Rupiah Menguat 0,75% Dalam Sepekan, Begini Proyeksinya untuk Pekan Depan

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 12:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Okepost.id – Nilai tukar rupiah berpeluang lanjut menguat pada pekan depan, meski masih dibayangi sejumlah sentimen global dan domestik. Turunnya imbal hasil US Treasury menjadi salah satu katalis yang menopang pergerakan rupiah.

Pada Jumat (21/8/2026), kurs rupiah di pasar spot menguat 0,3% secara harian menjadi Rp 17.694 per dolar Amerika Serikat (AS). Dalam sepekan, kurs rupiah spot menguat 0,75% dari posisi Rp 17.827 per dolar AS. Sejalan, kurs rupiah Jisdor menguat atau 0,42% dalam sehari menjadi Rp 17.705 per dolar AS. Dalam sepekan, kurs rupiah Jisdor menguat 0,73% dari Rp 17.836 per dolar AS. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu sentimen utama yang mempengaruhi pergerakan rupiah dalam sepekan terakhir berasal dari kebijakan Departemen Keuangan AS yang meningkatkan program pembelian kembali (buyback) surat utang pemerintah AS atau US Treasury.

Departemen Keuangan AS berencana melipatgandakan pembelian kembali Treasury berjangka panjang menjadi sedikitnya US$ 4 miliar per operasi selama kuartal mendatang. Kebijakan tersebut dinilai membantu menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor panjang. “Dan pemerintah dapat meningkatkan pembelian tersebut lebih lanjut dan berpendapat bahwa tingkat imbal hasil saat ini tidak mencerminkan fundamental ekonomi yang sebenarnya,” ujar Ibrahim, Jumat (21/8/2026). Di sisi lain, perkembangan pasar tenaga kerja AS juga menjadi perhatian. Klaim tunjangan pengangguran mingguan tercatat menurun, menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja masih relatif stabil meskipun sebelumnya terjadi penurunan jumlah lapangan kerja yang tidak terduga pada Juli.

Baca Juga :  Harga Emas Antam, Galeri 24, dan UBS di Pegadaian Hari Ini 5 Agustus 2026

Kondisi tersebut membuat The Fed masih perlu menjaga fokus terhadap pengendalian inflasi. Sementara itu, pasar masih memperdebatkan waktu pelaksanaan perubahan kebijakan suku bunga berikutnya. Dari sisi geopolitik, Ibrahim mengatakan ketegangan terkait Iran masih menjadi perhatian pasar. Kesepakatan damai sebelumnya berakhir pada pekan ini tanpa adanya upaya dari kedua pihak untuk kembali memulai perundingan. Dari dalam negeri, salah satu perhatian pasar berasal dari pelebaran defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD). Bank Indonesia (BI) melaporkan defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) sebesar US$ 12,5 miliar pada kuartal II-2026 atau 3,3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Baca Juga :  Kencur Hitam dan Daun Pegagan Mampu Mengurangi Radang Saraf Mata

Transaksi berjalan mencatat defisit yang lebih tinggi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang diperkirakan temporer. Pada kuartal sebelumnya defisit transaksi berjalan hanya sebesar US$ 3,6 miliar atau 1,0% dari PDB. Menurut Ibrahim, pelebaran CAD tersebut antara lain dipengaruhi oleh meningkatnya defisit neraca perdagangan migas seiring kenaikan impor minyak di tengah tingginya harga minyak dunia.

Selain itu, pasar juga perlu mewaspadai risiko inflasi pangan akibat fenomena El Nino. Kekeringan berkepanjangan berpotensi menekan produksi pertanian dan mengurangi pasokan beras maupun komoditas pangan lainnya. Kondisi tersebut dapat mendorong kenaikan harga pangan, menekan daya beli masyarakat. Dengan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah pada pekan depan akan bergerak dalam kisaran Rp 17.600-Rp 17.900 per dolar AS. (*)

Berita Terkait

IHSG Ambruk Imbas MSCI, Saham BBCA, BBRI hingga ASII Menarik Dicermati
BEI Optimistis Indonesia Bertahan di Emerging Market MSCI, Ini Alasannya
Harga Emas Antam Hari Ini 17 Oktober 2026 Naik, Termurah Rp1,33 Juta
Saham DSSA Ambruk 82%, Begini Nasib Emiten Lain Grup Sinar Mas
MSCI Tetap Ancam Downgrade Saham RI, Pertemuan dengan Pemerintah Tak Ubah Sikap
IHSG Berpeluang Bangkit pada Oktober 2026, Investor Perlu Cermati 4 Katalis
Cara Menjadi Trader Pemula: Jangan Cuma Siapkan Modal, Ini yang Wajib Dikuasai
Trading atau Investasi? Kenali Perbedaannya Sebelum Memulai
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 09:45 WIB

IHSG Ambruk Imbas MSCI, Saham BBCA, BBRI hingga ASII Menarik Dicermati

Minggu, 18 Oktober 2026 - 17:43 WIB

BEI Optimistis Indonesia Bertahan di Emerging Market MSCI, Ini Alasannya

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:32 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini 17 Oktober 2026 Naik, Termurah Rp1,33 Juta

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:23 WIB

Saham DSSA Ambruk 82%, Begini Nasib Emiten Lain Grup Sinar Mas

Jumat, 16 Oktober 2026 - 17:19 WIB

MSCI Tetap Ancam Downgrade Saham RI, Pertemuan dengan Pemerintah Tak Ubah Sikap

Berita Terbaru