BI Agresif Serap Likuiditas, Outstanding SRBI Tembus Rp1.072 Triliun

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 22 Juli 2026 - 11:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Okepost.id – Bank Indonesia (BI) semakin aktif menggunakan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dalam operasi moneternya. Nilai outstanding instrumen tersebut bahkan telah menembus Rp1.000 triliun. Melansir data di situs resmi BI, total outstanding SRBI mencapai Rp1.072,62 triliun hingga akhir Juni 2026. Meningkat Rp92,74 triliun atau 9,46% dibandingkan Mei 2026 yang sebesar Rp979,88 triliun. Jumlah tersebut sekaligus menjadi yang tertinggi sejak SRBI pertama kali diterbitkan pada September 2023.

Secara tahunan, nilainya melonjak Rp289,65 triliun atau 37% dari posisi Juni 2025 sebesar Rp782,97 triliun. SRBI merupakan surat berharga berdenominasi rupiah yang diterbitkan BI dengan menggunakan Surat Berharga Negara (SBN) milik bank sentral sebagai aset dasar atau underlying. Instrumen ini dapat diperdagangkan di pasar sekunder dan digunakan BI sebagai instrumen operasi moneter kontraksi untuk menyerap likuiditas rupiah.

Kepemilikan Asing Tembus Rekor
Kenaikan outstanding SRBI juga diikuti lonjakan kepemilikan nonresiden atau investor asing. Pada Juni 2026, kepemilikan nonresiden di SRBI mencapai Rp293,16 triliun, menjadi posisi tertinggi sejak instrumen tersebut diterbitkan. Rekor sebelumnya tercatat pada Oktober 2024 sebesar Rp262,17 triliun.

Kepemilikan asing bertambah Rp76,68 triliun atau 35,42% hanya dalam sebulan. Pada Mei 2026, posisi kepemilikan nonresiden masih sebesar Rp216,48 triliun. Jika dibandingkan dengan Juni 2025 yang sebesar Rp190,06 triliun, kepemilikan asing telah melonjak Rp103,10 triliun atau 54,25%.

Baca Juga :  Diskominfo Mukomuko Studi Tiru ke Kota Sungai Penuh

Investor asing kini menguasai sekitar 27,33% dari keseluruhan outstanding SRBI. Kepemilikan nonresiden juga mencakup hampir 84% dari total kepemilikan kelompok nonbank yang mencapai Rp349,76 triliun. Sementara itu, perbankan tetap menjadi pemegang SRBI terbesar dengan nilai Rp615,71 triliun atau sekitar 57,4% dari total outstanding. Namun, jumlah tersebut turun Rp62,18 triliun atau 9,17% dibandingkan bulan sebelumnya.

Lonjakan kepemilikan nonresiden memperlihatkan bahwa daya tarik SRBI di mata investor global masih kuat. Yield yang tinggi memberikan ruang imbal hasil lebih besar, sedangkan kebijakan stabilisasi BI membantu meredam risiko dari pergerakan rupiah. Meski demikian, tekanan terhadap rupiah tetap menjadi pertimbangan karena dapat mengurangi keuntungan investor asing setelah dikonversikan ke mata uang asal. Tingginya yield SRBI menjadi salah satu kompensasi atas risiko nilai tukar tersebut.

Selain itu, kepemilikan dalam kelompok lainnya juga mengalami kenaikan tajam. Nilainya melonjak dari Rp41,55 triliun pada Mei menjadi Rp107,15 triliun di Juni. Pertambahannya mencapai Rp65 triliun atau 157%. BI memberikan catatan bahwa kelompok lainnya merupakan SRBI yang sedang berada dalam transaksi repo kepada Bank Indonesia (SRBI under repo to Bank Indonesia).

Baca Juga :  Rekomendasi Kripto Hari Ini: VIRTUAL dan ROBO Berpeluang Melonjak, Simak Target Harganya

Repo atau repurchase agreement merupakan transaksi ketika pemegang SRBI menjual surat berharga tersebut kepada BI dengan kesepakatan untuk membelinya kembali pada waktu dan harga yang telah ditentukan. Melalui transaksi tersebut, pemegang SRBI memperoleh dana tunai dari BI dengan menyerahkan SRBI untuk sementara waktu. Setelah periode repo berakhir, pemegang instrumen membeli kembali SRBI sesuai kesepakatan.

Yield SRBI Melonjak
Naiknya outstanding SRBI hingga akhir Juni 2026 berjalan seiring dengan kenaikan yield yang ditawarkan. Dalam satu bulan, imbal hasil instrumen tersebut melonjak lebih dari 60 basis poin pada seluruh tenor. Berdasarkan hasil lelang 26 Juni 2026, yield SRBI tenor enam bulan tercatat sebesar 7,360%, naik dari 6,722% pada lelang terakhir Mei.

Yield tenor sembilan bulan meningkat dari 6,763% menjadi 7,540%. Sementara itu, yield tenor 12 bulan naik dari 6,919% menjadi 7,700%. Secara keseluruhan, yield SRBI meningkat sekitar 63,8-78,1 basis poin dalam sebulan. Kenaikan terbesar terjadi pada tenor 12 bulan yang mencapai 78,1 basis poin.

Namun demikian, pada lelang terbaru 17 Juli 2026, yield SRBI mulai bergerak turun. Yield tenor enam bulan turun menjadi 7,224%, sedangkan tenor sembilan bulan dan 12 bulan masing-masing menjadi 7,420% dan 7,644%. (*)

Berita Terkait

Tren RWA Kripto Melonjak, Transparansi Jadi Kunci Membangun Kepercayaan Investor
Bitcoin Bertahan di Atas US$63.000 Meski Strategy Lepas 3.588 BTC, Investor Pantau ETF dan Risiko Geopolitik
Harga Bitcoin Naik ke Rp1,13 Miliar, Mayoritas Kripto Kompak Menguat
IPO SpaceX, OpenAI, dan Anthropic Ancam Likuiditas Kripto, Investor Berpotensi Alihkan Dana ke Saham AS
Harga Bitcoin Naik Tajam Hari Ini, Sinyal Pembelian dari Michael Saylor Picu Optimisme Pasar
DPR Sahkan Revisi UU P2SK 2026, OJK Resmi Perkuat Pengawasan Aset Kripto dan Bursa Komoditas
Rekomendasi Kripto Hari Ini: VIRTUAL dan ROBO Berpeluang Melonjak, Simak Target Harganya
Bitcoin Turun Tajam Hari Ini? Ini 5 Penyebab Utama yang Membuat Harga BTC Anjlok
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 22 Juli 2026 - 11:13 WIB

BI Agresif Serap Likuiditas, Outstanding SRBI Tembus Rp1.072 Triliun

Selasa, 21 Juli 2026 - 14:52 WIB

Tren RWA Kripto Melonjak, Transparansi Jadi Kunci Membangun Kepercayaan Investor

Rabu, 8 Juli 2026 - 16:54 WIB

Bitcoin Bertahan di Atas US$63.000 Meski Strategy Lepas 3.588 BTC, Investor Pantau ETF dan Risiko Geopolitik

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:45 WIB

Harga Bitcoin Naik ke Rp1,13 Miliar, Mayoritas Kripto Kompak Menguat

Jumat, 12 Juni 2026 - 10:58 WIB

IPO SpaceX, OpenAI, dan Anthropic Ancam Likuiditas Kripto, Investor Berpotensi Alihkan Dana ke Saham AS

Berita Terbaru