Prudential Indonesia Beberkan Strategi Saat IHSG Anjlok, Pilih Investasi Jangka Panjang dan Sektor Prospektif

Prudential Indonesia tetap mengandalkan aset berfundamental kuat dan strategi diversifikasi untuk menjaga pertumbuhan investasi nasabah.

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 4 Juni 2026 - 14:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Frudential

Frudential

Okepost.id, Jakarta – PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) memilih tetap fokus pada strategi investasi jangka panjang di tengah tekanan yang masih membayangi pasar saham Indonesia.

Perusahaan meyakini pendekatan berbasis fundamental dan diversifikasi portofolio mampu membantu nasabah menghadapi volatilitas pasar yang tinggi.

Chief Financial Officer (CFO) Prudential Indonesia, Adit Trivedi, mengatakan perusahaan saat ini menawarkan berbagai pilihan instrumen investasi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan profil risiko nasabah.

Pilihan tersebut mencakup produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) atau unit link, dana pendapatan tetap, dana global yang berinvestasi di pasar internasional, hingga dana investasi yang berfokus pada aset-aset di Indonesia.

Menurut Adit, Prudential Indonesia terus menyeleksi instrumen investasi dengan mempertimbangkan kekuatan fundamental perusahaan dan prospek pertumbuhan jangka panjang.

“Kami berfokus pada aset-aset yang memiliki fundamental kuat. Selain itu, kami juga mencermati sektor-sektor yang memiliki potensi pertumbuhan berkelanjutan seperti konsumen, kesehatan, dan komunikasi,” ujarnya usai konferensi pers kinerja Prudential Indonesia 2025 di Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Baca Juga :  BPK Soroti Tata Kelola Danantara, Transparansi Laporan Keuangan BUMN Jadi Perhatian

Diversifikasi Jadi Kunci Menghadapi Volatilitas

Adit menegaskan kondisi pasar yang berfluktuasi dalam jangka pendek merupakan hal yang tidak bisa dihindari. Namun, ia menilai investor tidak perlu terlalu reaktif terhadap pergerakan pasar harian.

Sebaliknya, Prudential Indonesia mendorong nasabah untuk membangun portofolio yang terdiversifikasi agar risiko investasi dapat dikelola secara lebih efektif.

Menurutnya, diversifikasi memungkinkan investor memperoleh keseimbangan antara potensi imbal hasil dan tingkat risiko sehingga tujuan keuangan jangka panjang tetap dapat tercapai.

“Melalui portofolio yang terdiversifikasi, nasabah memiliki peluang lebih besar untuk menghadapi gejolak pasar sekaligus memperoleh hasil investasi yang optimal dalam jangka panjang,” katanya.

Aset Investasi Tumbuh Menjadi Rp54,5 Triliun

Di tengah tekanan pasar keuangan, Prudential Indonesia tetap mencatatkan pertumbuhan aset investasi sepanjang 2025.

Total aset investasi perusahaan, termasuk produk PAYDI, mencapai Rp54,5 triliun. Angka tersebut meningkat 6 persen secara tahunan dibandingkan posisi tahun sebelumnya yang sebesar Rp51,3 triliun.

Baca Juga :  Harga BBM Masih Stabil, Ini Rincian Terbaru di SPBU Pertamina hingga Swasta

Peningkatan tersebut menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap produk investasi dan proteksi yang ditawarkan perusahaan masih terjaga meskipun kondisi pasar sedang mengalami ketidakpastian.

IHSG Terjun Bebas pada Perdagangan Hari Ini

Sementara itu, pasar saham Indonesia mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah hingga 4,94 persen pada sesi pertama perdagangan.

IHSG tercatat turun ke level 5.889,48 setelah sebelumnya dibuka pada posisi 6.207,10.

Tekanan jual juga terlihat dari mayoritas saham yang bergerak di zona merah. Sebanyak 752 saham mengalami penurunan, 169 saham bergerak stagnan, dan hanya 38 saham yang berhasil menguat.

Kondisi tersebut mencerminkan tingginya sentimen negatif yang masih membayangi pasar domestik. Meski demikian, sejumlah pelaku industri keuangan tetap melihat peluang investasi jangka panjang pada sektor-sektor yang memiliki fundamental kuat dan prospek bisnis yang berkelanjutan.(Pro)

Berita Terkait

BPJS Kesehatan Hapus Kelas 1, 2, dan 3, Ini Aturan Iuran KRIS Mulai Agustus 2026
Kadin Minta Independensi Bank Indonesia Dijaga, Investor Tunggu Kepastian Gubernur BI Baru
Laba Hutama Karya Lampaui Target Semester I 2026, Jalan Tol Trans Sumatera Jadi Penopang Utama
Harga Beras Naik 6 Bulan Berturut-turut, Inflasi Pangan Mengancam Daya Beli dan Kemiskinan
Taspen Desak PP Turunan UU ASN 2023 Segera Terbit, Jaminan Pensiun PPPK Jadi Sorotan
Rupiah Diprediksi Bergerak di Kisaran Rp17.950–Rp18.050, Sentimen S&P dan The Fed Jadi Sorotan
BPK Soroti Tata Kelola Danantara, Transparansi Laporan Keuangan BUMN Jadi Perhatian
Bulog Minta Maaf Usai Hama Gudang Serbu Permukiman Warga Karawang, Fumigasi dan Fogging Disiapkan
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 18:42 WIB

BPJS Kesehatan Hapus Kelas 1, 2, dan 3, Ini Aturan Iuran KRIS Mulai Agustus 2026

Senin, 27 Juli 2026 - 16:20 WIB

Kadin Minta Independensi Bank Indonesia Dijaga, Investor Tunggu Kepastian Gubernur BI Baru

Rabu, 22 Juli 2026 - 13:03 WIB

Laba Hutama Karya Lampaui Target Semester I 2026, Jalan Tol Trans Sumatera Jadi Penopang Utama

Selasa, 21 Juli 2026 - 09:42 WIB

Harga Beras Naik 6 Bulan Berturut-turut, Inflasi Pangan Mengancam Daya Beli dan Kemiskinan

Jumat, 10 Juli 2026 - 12:20 WIB

Taspen Desak PP Turunan UU ASN 2023 Segera Terbit, Jaminan Pensiun PPPK Jadi Sorotan

Berita Terbaru