Okepost.id – China semakin agresif mempercepat penggunaan truk listrik setelah harga solar melonjak tajam akibat konflik Iran di Timur Tengah.
Lonjakan biaya bahan bakar membuat perusahaan logistik dan transportasi di negara tersebut mulai meninggalkan armada diesel demi kendaraan listrik yang lebih hemat biaya operasional.
Para analis menilai kondisi geopolitik global justru mempercepat transformasi sektor transportasi berat China menuju kendaraan energi baru. Penjualan truk listrik berat pun terus mencatat pertumbuhan signifikan sejak awal 2026.
Data CVWorld.cn menunjukkan penjualan truk berat energi baru di China naik 45 persen secara tahunan menjadi 44.000 unit pada awal tahun ini. Kendaraan listrik kini menguasai lebih dari seperempat pasar truk berat baru di China.
Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang masih berada di bawah 20 persen.
Harga Solar Tinggi Dorong Perusahaan Beralih ke Kendaraan Listrik
Konflik Iran membuat harga energi global melonjak. Dampaknya langsung terasa di China sebagai negara pengimpor minyak terbesar di dunia.
Harga solar eceran di China tercatat naik sekitar 27 persen sejak perang pecah pada Februari 2026. Kenaikan itu membuat biaya operasional kendaraan diesel semakin mahal dan membebani sektor logistik.
Analis senior S&P Global Mobility, Min Ji, menilai kondisi tersebut mempercepat penggantian armada truk konvensional ke kendaraan listrik.
Menurutnya, perusahaan transportasi mulai menghitung ulang efisiensi bisnis mereka karena harga bahan bakar terus meningkat.
“Perang telah mendorong kenaikan harga bahan bakar di dalam negeri China, yang pada akhirnya mempercepat penggantian truk diesel,” ujar Min Ji.
Biaya Operasional Truk Listrik Jauh Lebih Murah
Harga truk listrik berat di China memang masih lebih tinggi dibandingkan versi diesel. Saat ini harga truk listrik mencapai lebih dari 500.000 yuan atau sekitar Rp1,6 miliar.
Sementara itu, truk diesel dijual mulai 300.000 yuan.
Meski demikian, pemerintah China terus memberikan subsidi dan program tukar tambah kendaraan untuk mempercepat elektrifikasi sektor transportasi.
Insentif tersebut mampu memangkas hampir separuh selisih harga pembelian kendaraan listrik dan diesel.
Keuntungan terbesar justru datang dari biaya operasional harian yang jauh lebih rendah.
GL Consulting memperkirakan total biaya kepemilikan truk listrik selama masa penggunaan hingga 1 juta kilometer hanya sekitar setengah dari biaya operasional truk diesel pada harga bahan bakar saat ini.
Biaya pengisian daya yang murah membuat perusahaan logistik mulai melihat kendaraan listrik sebagai investasi jangka panjang yang lebih menguntungkan.
Permintaan Solar China Diprediksi Turun Lebih Cepat
Penggunaan kendaraan listrik secara masif mulai mengubah pola konsumsi energi di China.
Selain mobil penumpang listrik, penggunaan truk listrik dan kendaraan berbahan bakar gas alam cair terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Kondisi itu membuat konsumsi solar dan bensin di China mulai mengalami perlambatan setelah bertumbuh selama puluhan tahun.
GL Consulting memperkirakan konsumsi solar China turun 4,3 persen sepanjang 2026. Proyeksi tersebut lebih besar dibandingkan estimasi sebelum konflik Iran yang hanya memperkirakan penurunan 4,1 persen.
Sementara itu, Rystad Energy memprediksi permintaan solar China turun 5 persen tahun ini atau setara pengurangan sekitar 40.000 barel per hari.
Banyak analis energi kini percaya permintaan minyak China akan mencapai puncaknya lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
Produsen China Mulai Serbu Pasar Eropa
Produsen kendaraan berat asal China juga mulai memperluas pasar ke luar negeri, terutama ke kawasan Eropa.
Menurut International Energy Agency, China menjual sekitar 160.000 truk listrik sepanjang 2024. Jumlah itu jauh melampaui pasar Eropa yang masih berada di bawah 25.000 unit.
Reuters sebelumnya melaporkan sedikitnya 12 produsen China siap memasuki pasar Eropa tahun ini.
Salah satu perusahaan yang agresif melakukan ekspansi ialah Sany.
Perusahaan tersebut menawarkan harga truk listrik hingga sepertiga lebih murah dibandingkan rata-rata produk di pasar Eropa.
Wakil General Manager Sany, Chen Dong, optimistis pasar truk listrik China terus tumbuh sepanjang 2026.
Ia memperkirakan penjualan truk traktor listrik bisa mencapai 250.000 unit atau naik sekitar 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Jarak Tempuh Truk Listrik Semakin Panjang
Saat ini sebagian besar truk listrik berat di China masih beroperasi untuk distribusi jarak pendek.
Rata-rata kendaraan mampu menempuh sekitar 300 kilometer dalam sekali pengisian daya.
Namun perkembangan teknologi baterai terus meningkatkan kemampuan kendaraan listrik.
Beberapa produsen, termasuk Sany, mulai memasarkan truk listrik dengan jarak tempuh hingga 600 kilometer.
Peningkatan kapasitas baterai dan pembangunan jaringan pengisian daya diperkirakan akan semakin mempercepat penggunaan truk listrik di sektor logistik China dalam beberapa tahun ke depan. (Pro)









