Kenapa Harga Plastik Naik Drastis? Ini Biang Keroknya

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 7 April 2026 - 09:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Okepost.id – Kenapa harga plastik naik drastis? Ini biang keroknya. Harga plastik mengalami kenaikan karena pasokan bahan baku terganggu geopolitik di Timur Tengah.

Dikutip dari data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia impor plastik dan barang dari plastik (HS 39) sebesar USD873,2 juta atau setara Rp14,78 triliun (kurs Rp16.927) di Februari 2026. Barang itu dipasok dari berbagai negara.

Impor plastik dan barang dari plastik paling banyak berasal dari China yakni USD380,1 juta pada Februari 2026. Kemudian disusul dari Thailand USD82,7 juta dan dari Korea Selatan (Korsel) USD66,7 juta. Setidaknya 70% nafta di seluruh dunia berasal dari Timur Tengah.

Pasokannya terganggu sejak Iran diserang AS-Israel pada 28 Februari.
Harga bahan baku plastik ini naik hampir 45% dalam satu bulan terakhir.
Per 1 April 2026, harga nafta menyentuh 917 USD/ton dibandingkan Februari sekitar 630 USD/ton. Harga masih sangat dinamis dari hari ke hari.

Baca Juga :  Cara Mengupas Bawang Putih Cepat Tanpa Bau di Tangan, Metode Praktis dan Tips Anti-Bau

Dalam industri petrokimia, nafta menjadi bahan baku berbagai macam bahan kimia, seperti butadiena (sarung tangan karet, dan ban).

Produk turunan lainnya adalah etilena untuk menghasilkan polietilena (botol plastik, kontainer, dan produk rumah tangga lainnya). Dan, propilena (suku cadang otomotif, mainan, kemasan) dan lain-lain.

Meskipun harga BBM domestik masih ditahan pemerintah, biaya produksi sektor industri tetap naik karena bahan baku non-BBM ini tidak dilindungi kebijakan subsidi.

Artinya itu kan enggak bisa disuplai, dan ketersediaannya enggak jelas kapan bisa di tangan kita,” kata Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, Plastik (Inaplas), Fajar Budiono dikutip BBC Indonesia Senin (6/4/2026).

Baca Juga :  Wawako Azhar Hadiri Sosialisasi Merek Kolektif Koperasi Merah Putih

Asosiasi ini memayungi lebih dari 80 industri dan perusahaan yang bergerak pada rantai produksi petrokimia dan plastik. Perusahaan ini berhubungan dengan produk konsumsi rumah tangga seperti kemasan minuman/makanan, kosmetik, elektronik sampai prabotan.

“Kami memang dalam kondisi survival mode (mode bertahan). Artinya kami mempertahankan utilitas [proses produksi] di kondisi minimum untuk mencukupi kebutuhan lokal,” ujar Fajar.

Saat ini, para pengusaha berupaya mencari alternatif sumber nafta lain yaitu Afrika, Asia Tengah dan Amerika Serikat yang sudah kelihatan akan masuk.(*)

Berita Terkait

Pemerintah Kaji Ulang Status PPPK Paruh Waktu, Ini Arah Kebijakan Terbarunya
BKN: PPPK dan PPPK Paruh Waktu Berpeluang Jadi PNS Lewat Seleksi CPNS Resmi
21 Ribu PPPK Paruh Waktu Waswas, Rekrutmen Honorer Baru di Jatim Disorot
Harga Tiket Pesawat Berpotensi Naik 15%, Pemerintah Didorong Pangkas PPN
BI: Cadangan Devisa USD146,2 Miliar Sangat Kuat, Lampaui Standar Kecukupan IMF
Minyakita Langka di Jakarta, Pedagang Ngeluh Stok Sudah Lama Kosong
Aliansi Honorer Non Database BKN Sambut Positif Komitmen Panja RUU ASN Bahas Aspirasi ke MenPANRB
PPPK dan PPPK Paruh Waktu Diminta Tak Panik, BKN Pastikan Tidak Dialihkan Jadi Non-ASN
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 23 Mei 2026 - 14:13 WIB

Pemerintah Kaji Ulang Status PPPK Paruh Waktu, Ini Arah Kebijakan Terbarunya

Jumat, 22 Mei 2026 - 12:23 WIB

BKN: PPPK dan PPPK Paruh Waktu Berpeluang Jadi PNS Lewat Seleksi CPNS Resmi

Rabu, 20 Mei 2026 - 10:54 WIB

21 Ribu PPPK Paruh Waktu Waswas, Rekrutmen Honorer Baru di Jatim Disorot

Selasa, 19 Mei 2026 - 14:52 WIB

Harga Tiket Pesawat Berpotensi Naik 15%, Pemerintah Didorong Pangkas PPN

Selasa, 19 Mei 2026 - 13:48 WIB

BI: Cadangan Devisa USD146,2 Miliar Sangat Kuat, Lampaui Standar Kecukupan IMF

Berita Terbaru

Artikel

3 Resep Tumis Buncis Enak, Cocok Buat Makan Siang Ekonomis

Senin, 25 Mei 2026 - 15:09 WIB