Okepost.id – PT Pertamina Patra Niaga mencatat lonjakan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) subsidi, terutama Pertalite dan Biosolar, setelah penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada April 2026. Pergeseran konsumsi ini disebut terjadi hampir di seluruh wilayah operasional Pertamina dan berdampak langsung pada penurunan penjualan produk Pertamax Series maupun Dex Series.
Director of Regional Marketing PT Pertamina Patra Niaga Subholding Commercial & Trading, Eko Ricky Susanto, mengatakan bahwa sejak penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada 18 April 2026, terjadi perubahan perilaku konsumen dalam memilih bahan bakar.
Saat ini terjadi peningkatan konsumsi BBM, khususnya produk BBM PSO Pertalite maupun JBT Biosolar,” ujar Eko, dikutip dari Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII yang disiarkan Youtube DPR RI (22/7/2026). Menurut dia, pada bulan Juni 2026 konsumsi BBM subsidi bahkan meningkat hampir 9,4 persen dibanding periode sebelumnya.
Porsi Pertalite Naik Eko menjelaskan, pergeseran paling terlihat terjadi pada konsumsi bensin. Pada periode Januari–Mei 2026, porsi Pertalite dalam konsumsi BBM gasoline berada di angka 75 persen. Namun, setelah penyesuaian harga, angkanya naik menjadi 80 persen.
Artinya, sekitar 5 persen konsumsi BBM gasoline berpindah ke Pertalite sebagai BBM subsidi. Dampaknya, penjualan produk Pertamax Series turun cukup dalam.“Produk-produk BBM JBU, khususnya Pertamax Series, terjadi penurunan hampir 18 persen dibandingkan periode sebelumnya,” kata Eko.
Lonjakan permintaan ini membuat Pertamina harus menyesuaikan operasi distribusi dan memperkuat stok di jaringan SPBU agar pasokan tetap aman.
Biosolar Melonjak 13,9 Persen pada Juli 2026 Peningkatan konsumsi juga terjadi pada segmen solar. Secara komposisi, konsumsi gasoil naik sekitar 1,5 persen, sementara secara volume konsumsi Biosolar melonjak hingga 13,9 persen pada Juli 2026. Kenaikan tersebut disebut sudah mulai terlihat sejak Juni kemarin, dan terus berlanjut hingga bulan ini. Di sisi lain, konsumsi Dexlite dan Pertamina Dex mengalami penurunan sekitar 6,4 persen. Eko menyebut pergeseran ini tidak hanya berasal dari kendaraan pribadi, tetapi juga dari sektor industri.
Ada beberapa sektor kendaraan yang didominasi industri mulai mengisi ke Biosolar di SPBU,” ujarnya.
Ia menambahkan, lonjakan konsumsi BBM subsidi terjadi hampir di seluruh provinsi selama periode April hingga Juli 2026. Perbedaan harga yang cukup lebar antara BBM subsidi dan nonsubsidi diduga menjadi faktor utama yang mendorong konsumen beralih ke Pertalite dan Biosolar.
Berikut ini harga BBM Pertamina di wilayah Jabodetabek per 1 Juli 2026:
- -Solar subsidi: Rp 6.800 per liter
- Pertalite: Rp 10.000 per liter
- Pertamax: Rp 16.250 per liter
- Pertamax Green 95: Rp 17.000 per liter
- Pertamax Turbo: Rp 19.300 per literDexlite: Rp 19.700 per liter
- Pertamina Dex: Rp 21.150 per liter. (*)









