Okepost.id, Sungai Penuh – Pemerintah Kota Sungai Penuh mulai menyusun Kajian Risiko Bencana (KRB) Tahun 2026–2030 sebagai landasan dalam mewujudkan pembangunan daerah yang aman, tangguh, dan berkelanjutan.
Penyusunan dokumen tersebut diawali melalui sosialisasi yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sungai Penuh, Rabu (15/7).
Kegiatan dibuka oleh Staf Ahli Wali Kota Bidang Pemerintahan dan Politik, Zahirman, SH., MH, yang mewakili Wali Kota Sungai Penuh. Sosialisasi menghadirkan narasumber dari Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Jambi, D.M. Magdalena Ritonga, ST., MT.
Peserta kegiatan terdiri atas kepala perangkat daerah, kepala bidang, camat, lurah, hingga kepala desa se-Kota Sungai Penuh.
Mereka mendapatkan pemahaman yang sama mengenai penyusunan dokumen Kajian Risiko Bencana sebagai pedoman pembangunan lima tahun ke depan.
Dalam sambutannya, Zahirman menegaskan bahwa penanggulangan bencana harus dilakukan secara terpadu, mulai dari pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, hingga pemulihan pascabencana.
Ia menjelaskan, Kota Sungai Penuh memiliki potensi berbagai jenis bencana sehingga membutuhkan dokumen Kajian Risiko Bencana yang akurat.
Dokumen tersebut akan menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan dan program pembangunan yang mampu meminimalkan risiko bencana.
Zahirman juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Selain itu, pemerintah desa dan kelurahan didorong memperkuat kapasitas masyarakat melalui pembentukan Desa Tangguh Bencana serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi bencana.
Melalui penyusunan Kajian Risiko Bencana 2026–2030, Pemerintah Kota Sungai Penuh menargetkan tersedianya dokumen yang komprehensif sebagai acuan pembangunan daerah yang lebih aman, tangguh, dan berkelanjutan. (Pro)









