhan Susu, Produksi Nasional Terancam Tertinggal
Harga Emas Pegadaian Galeri 24, UBS & Antam Hari Ini 20 Juni Anjlok
Rupiah Amblas Lagi ke Rp17.845 per Dolar AS Jelang Akhir Pekan
Harga Emas Pegadaian Galeri 24, UBS & Antam Hari Ini Jumat 19 Juni 2026 Ambruk Semua
BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,75 Persen, Ekonom Nilai Langkah Ini Redam Risiko Rupiah
Hari Ini Kamis 18 Juni 2026, Dolar AS Menguat ke Rp 17.855
Harga Emas Pegadaian Galeri 24, UBS & Antam Hari Ini Naik Semua
Rabu ini harga emas Antam naik Rp4.000 menjadi Rp2,733 juta/gram
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juni 2026 - 14:01 WIB

Program MBG Picu Lonjakan Kebutuhan Susu, Produksi Nasional Terancam Tertinggal

Sabtu, 20 Juni 2026 - 12:25 WIB

Harga Emas Pegadaian Galeri 24, UBS & Antam Hari Ini 20 Juni Anjlok

Jumat, 19 Juni 2026 - 15:42 WIB

Rupiah Amblas Lagi ke Rp17.845 per Dolar AS Jelang Akhir Pekan

Jumat, 19 Juni 2026 - 15:29 WIB

Harga Emas Pegadaian Galeri 24, UBS & Antam Hari Ini Jumat 19 Juni 2026 Ambruk Semua

Jumat, 19 Juni 2026 - 12:07 WIB

BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,75 Persen, Ekonom Nilai Langkah Ini Redam Risiko Rupiah

Berita Terbaru

Otomotif

Harga Terbaru Hyundai Tucson Hybrid Tahun 2026, Harganya Segini

Minggu, 21 Jun 2026 - 12:47 WIB