Okepost.id – Gerakan salat kerap disebut-sebut setara dengan olahraga, terutama saat bulan Ramadhan ketika umat Muslim menjalankan salat tarawih hingga 11 atau 23 rakaat. Alasannya, gerakan dilakukan berulang dan melibatkan hampir seluruh bagian tubuh.
Mulai dari berdiri, rukuk, sujud, hingga duduk, seluruh rangkaian tersebut menggerakkan otot, sendi, serta melibatkan koordinasi tubuh. Namun, benarkah salat bisa disamakan dengan olahraga seperti lari, bersepeda, atau latihan beban?
Spesialis kedokteran olahraga Mayapada Hospital Tangerang, Febianto Nurmansyach, menjelaskan bahwa secara teknis terdapat perbedaan antara aktivitas fisik, latihan fisik, dan olahraga.
Manfaat gerakan salat bagi tubuh
Sejumlah sumber menyebutkan gerakan dalam salat melibatkan kontraksi dan peregangan otot secara bergantian. Rukuk, misalnya, membantu meregangkan otot punggung dan paha belakang. Sementara sujud melibatkan sendi bahu, siku, lutut, hingga pergelangan kaki.
Gerakan berulang dalam salat juga dapat menjadi bentuk latihan ringan bagi jantung karena membantu sirkulasi darah ke seluruh tubuh.
Febianto menyebut, sejumlah penelitian menunjukkan aktivitas salat dapat memberikan manfaat kesehatan, terutama jika dilakukan secara rutin dalam durasi cukup panjang, seperti salat tarawih selama 30 hari berturut-turut.
Namun, sebagai aktivitas fisik yang dilakukan lima kali sehari, salat tetap berkontribusi terhadap pergerakan tubuh dan membantu menjaga mobilitas sendi, terutama bila dilakukan dengan gerakan yang benar dan tidak terburu-buru.(*)









