Ashmore Ungkap Risiko Terbesar Pasar Saham Indonesia pada 2026

Bursa Saham

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 20 Mei 2026 - 12:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar ilustrasi

Gambar ilustrasi

Okepost.id, Jakarta – Di tengah lesunya kinerja pasar saham domestik, pelaku pasar mulai menerapkan strategi lebih hati-hati sambil tetap mencari peluang akumulasi saham potensial. Pendekatan tersebut juga diterapkan oleh PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk..

Managing Director Ashmore, Arief Wana, mengatakan pihaknya mengadopsi strategi yang menggabungkan sikap waspada dan oportunistis dalam menghadapi pasar saham Indonesia di tengah tingginya ketidakpastian global.

Menurut Arief, tekanan terhadap pasar saham domestik masih cukup besar. Faktor utamanya meliputi lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik, arus keluar dana asing, hingga potensi perlambatan pertumbuhan laba emiten.

“Ada dua filosofi yang kami gunakan saat ini, yaitu cautious dan opportunistic. Jadi saya tidak bisa terlalu optimistis karena situasi global saat ini dipenuhi ketidakpastian,” ujar Arief dalam acara SMBC Indonesia Economic Forum 2026, Selasa (19/5/2026).

Ia menjelaskan harga minyak dunia terus meningkat sejak Februari 2026 akibat konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi berlangsung cukup lama karena adanya perubahan lanskap geopolitik global.

Baca Juga :  IHSG Diprediksi Lanjut Koreksi, Ini Saham Pilihan MNC Sekuritas

Ashmore memperkirakan harga minyak sulit kembali ke kisaran US$50 hingga US$60 per barel dalam waktu dekat. Berdasarkan simulasi perusahaan terhadap sejumlah peristiwa oil shock selama 45 tahun terakhir, normalisasi harga minyak biasanya memerlukan waktu sekitar enam hingga tujuh bulan.

Kenaikan harga minyak dinilai menjadi salah satu risiko terbesar bagi pasar saham Indonesia karena dapat menekan pertumbuhan laba perusahaan. Dalam simulasi Ashmore, pertumbuhan laba emiten atau earnings per share (EPS) pada 2026 berpotensi turun dari proyeksi 12,2 persen menjadi stagnan apabila harga minyak menembus US$100 per barel.

Meski demikian, Arief menilai masih ada peluang investasi di sektor tertentu. Sektor energi dan basic materials diperkirakan mampu memperoleh keuntungan dari kenaikan harga komoditas.

“Dalam situasi seperti ini, kami juga melihat ada peluang yang mampu menghasilkan pertumbuhan EPS lebih tinggi. Sektor energi dan basic materials bisa tumbuh lebih cepat ketika harga minyak naik,” katanya.

Baca Juga :  IHSG Melonjak 1,25 Persen di Awal Perdagangan 12 Juni 2026, BBCA hingga DSSA Pimpin Penguatan

Selain faktor harga minyak, Ashmore juga mencermati tekanan arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia. Arief menyebut keluarnya sejumlah saham dari indeks MSCI turut meningkatkan tekanan terhadap indeks domestik dalam beberapa waktu terakhir.

Walaupun pasar masih bergejolak, Arief menilai rebalancing MSCI justru dapat meningkatkan kredibilitas pasar saham Indonesia di mata investor. Dari sisi valuasi, transparansi, dan tata kelola, pasar modal Indonesia dinilai kini lebih menarik dibandingkan sebelumnya.

Karena itu, Ashmore memilih mengombinasikan strategi jangka pendek yang bersifat teknikal dengan investasi jangka panjang berbasis fundamental.

“Untuk jangka panjang, mungkin ada potensi tertinggal 10% hingga 20%, tetapi outlook fundamentalnya dinilai akan lebih jelas dibandingkan kondisi saat ini,” tutup Arief.(Pro)

Berita Terkait

IHSG Berpotensi Terkoreksi Hari Ini, Analis Rekomendasikan BBRI, BRPT, EMAS, dan EXCL
IHSG Dibuka Menguat ke Level 6.358, Analis Proyeksikan Peluang Naik hingga 6.545
IHSG Diprediksi Menguat Terbatas Hari Ini, Analis Unggulkan 4 Saham Pilihan
MSCI Ubah Aturan Saham EPI, Peluang Masuk Indeks Global Kini Lebih Besar
BEI Perbarui Daftar Saham HSC, Tujuh Saham Bank Masuk dengan Kepemilikan di Atas 90%
Pasar Saham Indonesia Masih Murah, Investor Pilih Wait and See Meski Valuasi Menarik
Prediksi IHSG Pekan Depan: Berpeluang Menguat Terbatas, Ini Rekomendasi Saham ARCI, BMRI, PGAS, ELSA, dan TAPG
IHSG Dibuka Menguat ke 5.963,83, Saham BBCA, BBRI, dan BRPT Pimpin Kenaikan
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 08:48 WIB

IHSG Berpotensi Terkoreksi Hari Ini, Analis Rekomendasikan BBRI, BRPT, EMAS, dan EXCL

Kamis, 23 Juli 2026 - 11:25 WIB

IHSG Dibuka Menguat ke Level 6.358, Analis Proyeksikan Peluang Naik hingga 6.545

Selasa, 21 Juli 2026 - 08:51 WIB

IHSG Diprediksi Menguat Terbatas Hari Ini, Analis Unggulkan 4 Saham Pilihan

Jumat, 17 Juli 2026 - 11:33 WIB

MSCI Ubah Aturan Saham EPI, Peluang Masuk Indeks Global Kini Lebih Besar

Rabu, 15 Juli 2026 - 13:13 WIB

BEI Perbarui Daftar Saham HSC, Tujuh Saham Bank Masuk dengan Kepemilikan di Atas 90%

Berita Terbaru

Teknologi

Meluncur Agustus 2026, Harga Google Pixel 11 Dikabarkan Naik

Minggu, 26 Jul 2026 - 13:55 WIB